27. Obsesi

1K 155 8
                                        

Kehadiran seseorang rupanya bukan urusan waktu. Sasuke ingat belum lama ia menjumpai Hinata. Malam perjumpaan mereka, malam yang tak akan bisa Sasuke lupakan.

Perempuan itu terasa mungil di tangannya. Lekuk pinggang perempuan itu terasa pas di telapak tangan Sasuke. Rambutnya yang lembut sesekali menyapa wajah dan bahu Sasuke, membuat lelaki itu tergelak kecil.
Belum lagi jemari mungil Hinata yang menyapa setiap lekuk otot sang kepala kepolisian.

Siapa sangka, sosok mungil itu punya dampak keberadaan yang sangat besar dalam hidup Sasuke. Aroma tubuh yang menguar, suara lembut yang menyapa, juga keindahan rupa yang mampu memanjakan mata semua pria, menjadi candu dalam hidup Sasuke.

Hinata... Hinata... Hinata...

Nama itu berulang kali keluar dari bibir Sasuke saat benaknya secara sadar tak bisa menghentikan rasa rindunya akan sosok perempuan itu. Baru 28 jam semenjak Hinata dinyatakan hilang. Baru 28 jam, ujar rekan-rekannya di kepolisian. Kini ia tahu bagaimana perasaan orang-orang saat melapor kehilangan anggota keluarganya meskipun kepolisian baru bisa menindaklanjuti setelah 2x24 jam.

"Mau kemana kau?" tanya Itachi.

Sasuke tak menggubris. Ia tetap mengemasi barang-barang di atas meja untuk masuk ke tasnya. Ada tali, senter, tongkat, juga senjata api laras pendek yang diselipkan ke saku belakang celananya.

"Kau harus memberitahu keluarga Hinata terlebih dahulu," ujar Itachi lagi.

Gerakan tangan Sasuke terhenti. Itachi ada benarnya. Ia belum memberitahu ayah Hinata. Ia belum memberitahu penculikan ini, juga soal kehamilan Hinata.

"Kita tidak punya waktu," keluh Sasuke.

"Kau mau mendatangi seluruh tempat yang ada di Konoha satu per satu? Biarkan bagian intel menyelidiki keberadaan Hinata. Sembari menunggu, kau harus pergi ke kediaman Hyuga," tegas Itachi.

"Itachi-nii benar. Kau bisa serahkan pencarian ini pada kami. Kami akan melapor jika ada petunjuk sekecil apa pun," Naruto ikut membujuk.

Sasuke pun mengangguk.
.
.
.
Perkataan Hyuga Hiashi membuat Sasuke naik pitam. Ia pikir ia akan dikata-katai, bakal dipukuli. Rupanya lelaki paruh baya itu malah mengutuk putrinya sendiri.

"Sudah kuduga. Tidak mungkin anak sialan itu tidak membuat masalah."

Cukup satu frasa 'anak sialan' masuk ke telinga Sasuke membuat kepalan tangannya melayang. Akan tetapi, sulung Hyuuga lebih dulu menghalangi agar sang ayah tidak bonyok di tangan si Kepala Kepolisian Konoha.

"Kupikir kau datang memberi kabar, bukan menambah masalah," desis Neji.

Pemuda itu tampak lebih khawatir ketimbang kepala keluarga Hyuuga. Sasuke tahu kalau Neji sudah tahu perihal kehamilan Hinata. Membaca situasi, sepertinya hubungan kakak-adik mereka jauh lebih kuat ketimbang ayah-anak.

"Jaga perkataanmu, Uchiha. Jangan membuat situasi semakin runyam," bisik Neji.

Sasuke mengerti. Hyuuga Hiashi belum tahu kabar kehamilan putrinya. Hyuuga itu belum tahu kalau Sasuke adalah ayah dari calon bayi di perut Hinata.

"Aku akan mengirim beberapa anak buahku untuk bantu penyelidikan. Kau juga ikut, Neji," perintah Hiashi.

Neji mengangguk. Tangannya mencengkram lengan Sasuke dan menggiringnya keluar ruangan kepala keluarga Hyuuga.

"Kau seharusnya lebih cepat datang," keluh Neji. Beberapa orang lelaki berbadan tegap dengan mata bulan ikut mengiringi langkah mereka menuju basement parkiran.

"Aku tipikal kakak yang overprotektif. Aku tak pernah mengatakan ini pada orang-orang karena takut Hinata marah. Sejak Hinata keluar dari rumah, aku sudah menyelipkan alat pelacak di anting yang selalu Hinata kenakan. Selama Hinata tidak melepaskan antingnya, kita selalu bisa tahu keberadaannya."

