Hinata tahu kalau Sasuke sama sekali tidak menyalahkannya dan begitu pula sebaliknya.
Jelas Hinata membenci Sasori. Jelas ia marah. Latar belakang menyedihkan yang membuat Sasori melakukan hal jahat tidak bisa membenarkan perbuatannya. Sasori tak hanya membuatnya dan Sasuke menanggung luka fisik, namun juga harus menanggung luka batin yang sampai kini masih menghantui.
Mereka bahkan tak bisa melihat rupa anak pertama yang dinanti-nanti. Mereka belum memberi nama namun sang buah hati telah lebih dulu berkalang tanah dengan nisan tanpa nama.
Hinata menanti Sasuke menyebutkan nama untuknya. Namun sampai dengan hari ini, nisan itu tetap bertuliskan "Putri Uchiha Sasuke dan Hinata." Hinata mendesak, namun Sasuke seolah tetap tak mau. Seolah Sasuke sama sekali tak mau lagi mengingat dan mengurusi almarhum putri mereka.
Sepasang dua pasang baju bayi yang sebelumnya Hinata beli karena tak sabar melihat anaknya tampil lucu memanggil air matanya tiap kali terlihat. Sasuke berinisiatif memasukkan baju itu ke tas dan meletakkannya di kepala lemari agar jarang terlihat. Namun emosi Hinata membuatnya mengambil kursi, menurunkan tas itu dari kepala lemari, dan kembali memeluk baju itu erat-erat seolah ada sosok yang tengah memakainya.
Sasuke tetap bekerja di kepolisian, namun Hinata sudah berhenti mengajar. Sasuke sering keluar rumah, namun Hinata selalu di kamarnya. Mikoto yang khawatir menganjurkan Hinata untuk pergi ke kantor Sasuke sesekali. Terlebih saat si bungsu Uchiha pulang larut atau bahkan tak pulang sehari dua hari.
"Kau sudah memutuskan untuk pergi bulan madu ke mana?" tanya Sasuke berkali-kali.
Pernikahan mereka sudah berlangsung hitungan minggu. Pernikahan itu mencerminkan betul karakter Sasuke dan Hinata. Hanya keluarga dan teman terdekat yang diundang. Mereka melaksanakan upacara pernikahan yang sederhana disusul makan bersama di kediaman Uchiha. Sasuke mengenakan jas abu-abu sedangkan dress putih selutut dengan ornamen tak mencolok.
Senyuman mereka membuat orang lain menyangka tak ada lagi yang patut dikhawatirkan. Namun, malam pertama yang seharusnya penuh cinta justru berakhir dengan pelukan erat Sasuke untuk meredam isak tangis Hinata.
Masa-masa awal pernikahan yang biasanya dihabiskan untuk berbulan madu tidak berlaku untuk mereka berdua. Hinata mengajak Sasuke mengunjungi nisan putri mereka tiga hari berturut-turut setelah pernikahan itu. Selama tiga hari itu pula Sasuke merasa hatinya hancur melihat gurat sedih di wajah Hinata.
Hinata sadar bahwa kesedihannya membuat Sasuke terluka. Ia ingin terlihat baik-baik saja, setidaknya di hadapan Sasuke. Namun entah mengapa, Hinata selalu gagal. Bahkan saat Sasuke membelainya, mengecup bibirnya dengan lembut dan penuh cinta, Hinata secara tak sadar menolak sentuhan Sasuke.
"Kita bisa berjalan selangkah demi selangkah. Pelan-pelan. Kita punya banyak waktu, Hinata. Kau punya aku seumur hidupku," bisik Sasuke lembut.
Hinata merasa bersalah. Ia merasa bersalah tapi semua orang tak menyalahkannya. Ia butuh sesuatu untuk disalahkan. Ia butuh sesuatu untuk dibenci. Hal ini membuat Hinata mulai membenci dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan Okinawa? Cahaya mataharinya hangat, ombak lautnya biru dan menyegarkan. Kaa-san yakin kalian bisa bersenang-senang disana," saran Mikoto.
Sasuke tampak tak keberatan. Ia melihat ke arah Hinata, menunggu persetujuan. Hinata mengangguk pelan. Ia terus-terusan menunda bulan madu mereka dengan alasan belum bisa memutuskan mau pergi ke mana. Jadilah sang ibu mertua berbaik hati memilihkan tempat dan membooking tiket bulan madu di agen langganan mereka.
"Semoga kalian bisa bersenang-senang!" ujar Mikoto memeluk Hinata saat melepas mereka di bandara.
Hyuuga Hiashi ikut hadir melepas sang putri. Ia memeluk putrinya kikuk. Lelaki tua itu tahu bagaimana hancurnya seseorang saat kehilangan pasangan hatinya, namun ia tak tahu bagaimana hancurnya hati orang tua saat kehilangan anaknya. Ia ingin menyalurkan semua keberanian di hatinya untuk sang putri. Ia ingin putrinya kembali seperti dulu. Hinata yang sering tersenyum dan Hinata yang mampu menerima hal-hal menyakitkan dalam hidup.
YOU ARE READING
Yours
FanfictionHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
