"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," ujar Hinata dari sambungan telepon.
"Apa korbannya perempuan berambut hitam?" tanya Sasuke hati-hati. Naruto ikut tegang menunggu jawaban pertanyaan yang akan menentukan harga diri mereka sebagai kepolisian Konoha.
"Ya," jawab Hinata.
Naruto mendesah keras. Kepalan tangannya menghantam pahanya sendiri. Tanpa buang-buang waktu, pemuda jabrik itu menekan interkom yang menghubungkannya dengan seluruh armada kepolisian.
"Hinata, kau sendirian?" tanya Sasuke.
"Ya."
"Apa tidak ada orang lain di apartemen?" tanya Sasuke lagi.
"Mungkin tidak. Lampu teras kamar lain mati, penjaga yang biasanya juga tidak ada di pos," suara Hinata kian memburu.
"Tenang Hinata. Ambil nafas dalam," terdengar Hinata menuruti saran itu, "bagus. Sekarang, lihat di sekelilingmu. Apa ada yang mencurigakan?"
"Aku tidak tahu. Aku takut."
Sasuke menghela nafas berat. Jelas perempuan itu akan ketakutan menghadapi situasi seperti itu.
Tunggu! Dia sendirian? Di apartemen kosong dan mayat yang masih hangat?
"Hinata, kembali ke kamarmu dan kunci semua pintu dan jendela. Jangan bukakan pintu sampai aku datang."
Sasuke menginjak pedal gas lebih dalam. Demi Tuhan! Perempuan yang tengah mengandung anaknya barangkali saja kini tengah diincar pembunuh itu.
.
.
.
Hinata menuruti perintah Sasuke. Meski ia masih merasa kasihan, mau tak mau Hinata harus meninggalkan mayat Yui dan kembali ke apartemennya.
Tidak ada yang berubah dari apartemennya. Tidak ada bercak darah, tidak ada letak sepatu atau sendal yang berubah. Hinata bisa tenang. Setidaknya, ia yakin pembunuh itu tidak menyelinap masuk ke apartemennya saat ia panik dan ketakutan mencari penjaga di pos.
"Kau sudah di dalam?" tanya Sasuke.
"Ya."
"Kau ada sesuatu yang bisa dijadikan senjata?" laki-laki itu bertanya lagi.
"Aku punya beberapa pisau dapur," jawab Hinata. Perutnya mulas mendengar pertanyaan itu.
"Bagus. Ambil satu. Sembunyikan di balik jaketmu."
Hinata menuruti semua yang dikatakan Sasuke. Dalam hati, ia tak berhenti berdoa agar lelaki itu lekas sampai.
.
.
.
Kakashi mendapat pesan bahwa korban tewas ditemukan di sebuah apartemen. Korban ditemukan tewas oleh tetangga apartemennya. Semua polisi yang berada di radius 10 km diminta datang, sedangkan polisi yang lain ditugaskan untuk tetap berpatroli terutama menangkap orang yang dianggap mencurigakan.
Kakashi tengah mendapat tugas mengawasi Nenek Chiyo, nenek yang dimintai keterangan di kasus pembunuhan sebelumnya. Sejauh ini, tidak ada yang mencurigakan. Toko buku yang ada di depan rumah mereka tutup pukul 8 kurang. Semenjak itu, tidak ada seorang pun yang keluar atau pun masuk.
"Kakashi-san, kau polisi terdekat di lokasi. Segera pergi ke sana. Ada saksi mata dan pelaku belum ditemukan."
"Roger," balas Kakashi.
Lelaki paruh baya itu bergegas memacu motornya.
.
.
.
Pintu diketuk. Hinata setengah mati menahan diri agar tak berteriak. Dengan langkah hati-hati ia berjalan menuju pintu. Sebelah tangan Hinata tak henti memegang gagang pisau di balik jaketnya.
Seorang pria berambut putih dan bermasker. Siapa?
Hinata langsung teringat pesan Sasuke agar tak membukakan pintu kecuali jika Sasuke yang datang. Bisa jadi laki-laki di depan pintunya kini adalah pembunuh itu.
YOU ARE READING
Yours
Fiksi PenggemarHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