Sasuke tak kuasa menyembunyikan senyumnya. Kemarin, bahkan hari-hari sebelum kemarin, Sasuke selalu melihat anting itu di telinga Hinata. Perempuan itu tak pernah melepaskannya. Juga, tidak ada penculik yang akan curiga dengan anting. Beda hal dengan ponsel Hinata yang ditemukan tak jauh dari sekolah oleh tim intel. Jelas sekali semua penculik membuang hp korban agar tak bisa dilacak.

"Kami sudah mendapatkan posisi Nona Hinata, Tuan," ujar salah satu bawahan Hyuuga.

"Ayo berangkat!"
.
.
.
Sasori bilang tulang di dalam boneka itu adalah tulang belulang ayah dan ibunya. Mereka mati terpanggang saat mobil yang mereka tumpangi meledak akibat kecelakaan tunggal.

"Aku bahkan tak bisa lagi mengenali wajah mereka saat jenazah sampai di rumah sakit," cerita Sasori.

Hinata tak tahu apakah ia boleh merasa kasihan pada pembunuh di hadapannya ini. Sudah berapa nyawa melayang karena obsesinya pada rambut? Sudah berapa banyak anggota keluarga yang menangisi kematian putri mereka?

Hinata tak ingin iba. Lelaki di depannya gila. Apa pun alasannya, meskipun alasan paling menyedihkan sekalipun, seseorang tidak boleh menyakiti orang lain.

"Aku mulai merangkai tulang mereka, melampisinya dengan kulit manekin buatan, sampai aku sadar bahwa tidak ada benang yang sama persis dengan rambut mereka."

Boneka ayah itu bersurai merah darah, sama dengan Sasori. "Kau memberikan rambutmu untuk ayaymu?" tanya Hinata.

"Tentu. Rambutku rambut paling mirip dengan rambut ayah."

"Lalu, bagaimana dengan rambut ibumu?"

Sasori tampak tenggelam dalam pusaran ingatan yang ada di kepalanya sendiri. Ibunya adalah perempuan lembut yang jarang marah. Tiap kali ia digendong sang ibu di punggung, dia bisa merasakan lembutnya surai hitam milik perempuan itu, membuat hatinya hangat.

"Hitam. Lembut. Juga penuh dengan kehangatan."

"Kau tak akan bisa menemukan rambut yang penuh kehangatan, selain kehangatan dari orang-orang yang kau sayang. Perbuatanmu percuma, Sasori."

Perkataan Hinata membuat Sasori mendelik. Tidak ada orang yang mengatakan ini sebelumnya. Mereka hanya berteriak dan berteriak. Mengapa Hinata justru mengajaknya berbicara? Mengapa Hinata justru membuatnya marah?

Hinata bisa melihat siluet pisau di tangan kanan Sasori. Langkah kakinya kian mendekat meskipun Hinata mencoba melangkah mundur. Suasana berubah mencekam. Lagi-lagi Hinata merasa sudah salah bicara.

Dor! Dor! Dor! Dor!

Gedoran pintu dengan keras dan kasar terdengar. Sasori tampak kaget. Tak seharusnya ada orang yang tahu keberadaan tempat ini.

"Sasori! Hentikan, Sasori!" suara perempuan tua memanggil.

Akasuna Sasori mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Dia bergumam tak jelas meskipun Hinata bisa menebak siapa yang ada di luar pintu.

"Nenekmu datang," jelas Hinata.

Pemuda itu tampak tak senang. Tangan kirinya yang tak menggenggam apa pun kini mencengkran pergelangan tangan Hinata. Ia menarik Hinata keluar ruangan, menuju pintu depan yang masih digedor Nenek Chiyo.

Hinata tak tahu mengapa penculiknya ikut mengajak Hinata menuju pintu depan. Perempuan itu takut, tapi juga merasa bahwa ia adalah kesempatan.

Sedetik sebelum pintu terbuka, Sasori menggenggamkan pisau ke tangan Hinata. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Hinata yang memegang pisau, mengayunkannya tepat saat pintu terbuka.

Semburan cairan yang terasa hangat dan kental mengenai pipi sang Hyuuga. Darah. Merah.

Tangan Hinata bergetar luar biasa saat melihat merah di ujung pisau mengalir ke telapak tangannya dan telapak tangan Sasori. Ia mencoba lepas, namun cengkraman Sasori lebih kuat. Nenek Chiyo tumbang dengan tusukan pisau di perutnya tepat di depan Hinata.

"Kau salah, Sensei. Semua darah di dunia, terasa hangat," bisik Sasori di telinga Hinata.

Perempuan itu tak tahan lagi. Suara jeritannya memenuhi koridor yang tak berorang. Berharap siapa pun, apa pun, bisa mengeluarkannya dari kondisi ini sekarang juga.
.
.
.
To be continued

YoursWhere stories live. Discover now