Part 21

978 88 27
                                        

Senja sudah menampakkan keindahannya begitupun dengan gadis yang sedari tadi tersenyum lebar menatap hasil karyanya yang siapa pun takkan menyangka jika itu perbuatannya.

"Hebat banget sih gue,," Pujinya pada diri sendiri yang di sambut tepukkan tangan dari adik kembarnya.

"Siapa yang terhebat disini?" Tanyanya yang langsung di jawab dari si kembar.

"Kakak dong." Kata si kembar dengan kompak.

"Siapa yang jagoan disini?" Tanyanya lagi.

"Ya jelas kakak dong." Sorak mereka meski dengan nada terpaksa.

Mendengar jawaban adik kembarnya membuat Dirra memasang wajah bangga, ia bangga pada dirinya sendiri.

Dirra tertawa renyah lalu berbalik mendekati adik-adiknya yang berjalan di belakang. Dirra mencium pipi adik-adiknya dengan cengengesan membuat si kembar mendengus keberatan namun tidak dengan Ben yang sedari tadi hanya diam nampak dengan jelas jika ia sedang kesal.

"Berhenti cium aku kak, aku sudah gede, malu." Ucap Davian.

"Seharusnya kamu bersyukur dapat ciuman dari bibir suci aku." Ucapnya dengan nada jail seraya mengedipkan satu matanya ke arah si kembar.

Sesampainya di villa Dirra menghentikan langkah ke tiga bocah dewasa itu. Gadis itu kembali memasang wajah galaknya menatap satu persatu yang ada di hadapannya seperti guru yang sedang menghukum muridnya.

"Denger yah kalau di tanya jangan bilang yang lakuin itu gue, awas saja kalau di antara kalian ada yang berkhianat." Dirra menjeda ucapannya lalu mengarahkan tangannya ke arah leher seakan memotongnya.
"Ingat itu." Ancamnya.

Baru saja mengucapkan itu Dirra di kagetkan dengan suara pria yang begitu merdu menyapa telinganya siapa lagi pemiliknya jika bukan si om tua tampan pujaan hatinya.

"Kalian sedang apa?" Davi menatapnya satu persatu lalu matanya melotot ke arah Ben.

"Lah itu kenapa Ben, bisa-bisanya kamu bonyok gitu, siapa yang lakuin itu?" Tanyanya penasaran muka Davi nampak bingung karena di sekitar sini cukup aman.

Dirra menatap tajam Ben dengan mulut komat kamit tanpa suara membuat Ben tersenyum sinis ke arah gadisnya.

"Mmmm,,," Ben pura-pura berpikir untuk menjawab pertanyaan Davi.

"Tadi a___________" Belum sempat Ben mengucapkan apa yang ingin ia katakan Ben merasakan tarikan di kerah bajunya membuatnya terkejut lalu menoleh ke samping dan benar saja singa betina itu sedang menatap dirinya dengan mata seakan ingin memangsanya.

Sebelum membawa Ben masuk Dirra melirik kedua adiknya lalu dengan mata seakan memperingati adik-adiknya agar tidak membuka suara lalu melanjutkan langkahnya dengan masih menarik kerah Ben dengan kasar.

"Dinda sayang kenapa tarik-tarik sih kayak kambing aja." Ucapan Ben tak di hiraukan Dirra.

Dirra berhenti tepat di pintu kamar kedua orangtuanya lalu mengetuknya dengan penuh kehati-hatian sesekali telinga gadis itu di tempelkan ke pintu karena sedari tadi tak ada suara dari dalam.

"Yah, Yayah,,," Panggilnya namun masih belum ada sahutan di dalam kamar.

"Kenapa kamu bawa aku kesini sih lebih baik kita pergi yuk?" Ajak Ben, ia merasa tak enak dengan Dirga namun hanya dapat dengusan kasar dari Dirra.

Tok tok tok,,,,,

"YAH,,, GAWAAATTT,,,, ADA KORBAN TABRAK LARI KALAU GAK SEGERA DI TOLONG BISA MATI NIH ANAK ORANG." Teriaknya yang langsung dapat jitakan dari Ben.

Dear DirraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang