19. Kencan

1.4K 209 8
                                        

Hinata tertidur sepanjang perjalanan. Saat ia terjaga, pemandangan telah berubah drastis. Tak seperti pemandangan kota dengan kesibukan dan lalu lalang, kini mobil mereka melaju di jalanan sepi dengan pemandangan asri penuh pepohonan.

Hinata mengintip jam tangannya. Pukul 8 malam. Sudah hampir 2 jam perjalanan dari Konoha.

"Bukannya ada pemberlakuan jam malam?" tanya Hinata dengan suara serak.

Ia benar-benar terkejut saat Sasuke menjelaskan bahwa mereka akan menikmati liburan 2 hari di pedesaan. Sasuke bahkan telah menyiapkan semuanya. Mulai dari pakaian, tempat menginap, hingga izin ke sekolah. Mengingat latar belakang keluarga yang Sasuke miliki, Hinata tidak heran betapa mudahnya ia mengatur ini semua.

"Di sini aman. Kita bisa istirahat," jawab Sasuke.

Istirahat. Kata yang tak Hinata sangka akan terasa begitu menyejukkan. Istirahat dari rutinitas. Istirahat dari kekacauan. Istirahat dari segala hal yang akhir-akhir ini menyesakkan dadanya.

Tak lama, mobil mereka berhenti di sebuah rumah kayu dua tingkat. Sasuke bilang ini vila keluarga. Kedatangan mereka disambut sepasang suami istri cukup berumur yang Sasuke sebut sebagai penjaga vila.

"Selamat datang tuan muda dan nona muda," sambut mereka ramah.

Hinata membalas salam itu. Ibu penjaga vila langsung menuntun Hinata dan Sasuke masuk, meninggalkan sang suami mengurusi koper.

Meski berbahan dasar kayu, vila itu jauh dari kata sederhana. Bahkan ornamen dan perabotan yang ada menambahkan kesan mewah dan elegan.

"Ibu sudah membuatkan teh. Mari," Ibu penjaga vila menuntun keduanya ke teras yang menghadap langsung menghadap bukit.

Udara malam yang dingin tak membuat Hinata surut. Ia justru terpukau dengan kilat cahaya lampu kota yang dari sini terlihat seperti kunang-kunang. Untunglah cuaca tengah cerah. Tidak ada kabut yang menghalangi mereka menikmati pemandangan dari ketinggian.

Sasuke menyampirkan selimut tipis yang sudah disediakan ibu penjaga vila ke pundak Hinata. Meski tak memakai baju terbuka, Sasuke tetap tak ingin perempuan itu kedinginan. Ia memegang kedua pundak Hinata, mengarahkan sang Hyuuga untuk duduk di kursi panjang yang terbuat dari rotan.

"Kau sering ke sini?" tanya Hinata. Kedua tangannya memegang cangkir teh yang mengebul.

"Dulu," jawab Sasuke singkat. Ia ikut mengambil teh di meja dan duduk tepat di sebelah Hinata.

Hinata tak bertanya lagi. Sasuke pun tak berkata apa pun. Keduanya menikmati senyap yang ada. Tak ada kata. Hanya gerak tubuh yang kian lama kian nyata.

Bahu keduanya saling lekat dalam kenyamanan yang hangat. Hinata tak segan lagi menyandarkan kepalanya ke bahu Sasuke. Jemari mereka tertaut. Detak jantung mereka saling sahut.

"Seandainya kita berjumpa lebih awal sebelum melakukannya saat mabuk malam itu," desah Hinata refleks, tak menyangka ucapannya akan berimbas besar pada Sasuke di kemudian hari.
.
.
.
Kamar suami istri penjaga vila berada di lantai satu dekat dapur. Meski sangat dekat dengan kamar Sasuke dan Hinata, tak membuat Hinata berani melangkahkan kaki ke sana saat hampir tengah malam.

"Tidur saja, Hinata."

"Tapi, kenapa hanya ada satu ranjang?"

"Okaa-san mungkin yang menyuruh penjaga vila hanya menyiapkan satu kamar untuk kita."

Hinta menghela nafas panjang. Ia tak menyangka akan sekamar lagi dengan Sasuke. Hatinya belum siap. Hinata belum siap.

"Aku bisa tidur di sofa kalau kau tak nyaman," Sasuke menawarkan diri. Bagaimana pun bungsu Uchiha itu tahu bahwa ia tak bisa memaksakan Hinata. Ia harus sabar. Ketergesaan hanya akan membuat Hinata kembali lari darinya.

"Jangan. Kita cuma ada satu selimut. Di sini dingin," tegah Hinata sungkan.

"Lalu?"

