Part 19

796 91 38
                                        

Aku disini memandang keindahan senja tanpamu
Namun lagi-lagi otak warasku menyoraki kebodohan hati yang selalu menyebutkan nama mu
Tak bisakah sekejap saja kau lenyap dalam pikiranku
Aku tersiksa namun ku tak bisa berpaling darimu

-----

Dirra memejamkan matanya namun seketika ia kembali membuka matanya lebar-lebar, otaknya tak bisa ia ajak tidur pikirannya melanglang buana namun tubuhnya terasa amat lelah.

Dirra melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02:09 malam.

"Huffhhh,,," Lagi-lagi gadis itu menghembuskan napas beratnya.

Dengan malas Dirra beranjak dari ranjang lalu keluar kamar ia menyeret kakinya menuju dapur. Ingin sekali ia menyelinap masuk ke kamar ibunya namun pastinya kamar ibunya terkunci.

Dirra membuka kulkas lalu mengambil kue buatan ibunya, ia taruh di atas meja makan lalu kembali mengambil segelas susu berharap usahanya bisa membuatnya mengantuk.

Hanya butuh beberapa menit saja Dirra sudah menghabiskan semuanya, gadis itu menatap hampa ke arah gelas kosong lalu mendengus sebal sebelum meletakkan kepalanya di atas meja.

"Kosong, seperti hatiku." Tatapan Dirra tak lepas dari gelas kosong tadi namun perlahan-lahan matanya terpejam dan terlelap di atas meja makan.

Selang beberapa menit kemudian Dirra merasakan tubuhnya melayang namun ia nyaman dengan posisinya sampai enggan untuk membuka matanya sekedar melihat siapa gerangan yang membopongnya.

Duukk...

Dengan keras, kepala Dirra terbentur pintu membuat gadis itu mengaduh kesakitan lalu menatap garang orang yang sudah berani menjedotkan kepalanya namun seketika ia urungkan niatnya untuk mengumpat.

"Sakit yah,," Keluhnya yang hanya di balas cengiran tak bersalah dari Dirga.

Menyebalkan memang namun Dirra tak bisa membalasnya walau bagaimanapun ayahnya adalah sosok penyayang.

Dirga meletakkan Dirra di ranjang namun gadis itu enggan melepaskan tangannya dari leher sang ayah.

"Aku mau tidur sama bubu." Sontak Dirga menggeleng kuat menandakan jika ia tak setuju.

"Yah, Dirra gak bisa tidur biarkan Dirra tidur sama ibu hmm,," Pintanya dengan wajah memelas namun Dirga kembali menggeleng.

Dirra melepaskan tangannya dari leher Dirga dengan lemah. Dirga tersenyum manis lalu menyelimuti Dirra sebelum keluar ia sempatkan mencium kening putrinya.

"Selamat tidur putrinya ayah." Ucapnya lembut lalu kembali mencium kening Dirra.

Dirra mendengus kesal namun otak pintarnya belum menyerah begitu saja saat Dirga akan keluar kamar, Dirra beranjak dari ranjang lalu berlari mendahului Dirga ke kamar ibunya.

"Astaga, anak ini." Dirga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya, perasaan dirinya dulu tidak seperti ini.

Dirra menghampiri sang ibu yang sedang tidur pulas lalu berbaring di sebelahnya. Dirra memeluk perut buncit ibunya kemudian perlahan-lahan mengelusnya di dalam sana sepertinya adik-adiknya bahagia merasakan belaian lembut tangannya namun berhasil membuat Aisyah terusik lalu terbangun karena pergerakan di perutnya.

Dear DirraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang