22. Indigo

1K 167 7
                                        

Uchiha Sasuke tidak ingin pulang. Pulang mengingatkannya bahwa hubungannya dengan Hinata sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, sebuah pesan tanpa kata, hanya berisi lampiran foto dari sang ibu membuat Sasuke melompat dan cepat-cepat ingin pulang.

"Kau mau ke mana?" tanya Naruto.

"Pulang," jawab Sasuke singkat.

"Sudah tiga hari kau tidak pulang. Syukurlah. Tidur dan mandi, Sasuke. Besok kita memulai rencana kita," ujar Naruto tersenyum.

Dengan langkah ringan Sasuke mengemasi barang-barangnya. Ia memutuskan menaiki taxi karena sadar ia belum tidur tiga hari belakangan dan jantungnya berbedar hebat menyadari Hinata  telah pulang.

Hinata telah pulang.

Hal ini membuat hatinya hangat. Padahal, sebelum bertemu Hinata, ia sama sekali tidak tertarik untuk menikah. Dulu, Sasuke berpikir bahwa menikah hanya hal merepotkan yang akan mengganggu kehidupannya sebagai seorang polisi.

Betapa banyak ia menyaksikan sendiri seniornya di kepolisian yang hancur rumah tangganya karena jadwal yang padat dan beban rahasia kenegaraan. Perempuan-perempuan istri seniornya gampang cemburu, gampang bosan, juga gampang menuduh suaminya berselingkuh.

Kenangan-kenangan itu membuat Sasuke merinding. Ia banyak bersyukur Hinata tidak begitu. Perempuan itu tidak cerewet memaksa Sasuke pulang. Kehadirannya itu sendiri sudah membuat Sasuke ingin pulang.

Sopir taxi menghentikan lamunan Sasuke. Ia sudah sampai. Sasuke membayar argo dan berjalan cepat.

Teras, ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, taman belakang, tidak ada Hinata. Dimana dia? Mikoto senyum-senyum melihat putra bungsunya berkeliling rumah dengan wajah bersemangat sedang mencari seseorang.

Hanya satu ruangan tersisa. Dada Sasuke kian berdebar saat kakinya kian dekat dengan kamarnya sendiri. Pintu terbuka. Senyap.

Satu-satunya hal berbeda yang Sasuke lihat adalah sosok di atas tempat tidurnya.

"Sstt. Hinata baru tidur setengah jam lalu. Usia kehamilannya sedang mabuk-mabuknya," ujar Mikoto berbisik. Sasuke mengangguk, mengucapkan terimakasih.

Sasuke berjalan mengendap, bukan hal yang sulit bagi seorang kepala kepolisian sepertinya. Hinata tertidur di kasurnya. Rambut indigo sang perempuan terurai di bantal, membingkai wajahnya yang jelita.

Sasuke teringat pertama kali ia bertemu Hinata. Pertemuan mereka tidak bisa dibilang "baik" seperti bertemuan banyak pasangan di luar sana.

Hinata, perempuan manis yang ia temui mabuk di salah satu kedai saat ia diseret kencan buta, bisa membuat Sasuke terpana dalam pandangan pertama. Gadis itu lucu saat mabuk. Ia berbicara dengan nada manja. Kadang sedih seperti kebanyakan orang dewasa. Kadang juga ceria seperti anak-anak.

Awalnya, Sasuke hanya berniat mengantarnya ke hotel agar perempuan itu bisa istirahat. Tentu saja Sasuke tidak tahu dimana perempuan itu tinggal. Meninggalkannya mabuk sendirian bisa berbahaya. Sebagai kepala polisi Konoha, ia merasa punya tanggung jawab.

Hinata masih dalam mode ceria khas anak-anak saat mereka sampai di kamar hotel. Sasuke membukakan pintu kamar, membuka sepatu Hinata, dan membaringkannya di ranjang. Hanya itu. Sasuke ingin langsung pergi. Awalnya, niatnya seperti itu.

Tangan kecil Hinata meraih lengan baju Sasuke. Perempuan itu mungkin hanya minta ditemani, namun Sasuke menangkapnya sebagai permintaan lain.

Malam itu Sasuke lupa bahwa sebagai kepala kepolisian dia punya tanggung jawab melindungi rakyat Konoha. Meski ia bisa berkilah bahwa ini bukan kejahatan. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.

YoursWhere stories live. Discover now