Safety Net | Part 8 - Play Pretend

16K 932 120
                                        

Jangan lupa vote dan komen yaa❤️❤️






I'd give my life up for you, cause you are my dream

—Chris Brown ft. Justin Bieber, Next to You










"BENAR-BENAR anak brengsek!"

Suara umpatan sang Nyonya besar rumah itu menggema keras. Dua orang pria yang berada di ruangan itu hanya dapat menghela napas, membiarkan kemarahan wanita yang mereka cintai mereda. Sebenarnya, mereka berdua sedikit takut jika darah tinggi wanita itu kumat karena marah-marah.

  "Dante! Kenapa diam saja?! Mama bicara kepadamu, brengsek!"

  "Mama mengumpat, bukan berbicara," balas Dante ikutkan kesal. Bagaimana dia tidak brengsek jika Ibunya sendiri berkata begitu?

"Maksudnya, oh God! Mama tidak mengerti. Bahkan saat keadaanmu seperti ini, kamu masih—"

Karena enggan menatap Ibunya, Dante beralih menatap Ayahnya untuk meminta bantuan. Berbanding terbalik dengan Grace yang menggebu-gebu, Damian mengibaskan tangannya dan pura-pura membaca email di Ipad-nya.

"Papa!" sentak Grace pada suaminya.

"Kenapa lagi, sayang? Aku tidak melakukan apa-apa," balas Damian refleks.

"Bahkan di saat seperti ini, kamu masih mementingkan pekerjaan?" Grace mendengus pelan ketika melihat Damian melepaskan pegangannya pada iPad hingga barang elektronik itu terjatuh ke lantai. "Beruntung Satria memberi tahu Mama jika perawat itu memaksa untuk membantumu mandi. Sejak awal, tatapannya padamu memang tidak beres," lanjutnya, mulai mengeluarkan spekulasi-spekulasi yang ada dipikirannya. Setelah memergoki Dante dilecehkan oleh Raisa, dia langsung memecat perawat baru itu secara tidak hormat.

  "Kalau begitu, semua itu bukan salahku? Lagipula, aku tidak bisa merasakan sentuhannya," ujar Dante, berusaha membela dirinya sendiri.

  "Sayang, setelah aku pikirkan baik-baik, Dante memang korban disini. Dia tidak bisa kabur karena keadaannya seperti itu," ujar Damian bijak.

  "Sebenarnya, Mama yang salah," tembak Dante berani tanpa menghiraukan tatapan tajam Ibunya dan helaan napas Ayahnya. "Mama yang memilih perawat itu."

  "Tapi, Mama tidak tahu jika perawat itu sangat agresif kepadamu, Dante," ucap Damian yang langsung membela istrinya.

  "Bagaimana lagi? Semua wanita sangat agresif kepadaku," ujar Dante dengan nada menyebalkan.

"Kamu ini benar-benar—" Grace bersiap melemparkan bantal ke tubuh putranya, namun lagi-lagi di tahan oleh Damian.

"Sudahlah, lebih baik kamu mencari perawat baru lagi untuk Dante," potong Damian sambil memungut kembali iPad yang tadi dia jatuhkan.

"Sebenarnya Papa membela siapa?!"

"Sebenarnya kamu membela siapa?!"

Suara bentakan Dante dan Grace yang hampir bersamaan berhasil membuat Damian kembali menjatuhkan iPad-nya. Pria itu menghela napasnya lagi, entah sudah keberapa kalinya dia menghela napas hari ini. Sungguh, ia sangat senang karena memiliki keluarga yang hangat dan ramai. Tapi jika terus seperti ini, kesehatan jantungnya akan terancam.

"Papa membela kebenaran," jawab Damian dengan senyuman tertahan.

Grace mendengus pelan, "Baiklah. Mama sudah menemukan seorang perawat yang tidak akan menyukaimu, Dante," ujarnya sombong.

  "Buktikan saja. Tidak ada wanita yang tidak menyukaiku," ucap Dante, sesuai dengan kenyataan. Hanya ada dua perempuan yang tidak menyukainya, yaitu Rena dan Ibunya.

Safety NetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang