Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir, kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.
Saat kutipan itu muncul di salah satu buku yang Hinata baca, ia langsung memikirkan keluarganya.
Hiashi menikah dengan ibunya. Pernikahan yang tidak dikehendaki keduanya. Perjodohan khas klan Hyuuga.
Hinata kecil tidak mengerti apa itu perjodohan. Sebelum mempunyai teman sebaya, ia pikir ia sama saja seperti anak kecil lainnya. Memang semua ayah dan ibu bertengkar. Memang semua ayah memukul anak dan istrinya. Memang semua ibu menyampaikan ungkapan benci pada sang suami lewat anaknya. Dulu Hinata pikir ini normal, makanya ia tidak merasa dirinya menyedihkan.
Barulah semasa sekolah, Hinata menyadari bahwa keluarganya tidak seperti keluarga kebanyakan. Tidak seperti gambaran keluarga bahagia yang ada di buku-buku teks. Dimana sang ayah giat bekerja, pulang dengan senyuman hangat, membawa makanan atau mainan kesukaan, dan disambut oleh senyuman yang sama hangat dengan makanan di meja. Apa yang ditulis di buku teks, indah sekali. Indah, meski tak sama dengan kehidupannya.
Buku-buku mulai membuat Hinata candu. Ia menemukan orang-orang yang lebih bahagia darinya. Juga orang-orang yang lebih menderita. Ia terkagum-kagum pada kata yang ia baca, hanyut, dan tanpa ia sadari mulai menghisapnya pada hobi baru: membaca.
Hinata kecil hobi membaca. Ia membaca apa saja yang bisa ia temui. Koran di atas meja pagi ayahnya, tulisan di baliho badan jalan, plang-plang toko, buku bergambar, komik, juga surat cerai di atas nakas kamar orang tuanya. Gadis kecil itu baru 7 tahun waktu itu.
Meski demikian, surat cerai itu tak berarti apa pun. Mereka masih tinggal serumah di kediaman utama Hyuuga. Mereka masih bertengkar. Mereka juga masih bersikap seperti biasa.
Setelah ibunya meninggal, barulah Hinata sadar bahwa segala sesuatu dalam hidupnya kacau sejak awal. Hiashi membawa seorang wanita cantik ke kediaman Hyuuga, hanya satu hari setelah pemakaman ibu Hinata. Hiashi menyuruhnya memanggil perempuan itu ibu, anak lelaki di sampingnya kakak, dan anak perempuan yang satunya adik.
Tidak seperti cerita cinderella yang Hinata baca, ibu tiri dan saudara tirinya jauh dari kata jahat. Mereka tinggal di kediaman Hyuuga dengan tenang. Tidak menyakiti siapa pun meskipun Hinata mendengar para pelayan berbisik menyebut ibu tirinya jalang.
Mereka tidak jahat, tapi Hinata tidak punya niatan mengakrabkan diri. Ia minta disekolahkan ke sekolah berasrama. 6 tahun berturut-turut ia hanya pulang di liburan musim panas dan musim dingin. Itu pun hanya sehari di rumah utama, selebihnya Hinata habiskan di villa Hyuuga.
Hyuuga Neji digamang menjadi ahli waris perusahaan. Dia lelaki yang cakap, cerdas, ambisius, dan tampan sebagai nilai tambah. Hinata bisa bernafas lega karena ia terbebas dari tuntutan menjadi ahli waris yang sempurna. Hiashi mengizinkannya mengambil jurusan sastra, meskipun tetap bersikeras agar Hinata kembali tinggal di rumah utama.
Neji membungkukkan badan, meminta maaf. "Aku yakin dalam ceritamu, kamilah orang jahatnya. Kami datang sebagai orang ketiga. Tiba-tiba masuk kedalam hidupmu sebagai saudara tiri dan ibu tiri. Meskipun dari umur kita sudah ketahuan siapa yang duluan berhubungan dengan ayah," ujar Neji.
Mereka duduk berdua di sebuah kedai kopi selepas ia membantu Hinata pindahan ke apartemen tempatnya akan tinggal selama kuliah. Neji, secara ajaib, menjadi lebih akrab dengan Hinata ketimbang ayah mereka.
"Aku tidak merasa kau merebut apa pun dariku. Karena dari awal, cinta ayah memang untuk ibumu. Ibuku yang datang menjadi penjahat. Menikahi ayah meskipun ada perempuan lain yang ada di hatinya. Aku yang merebut kebahagiaan kalian."
Mata Neji basah. Ia tak suka Hinata menyalahkan dirinya.
"Ini bukan salah kita," tegas Hinata.
Neji masih bisa melihat luka yang menganga dari iris mata sang adik. Ia tahu bahwa Hinata hanya sedang berusaha menjadi kuat. Hal ini membuat Neji makin merasa bersalah.
YOU ARE READING
Yours
FanfictionHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
