"Kau tak mengerti," ujar Hinata. Berat dan dalam.
Sasuke menyeruput lagi kopi di cangkir yang kian lama kian dingin. Ia tak boleh menyerah. Pasti ada sebuah alasan yang membuat wanita ini berkata demikian. Dari pengalaman Sasuke berkelibat dengan dunia investasi, lelaki itu telah begitu lihai membedakan ucapan jujur dan bohong, serta ucapan spontan dan dipaksakan.
Ada sesuatu yang memaksa Hinata tak mengakui Sasuke sebagai ayah dari anak di rahimnya. Sesuatu yang belum Sasuke ketahui.
Tiba-tiba saja ponsel lelaki itu berbunyi. Jiraiya, nama polisi senior muncul di layar. Jelas Sasuke tak bisa menolak panggilan itu.
"Sebentar."
Tanpa menunggu persetujuan Hinata, Sasuke berjalan menuju toilet. Lelaki itu memastikan pintu terkunci dan mengangkat telpon.
"Lama sekali, Sasuke!" suara serak khas Jiraiya menyapanya dengan keluhan yang terkesan menyebalkan.
"Kalau ini tak penting aku akan potong gajimu sampai dua bulan," ujar Sasuke.
"Mayat baru ditemukan. Lokasinya dekat dengan kasus sebelumnya. Korbannya juga sama-sama perempuan berambut hitam panjang. Ada kecurigaan ini pembunuhan berantai. Kau harus kembali ke kantor sekarang Pak Kepala," lapor Jiraiya
Lokasi dekat kasus kemarin? Kalau Sasuke tak salah ingat, lokasinya cukup dengan SMA Bakti.
"Aku segera ke sana," Sasuke memutuskan panggilan.
Kasus kemarin memang telah cukup menyita perhatian Polisi Konoha. Dengan tambahan hari ini, total sudah ada 3 korban nyawa. Tidak heran kalau kasus ini dicurigai sebagai kasus pembunuhan berantai.
Dengan langkah besar dan lekas Sasuke kembali menuju tempat duduk di mana Hinata menunggu dengan wajah kesal.
"Aku harus kembali ke kantor," ujar Sasuke.
"Tentu. Aku juga ingin pulang," jawab Hinata. Perempuan itu memasukkan ponsel dan mengeluarkan dompetnya dalam tas.
"Tapi pembicaraan kita belum selesai," lanjut Sasuke. Kening Hinata berkerut. "Maksudmu?"
"Berikan aku nomor hpmu," ujar Sasuke.
"Tidak perlu. Toh, kita tak akan jumpa lagi, kan?"
Sasuke jelas tak senang dengan jawaban itu. Mereka akan menikah. Tentu mereka akan jumpa lagi.
"Maaf aku tak punya waktu banyak. Ini kartu namaku. Tolong hubungi aku secepatnya."
Hinata membiarkan Sasuke menyelipkan kartu nama persegi berwarna hitam ke tangannya. Lelaki itu memandangi Hinata, seolah ia adalah lelaki yang tengah jatuh cinta. Hinata bingung. Kenapa?
"Aku tunggu kau di kafe teacoffee hari Minggu jam 4 sore. Kau harus datang. Aku akan menunggumu sampai kau datang."
Sasuke pamit. Berlari ke arah pintu keluar.
"Ah, satu lagi. Jangan keluar malam sendirian!" lelaki itu berseru.
Hinata masih duduk di kursi itu ditemani secangkir kopi dan segelas milkshake yang hampir habis. Di kartu nama itu tercetak tulisan Uchiha Sasuke, diiringi keterangan "Kepala Kepolisian Konoha" serta nomor yang bisa dihubungi.
Hinata tertawa hambar. Dia tidur dengan Kepala Kepolisian Konoha. Opsi tuntutan hukum yang sempat ingin ia jadikan ancaman sepertinya tidak akan berhasil. Bagaimana cara menuntut kepala polisi? Haha. Hinata tak mau berangan-angan.
Untuk jaga-jaga, hanya untuk jaga-jaga, Hinata menyimpan kartu nama itu di tasnya.
Siapa tahu ia butuh nomor polisi nanti kan?
.
.
.
Hinata diam sepanjang perjalanan pulang.
YOU ARE READING
Yours
FanfictionHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
