Special Chapter 1

958 108 3
                                        

Uchiha Sasuke sudah dua hari tidak pulang. Ada kasus baru masuk ke meja kerjanya. Mau tak mau kepala kepolisian Konoha itu terpaksa menghabiskan waktu bersama rekan-rekannya di kantor ketimbang menikmati bulan madu.

Ngomong-ngomong soal bulan madu, ia sempat bertanya apa ada tempat yang ingin Hinata kunjungi. Pernikahan mereka baru lewat hitungan minggu. Sasuke tak keberatan mengikut pilihan Hinata untuk tempat pilihan bulan madu. Sialnya, baru beberapa hari mengambil cuti, sebuah kasus kembali harus ia urus.

Kepala si bungsu Uchiha panas memikirkan banyak teori dan kemungkinan dari kasus sialan ini. Ia merindukan Hinata. Ia rindu aroma tubuh sang istri yang bisa membuatnya merasa tenang. Ia ingin bermalas-malasan seharian di pelukan istrinya.

"Sasuke-san, ada tamu mencari anda," Konohamaru muncul dari balik pintu.

"Bilang aku sedang sibuk," jawab Sasuke tak mau repot melihat ke arah pintu.

"Katanya dia sedang sibuk, Hinata-san," suara Konohamaru membuat Sasuke bangkit mendadak dari kursinya.

Suara Hinata terdengar dari balik pintu. Sasuke berlari mengejar. Kenapa Konohamaru tidak bilang kalau tamu yang mencarinya adalah orang yang ia rindukan sejak tadi. Sepertinya ia harus mendisiplinkan Konohamaru setelah ini.

"Aku tidak sibuk, Hinata!" ujar Sasuke membuka pintu lebar-lebar.

Tampak rekan kerjanya duduk di kursi sofa tengah ruangan. Hinata sedang membuka bungkusan bento besar 3 tingkat yang dibawanya.

"Oh, katanya dia tidak sibuk," ulang Konohamaru dengan wajah mengejek.

"Masakan istrimu luar biasa, Teme!" komentar Naruto dengan mulut penuh makanan.

"Kalau makan seperti ini setiap hari aku juga jadi mau menikah," lanjut Jiraiya.

Sasuke tak suka saat melihat Hinata merona karena pujian Naruto dan Jiraiya. Kenapa pula Hinata repot-repot memasak untuk mereka? Seharusnya Hinata bersantai saja di rumah. Atau boleh juga memasak, mandi, membaca novel, berkebun, atau kalau mau pergi belanja dengan Mikoto dan Izumi.

"Ayo ikut makan, Sasuke-san. Naruto-san dan Jiraiya-san makannya cepat sekali. Nanti keburu habis," tambah Sai.

Dengan hati mencak-mencak namun wajah tetap datar, Sasuke menghampiri rombongan itu. Ia duduk persis di sebelah Hinata yang dari tadi hanya melihat rekan-rekannya makan tanpa menyuap makanan untuk dirinya sekalipun.

Sasuke berinisiatif mengambil sumpit, menjepit sebuah chiken katsu yang sudah dipotong-potong kecil dan mengarahkannya ke mulut Hinata. Perempuan itu sempat merona sebelum malu-malu membuka mulut. Menggemaskan sekali.

"Hooo indahnya jadi pengantin baru," ujar Naruto tersenyum meledek.

Hinata terlihat canggung, namun Sasuke sama sekali tidak terpengaruh. Apa salahnya menyuapi istrinya sendiri.

"Pergi sana ke kantormu! Kami tak mau lihat adegan mesra kalian. Rata-rata disini masih jomblo," komentar Jiraiya.

Naruto dan Konohamaru berteriak menggoda. Mereka bahkan berakting a la a la pasangan baru yang terlihat lucu di mata Hinata.

"Ayo," ujar Sasuke meraih jari Hinata.

Ruangan Sasuke dilengkapi kunci pintu dan tirai jendela yang dapat ditutup. Baru saja mereka berdua masuk, Sasuke langsung mengunci pintu dan menutup tirai. Ia tak mau jadi bulan-bulanan rekan kerjanya karena kunjungan sang istri.

"Kenapa kamu datang?"

"Kenapa? Kamu tak suka aku datang?"

"Bukan. Aku tak suka kamu digodain Naruto dan yang lain."

Hinata tertawa renyah. Bisa-bisanya Sasuke mengaku cemburu secara tak langsung. Terlebih pada Naruto dan rekan sejawatnya di kepolisian.

"Habisnya kamu tidak pulang. Kata Kaa-san aku bisa pergi ke kantormu saja," ujar Hinata.

Perempuan itu menunjukkan tas yang ia bawa. Ada pakaian dan beberapa perlengkapan Sasuke di sana. Dulu sebelum menikah dia terpaksa menyimpan pakaian di kantor karena tak ada yang sempat mengantarkan.

"Arigatou," ujar Sasuke menerima tas itu.

Tangannya tak lepas dari bahu Hinata. Ia senang mengingat fakta bahwa ia telah menikah sekarang. Akan tetapi, setelah kasus Sasori dan keguguran Hinata waktu itu, mereka berdua masih takut melakukan skinship lebih dari sekedar pelukan dan kecupan singkat. Bahka saat ia terbawa suasana dan mulai merasa menginginkan lebih, nafsunya selalu padam karena melihat raut sedih di wajah Hinata.

Mereka pernah kehilangan.

Meski kini sedang merajut kembali kasih sayang yang sempat terluka itu, nyatanya sesekali rasa sakit akan kehilangan membuat mereka tak mampu melangkah maju.

"Apa kau sudah memilih tempat bulan madu?" tanya Sasuke hati-hati.

Hinata menatap iris kelam mata Sasuke. Di satu sisi ia merasa butuh melaksanakan kewajibannya sebagai istri melayani suaminya lahir batin. Tapi di sisi lain Hinata merasa keguguran yang dialaminya waktu itu membuatnya ketakutan.

Barangkali Sasuke bisa merasakan ketakutan yang Hinata rasakan. Mereka berbagi kehilangan. Mereka juga bisa berbagi proses untuk pulih.

"Kalau kau belum siap, aku tak akan memaksa," bisik Sasuke lembut.

Air mata Hinata menetes lagi. Tak bisa ia kontrol. Padahal ia tahu kalau menangis di hadapan Sasuke hanya akan membuat laki-laki di hadapannya ikut sedih.

"Kita bisa berjalan selangkah demi selangkah. Pelan-pelan. Kita punya banyak waktu, Hinata. Kau punya aku seumur hidupku."
.
.
.
To be continued

Halooo minna-san!
Terimakasih sudah kembali mampir ke cerita ini.

Ada beberapa orang yang bertanya di chapter penangkapan Sasori disebutkan bahwa Hinata keguguran karena obat yang diberikan Sasori. Tapi kenapa ya di chapter terakhir ada scene Hinata dan Sasuke memiliki anak bernama Uchiha Hikari?

Yaps. Jawabannya karena Uchiha Hikari adalah anak kedua mereka. Anak pertama mereka meninggal, meninggalkan banyak luka. Tetapi mereka tetap melangkah maju menjalani hidup. Uchiha Hikari adalah hadiah indah berkat kesabaran mereka menjalani hidup tanpa berputus asa.

Jadi... special chapter ini sengaja choco persembahkan untuk kita melihat perjuangan Hinata dan Sasuke melanjutkan hidup mereka hingga nantinya tua dan dikelilingi anak cucu kesayangan.

So, stay tune ya minna-san!
See you!!!

YoursWhere stories live. Discover now