Sasuke sempat bertanya ke satpam akan kamar yang ditempati seorang guru dari sekolah milik Uchiha. Satpam dengan baik hati menunjukkan, terlebih saat melihat Sasuke membawa bunga layaknya laki-laki yang ingin mengajak kencan.
Sesampainya di lorong lantai 2, Sasuke bisa melihat dua orang lelaki berjas hitam sedang terlihat menarik pintu. Mata awas Sasuke menangkap tindak perlawanan dari siapa pun di balik pintu. Rasa tanggung jawabnya sebagai polisi langsung membuatnya melangkahkan kaki.
BRAK!
Seorang perempuan berambut hitam hampir terjatuh saat pintu itu ditarik terlalu kuat. Mata Sasuke membulat. Mengapa Hinatalah perempuan yang terjatuh itu?
"Apa-apaan ini?" ujar Sasuke.
Ia bergegas berlari menghampiri Hinata. Meraih tubuh sang perempuan dan memasang sikap siaga pada dua lelaki dengan mata keperakan yang serupa.
"Siapa kau?" lelaki paruh baya bertanya.
"Siapa kau?" Sasuke balas bertanya.
Di dalam rengkuhannya, ia bisa merasakan Hinata tak bergerak. Sasuke mencoba mencari bercak darah, atau bercak air, apapun itu yang menandakan Hinata dan anak di perutnya terluka. Untunglah tak ada. Sasuke hanya bisa menebak rasa takut menjadi satu-satunya alasan mengapa Hinata menjadi seperti ini.
"Menyingkirlah, Bocah. Jangan ikut campur urusan keluarga Hyuuga," Kou mengancam.
Sasuke mundur selangkah. Dari fisik Sasuke sudah bisa menebak bahwa dua orang lelaki di depannya pastilah ahli bela diri. Kalau ia terpaksa bertarung, jelas ini tak akan jadi pertarungan mudah.
Bogem pertama melayang dari tangan Kou mengarah pada bahu Sasuke. Kepala kepolisian itu masih sempat mengelak. Sasuke masih tetap bisa mengimbangi Kou meskipun ia tak kunjung melepaskan Hinata dari perlindungannya.
"Lepaskan Nona Hinata, Bajingan!" Kou berteriak dan kembali menyerang. Dari belakang Hiashi memandang tajam.
Sasuke merasa tak seharusnya ia bertarung melibatkan Hinata. Perempuan hamil layaknya kaca yang perlu dijaga sedemikian rupa agar tak pecah. Sasuke tak ingin sesuatu terjadi pada Hinata.
"Sasuke," panggil Hinata.
Jemari Uchiha hinggap di bibir Hinata, mengisyaratkannya untuk diam. Hinata tak tahu apa yang harus ia lakukan. Semuanya terasa membingungkan.
"Itu ayahku."
Saat ucapan itu terlontar dari mulut Hinata, suasana tiba-tiba beku, setidaknya bagi Sasuke.
.
.
.
Hinata menyeduh teh dan menghidangkannya di satu-satunya meja di apartemen milik Tenten. Perempuan itu tak pernah menduga suatu hari ayahnya akan duduk di depannya, meminum teh seolah mereka adalah keluarga normal pada umumnya.
Dalam kepala gadis itu hanya ada dua prasangka. Pertama, ayahnya tahu soal kehamilannya. Kedua, ayahnya tahu soal Hinata yang hampir terlibat dalam kasus pembunuhan berantai malam itu.
Keberadaan Sasuke di apartemen kecilnya membuat Hinata was-was. Jelas lelaki itu tak mungkin tahu bagaimana hubungan Hinata dengan ayahnya. Bagaimana jika Sasuke malah memperunyam keadaan?
"Siapa lelaki ini, Hinata?" Hiashi memecah berbagai kemungkinan dalam kepala Hinata.
Sasuke memandang Hinata dengan tatapan penasaran. Dia pun bertanya-tanya, siapa dirinya bagi perempuan itu.