Hinata terlihat menggigit bibirnya, berpikir. Salah satu dari kebiasaan Hinata yang cukup membuat Sasuke khawatir.

"Kita tidur bersama saja hari ini. Besok kita bisa minta siapkan kamar terpisah," ujar Hinata. Ia merasa tak punya pilihan lain.

Sasuke mengangguk. Ia pamit ke kamar mandi untuk ganti baju. Lelaki itu mengutuk dirinya sendiri. Dasar hormon! Semoga dia bisa menahan diri.

Di sisi lain, Hinata tak kalah sibuk menenangkan diri. Dia tengah hamil. Sasuke tidak mungkin melakukan hal macam-macam padanya kan? Tapi kata dokter boleh melakukan hubungan intim saat hamil. Aduh! Hinata mengutuki dirinya yang berpikiran seperti itu.

Tanpa menunggu waktu lama, Hinata bergegas mengganti baju dengan piyama lengan panjang dan celana panjang. Perempuan itu segera naik ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, menyisakan kepalanya yang tak henti menatap pintu kamar mandi.

Sasuke keluar kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih tenang. Ia terlihat biasa saja. Hinata jadi malu karena merasa hanya dia yang membesar-besarkan soal mereka tidur sekamar bahkan seranjang.

Lelaki itu ikut naik ke tempat tidur, merebahkan badannya di sisi tepi yang berlawanan dari Hinata.

"Apa ini terlalu dekat?" tanya Sasuke.

Hinata menggeleng. Bahkan, kalau boleh jujur, jarak mereka terlalu jauh. Tapi Hinata tidak lagi bicara apa pun. Mereka saling bertempur dengan pikiran di kepala masing-masing, hingga kemudian tidak sadar tertidur, dan tidak sadar sudah saling merangkul untuk menemukan kehangatan dalam diri masing-masing.
.
.
.
Pedesaan yang mereka kunjungi berada di kaki bukit. Udara relatif lebih dingin ketimbang pusat kota Konoha. Lebih banyak tumbuhan di sini. Kemana pun mata memandang, terlihat pemandangan hijau disertai penduduk desa yang sibuk berladang.

Hinata mengenakan rok plisket coklat muda dengan atasan sweeter warna senada. Di sebelahnya, Sasuke tampak jauh lebih santai dengan celana cargo dan kaus oblong.

Hari pertama di liburan singkat ini, Sasuke mengajak Hinata mengunjungi danau. Lokasinya tidak jauh dari vila. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit.

Air danau berwarna biru, keemasan ditimpa cahaya matahari pagi. Hinata menghirup udara segar dengan hati gembira. Di kursi panjang yang berada di sekeliling danau, Sasuke telah meletakkan keranjang bekal mereka.

"Aku belum lapar," ujar Hinata saat Sasuke memanggilnya. Ia masih sibuk mengamati tepi danau yang tenang.

"Kita janji akan makan sesampainya di sini, hm," ingat Sasuke.

Hinata menurut. Dia ikut duduk di kursi panjang itu. Mengambil sebuah sandwich dari keranjang dan mulai memakannya lahap. Sasuke tersenyum mengamati suasana yang tak lagi canggung antarmereka.

Saat merasa perutnya telah cukup kenyang, Hinata beranjak menuju tepian danau yang dangkal. Ia mengangkat roknya sebatas betis, membiarkan kakinya bermain dengan air.

"Dingin?" tanya Sasuke. Kakinya ikut masuk ke dalam air danau tanpa benar-benar menunggu jawaban. Hinata hanya terkekeh.

Cipratan air kian tinggi saat Hinata menghentakkan kakinya. Perempuan itu tertawa lepas melihat Sasuke yang cemberut terkena air danau. Terlebih saat melihat rambut Sasuke yang biasanya tegak kian menunduk karena terkena air.

Sasuke balas iseng. Dia menarik perempuan itu masuk ke danau, pura-pura terjatuh. Keduanya basah kuyup, di tepi danau dengan air yang kian waktu kian hangat. Entah karena matahari yang makin tinggi, atau karena kedekatan mereka.

Ada sesuatu di wajah Hinata yang memaksa sang lelaki untuk mendekat. Mata mereka sayu, menemukan ketertarikan luar biasa pada iris masing-masing.

Tanpa bau alkohol. Tanpa unsur kesengajaan. Kali ini, dengan sadar, mereka berbagi ciuman. Ciuman yang membuat ratusan kupu-kupu seolah berterbangan di perut mereka.
.
.
.
To be continued

Selamat akhir pekan. Semoga kita semua bisa menemukan kebahagiaan tanpa harus pura-pura. 😘

YoursWhere stories live. Discover now