18. Janji Kedua

1.4K 205 4
                                        

Bagi Hinata, hari ini terasa begitu singkat. Tadi pagi ia mengajar 2 jam, lalu membantu menjemput buku, makan siang bersama Tenten, kembali mengajar, dan tiba-tiba saja bel pulang sudah berbunyi.

Para murid yang senang bergegas pulang. Beberapa tetap di sekolah karena ada ekskul dan remedial.

"Kau mau langsung pulang?" tanya Tenten. Jam sudah menunjukkan pukul 15.15. Guru sudah boleh finger pulang.

"Aku dijemput jam 4 nanti," jawab Hinata.

Tenten tersenyum usil. Ia berjalan ke arah Hinata dan mendekatkan mulutnya ke telinga sang Hyuuga.

"Kalian mau pergi kencan?" tanyanya berbisik.

Wajah Hinata memerah. Ia tak menyangka akan datang hari saat Tenten bisa menjahilinya soal lelaki.

"Kami mau ke klinik," jawab Hinata balik berbisik.

Tenten mengangguk. Ia pamit pulang terlebih dahulu. Kantor guru mulai ditinggalkan satu per satu orang yang ingin pulang. Untunglah hari ini ada beberapa guru yang mengajar ekskul dan remedial sampai jam 5 sehingga Hinata tidak perlu takut sendirian di kantor guru.

"Hinata-sensei!" sapa Lee-sensei yang baru balik dari lapangan.

"Ada apa, Lee-sensei?"

"Apa kau kosong nanti sore? Aku ada kencan buta. Manatau Hinata-sensei bisa ikut."

"Kencan buta?"

"Iya. Temanku yang kerja di perusahaan makanan anjing rutin mengadakan kencan buta 1x 1 minggu. Meski disebut kencan buta, tapi sebenarnya lebih ke mencari teman baru sih," promosi Lee.

Hinata hanya bisa tertawa ringan. Lee ternyata sangat aktif soal asmara. Kenapa bisa lelaki hyper itu masih jomblo sampai sekarang.

"Maaf Lee-sensei, aku ada janji hari ini," jawab Hinata menolak ajakan itu.

"Oh, begitu. Apa Hinata-sensei akan pergi dengan pacarnya?" tanya Lee menggoda.

"Bukan! Bukan pacar!"

"Hm, laki-laki?"

"Iya sih laki-laki."

"Tuh kan!"

"Tapi bukan pacar!"

Lee tertawa. "Pacar atau bukan tidak masalah. Semoga bukan laki-laki yang sama dengan yang waktu itu membatalkan tiba-tiba di kafe," ujar Lee setengah bercanda.

Hinata membatin. Lelaki itu lelaki yang sama. Kali ini ia memberikannya kesempatan kedua. Janji kedua yang tengah Hinata tunggu pembuktiannya dari seorang lelaki bernama Uchiha Sasuke.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Batin Hinata berdebat dengan dirinya sendiri. Masih bolehkah ia berprasangka baik kalau Sasuke hanya terlambat? Barangkali karena tiba-tiba ada kemacetan, atau ada kasus, atau ada sesuatu apa pun itu.

Ponselnya bergetar, menampilkan nama si bungsu Uchiha yang ia tunggu-tunggu. Syukurlah. Setidaknya, kalau, kalau hari ini Sasuke membatalkan lagi janji mereka, ia membatalkannya dengan cara yang baik.

"Hinata, kau dimana?" suara berat khas Sasuke terdengar.

"Kantor guru."

"Aku di parkiran. Mau kujemput ke kantor?"

Pertanyaan Sasuke membuat dada Hinata mekar. Sasuke menepati janjinya. Ia benar-benar datang. Janji kedua, kesempatan kedua, kali ini ditepati.

"Biar aku saja yang ke parkiran," jawab Hinata riang.

Langkah Hyuuga itu terasa ringan. Ia bersenandung kecil saat mengecek ulang isi tas yang sudah ia kemasi sejak tadi. Hinata bahkan sengaja menghampiri Lee untuk pamit duluan.

YoursWhere stories live. Discover now