"Ini kepala kepolisian konoha," jelas Hinata ragu-ragu. Jawaban itu membuat raut kecewa muncul di wajah bungsu Uchiha. Akan tetapi, jawaban itu justru berefek sebaliknya pada Hiashi. Kerutan di dahi kepala klan Hyuuga serta merta hilang.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada kepolisian Konoha karena sudah menjaga anak saya dari kasus semalam," ujar Hiashi menundukkan kepalanya. "Saya juga mohon maaf karena bawahan saya menyerang anda."
"Tidak apa, Hyuuga-san. Saya justru minta maaf karena menyangka anda sebagai penjahat yang mau menerobos masuk," jawab Sasuke ikut menundukkan kepalanya.
Dada Hinata nyeri. Kenapa ayahnya seolah peduli padanya? Setelah sekian lama ia memilih wanita lain dan mengabaikan Hinata dan ibunya. Kenapa ia baru pura-pura peduli sekarang?
"Ada keperluan apa kepala kepolisian konoha menemui putriku?"
Iris mata bungsu Uchiha menatap iris mata putri Hyuuga. Sasuke berharap ia bisa jujur. Mengakui perbuatannya dan itikad baiknya bertanggung jawab atas janin di perut Hinata. Wajah pias Hinata membatalkan itu semua. Jelas Sasuke bisa menebak tatapan khawatir Hinata.
Sebagai kepala kepolisian, bukan satu dua kali dia menghadapi kasus kehamilan di luar nikah. Ia bisa membayangkan amukan Hyuuga Hiashi pada Hyuuga Hinata, juga pada dirinya.
Akan tetapi, menunda-nunda hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari kan?
"Sebenarnya...."
"Aku akan tinggal di bawah perlindungan kepolisian konoha," putus Hinata.
Sasuke menatap tak percaya. Perhatian di ruangan itu langsung teralihkan pada Hinata.
"Apa maksudmu? Kau akan pulang. Tidak ada tempat yang lebih aman ketimbang kediaman Hyuuga," bentak Hiashi.
"Pelakunya belum tertangkap, Ayah. Kepolisian memintaku tinggal di bawah perlindungan kepolisian," Hinata kembali mencoba menjelaskan.
Hiashi tampak naik pitam. Tangannya meraih pergelangan tangan Hinata dengan kasar, hendak menariknya. Hinata melawan dengan tenaga yang tak seberapa. Tatapan matanya tertuju pada Sasuke. Seolah berteriak agar lelaki itu bertanggung jawab atas pertengkarannya dengan sang ayah.
"Hiashi-san, berdasarkan hukum, Nona Hinata harus berada di bawah perlindungan kepolisian."
Tangan Sasuke mencengkram tangan kepala keluarga Hyuuga. Tatapan mereka saling bertarung, mencari titik lemah lawan.
"Melawanku saat ini sama dengan melawan hukum," Sasuke kembali mengancam.
Hiashi melepaskan tangannya. Hinata terduduk di sofa. Segala terasa kacau.
"Ayo kita pergi, Kou. Kita akan kembali dengan pengacara terbaik Hyuuga."
Hentakan keras kaki Hiashi disusul oleh Kou yang sempat menunduk pamit pada Hinata. Pintu terbuka dan tertutup. Empat orang di ruangan berkurang menjadi dua.
"Ya Tuhan! Sekarang aku harus bagaimana!" Desis Hinata. Tubuhnya luruh di sofa. Sasuke mencoba mendekat, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat mata perak Hinata telah berlinang air.
"Kau sendiri yang bilang kan, akan tinggal di bawah perlindungan kepolisian? Hinata, ikutlah bersamaku ke kediaman Uchiha."
.
.
.
To be continued
Hai semua. Lama tak jumpa. Semoga updatenya fic ini bisa membawa sedikit kebahagiaan buat kita semua.
YOU ARE READING
Yours
FanfictionHinata terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Setengah sadar ia melihat tubuhnya yang telanjang dan penuh ruam kemerahan di sekitar leher dan dada. Tunggu! Siapa lelaki yang tidur di sampingnya? Demi Klan Hyuga! Tidak ada yang boleh ta...
