Hinata jenuh melihat ikan koi di kolam. Ikan itu hanya diam, sesekali berenang memutar, lalu diam lagi. Barangkali karena kolam itu begitu sempit.
"Apa yang kau pikirkan, Hyuuga Hinata?"
Suara lelaki paruh baya di hadapannya membuat Hinata tersentak. Ayahnya terlihat tak senang akan ekspresi Hinata yang begitu mudah dibaca. Menyembunyikan ekspresi seharusnya menjadi tameng pertama setiap keluarga inti Hyuuga, termasuk anak 10 tahun di hadapannya.
"Aku tidak sedang memikirkan apa pun, Ayah," jawab Hinata.
"Ayah memanggilmu ke sini karena ada orang yang ingin ayah kenalkan padamu."
Bersamaan dengan itu, pintu terbuka. Seorang pelayan mempersilahkan masuk seorang anak laki-laki yang tampak lebih tua dari Hinata dan seorang anak perempuan yang lebih muda dari Hinata. Di belakang mereka berdua, seorang perempuan dewasa dengan kimono merah menyala berjalan mengikuti.
"Mereka adalah ibu dan saudaramu, Hinata."
Hinata melihat sosok yang dikatakan Hyuuga Hiashi sebagai ibu. Dia seorang perempuan berambut coklat dan iris mata coklat. Dua anak yang Hiashi katakan saudara, terlihat memiliki rambut kecoklatan seperti ibu mereka.
Lalu, dari mana mata keperakan itu? Hanya keluarga Hyuuga yang memiliki mata keperakan seperti itu. Dari mana mereka mendapat darah Hyuuga?
"Mereka saudara tirimu. Mereka membawa darahku sebagaimana kamu membawa darahku. Perlakukan mereka dengan baik."
Sinar di mata bocah 10 tahun itu memudar. Ia telah cukup besar untuk paham bahwa ayahnya memiliki cinta lain selain ibunya. Seorang perempuan yang melahirkan dua orang anak, satu lebih tua dan satu lebih muda dari Hinata.
"Baik, Ayah," jawab Hinata sekenanya.
.
.
.
Hinata menyeka wajahnya setelah berkali-kali membasuh dengan air dingin. Sudah lama sekali semenjak Hinata memimpikan masa kecilnya. Barangkali percakapan tentang pulang ke kediaman Hyuuga mempengaruhinya bahkan sampai ke alam bawah sadar.
"Kau sudah bangun?" tanya Tenten. Perempuan itu tampak masih megantuk.
"Aku kaget sekali saat Neji mengantarmu tadi malam dengan wajah seputih kapas. Kalau kau ingin libur hari ini, aku bisa mengizinkanmu ke kepala sekolah," lanjut Tenten.
Perempuan cepol itu memeluk Hinata dari belakang. Hinata menyandarkan kepalanya ke kepala Tenten. Ia bersyukur memiliki seorang sahabat seperti Tenten.
"Kau benar, Tenten. Kurasa aku belum bisa masuk hari ini."
"Benar, libur saja dulu. Tonton drama, makan cemilan, lakukan apa saja yang kau suka di sini ya! Aku siap-siap dulu untuk berangkat sekolah."
Tenten menyudahi pelukannya. Ia mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Suara air terdengar. Hinata mengamati lagi dirinya di depan cermin.
"Kau kuat, Hinata. Kau bisa melewati ini semua," ucap Hinata pada dirinya sendiri.
.
.
.
Sesaat setelah mobil yang pergi membawa perempuan beriris perak, Naruto kembali menemukan sosok Sasuke yang dingin dan tegas. Inilah sosok Kepala Kepolisian Konoha yang ia kenal selama ini. Dingin, perhitungan, dan cermat.
"Tidak ada bukti fisik yang ditemukan. Bahkan tidak ada sidik jari dan rambut," lapor salah seorang penyidik.
"Sepertinya dia sudah matang merencanakan ini," komentar Konohamaru.
"Sudah ada beberapa wartawan yang meminta izin liputan," lapor Kakashi.
"Biarkan wartawan masuk. Kita coba menekan balik pembunuh via media," perintah Sasuke.
YOU ARE READING
Yours
FanfictionHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
