Hinata membayangkan dirinya akan digampar seorang wanita cantik paruh baya yang mirip Sasuke. Wanita itu akan memakinya, menjambaknya, dan meneriakkan umpatan layaknya drama klise yang pernah ia tonton. Lelaki paruh baya yang mirip Sasuke akan menghentikan wanita itu. Mereka akan saling merangkul sambil menatap Hinata tajam.
"Kau kebanyakan nonton sinetron, Sensei," tawa Uchiha Itachi saat melihat raut wajah kebingungan Hinata.
Kini ia berada di kediaman Uchiha. Bukannya kena gampar, ia malah disambut pelukan hangat dari wanita paruh baya yang mirip Sasuke. Satu lelaki paruh baya yang mirip Sasuke pun terlihat biasa saja. Ada Uchiha Itachi dan Uchiha Megumi di sana, wajah yang Hinata kenal sebagai presdir dan siswi di sekolah tempatnya bekerja. Juga ada satu lagi wanita cantik yang berdiri di samping Itachi, wajahnya mirip Megumi.
"Akhirnya menantuku datang," teriak Mikoto girang. Tangannya tak henti membelai wajah dan rambut Hinata, menatapnya dengan pancaran kasih sayang.
"Ibu, kau membuatnya tak nyaman," keluh Sasuke.
"Biarkan saja Ibu, Sasuke. Dia pasti sedang senang menyaksikan bukti bahwa kau bukan homo tepat di depan matanya," ujar Itachi setengah tertawa.
"Aku senang sensei akan tinggal disini. Ini ayah dan ibuku, Uchiha Itachi dan Uchiha Izumi. Ini kakek dan nenek, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto," jelas Megumi. Remaja 16 tahun ini kini menggantikan sang nenek memeluk Hinata.
"Ah, nama saya Hyuuga Hinata. Yoroshiku onegaishimasu," Hinata memperkenalkan diri.
"Hyuuga? Kau putrinya Hiashi?" tanya Fugaku. Hinata mengangguk.
"Mati kau, Sasuke. Ayahnya galak," ujar Fugaku dengan wajah super serius.
"Memangnya ayah kenal Hyuuga Hiashi?" Sasuke seolah tak percaya.
"Siapa pun yang bergelut di dunia bisnis pasti kenal Hyuuga Hiashi. Iya, kan, Itachi?" tanya Fugaku pada si sulung. Itachi mengangguk.
Lelaki-lelaki itu hanyut dalam pembicaraan soal bisnis dan nama-nama di balik perusahaan besar Konoha. Mikoto yang tampak bosan membawa Izumi, Megumi, dan Hinata menuju dapur yang bersatu dengan ruang makan.
"Pembicaraan lelaki membosankan," keluh Mikoto.
"Iya, Nek. Lebih baik kita makan kue yang Nenek beli tadi," tambah Megumi.
Hinata duduk canggung di tengah keluarga Uchiha yang terkesan ramah. Awalnya, ia pikir Uchiha adalah keluarga yang sama dinginnya dengan keluarganya. Susah membayangkan keluarga tanpa cacat. Kebanyakan keluarga dengan harta melimpah, kekuasaan, dan ketenaran, justru diuji dengan anggota keluarga yang saling membenci. Hyuuga seperti itu, rupanya Uchiha tidak.
"Jangan sungkan, Hinata. Uchiha mungkin terlihat dingin pada orang-orang, tetapi di depan orang yang mereka sayangi, Uchiha adalah individu yang sangat hangat," ujar Izumi.
Hinata hanya bisa mengangguk sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tak tahu harus bicara apa. Ia bahkan tak tahu harus memikirkan apa.
Mengapa Uchiha menerimanya dengan lapang dada? Mengapa kehamilannya justru menjadi kabar gembira bagi keluarga Sasuke?
"Kandunganmu sudah usia berapa?" tanya Mikoto. Ia dan Megumi telah selesai memotong kue dan meletakkannya di piring kecil untuk mereka santap.
"Sudah masuk 7 minggu, Mikoto-san."
"Ah, jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja Ibu."
"Tapi..."
"Kau akan segera menikah dengan Sasuke, kan? Mulai panggil Ibu saja agar lekas terbiasa."
YOU ARE READING
Yours
Fiksi PenggemarHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
