___________
Raut wajah penuh amarah, khawatir dan sedih Jungkook terlihat begitu jelas ketika Jihan dan pria itu keluar bersamaan dari ruang klinik obgyn. Tangan Jihan terus digenggam selama mereka berjalan melewati kerumunan orang yang juga datang ke klinik itu.
Jihan meneguk ludah takut saat melihat kekasihnya terus menatap ke arah depan, namun dari sorot mata bulatnya terlihat begitu jelas bahwa pria itu sedang menahan sesuatu. Jihan yakin, Jungkook akan memarahinya setelah ini.
Di kos tadi, Jungkook sempat membentak walau tidak kasar karena bisa-bisanya Jihan sudah tahu sedang hamil muda, malah minta berhubungan badan.
Dokter sempat menanyakan kenapa tadi Jungkook bisa sepanik itu datang bersama Jihan. Di kos tadi, Jungkook sempat membentak walau tidak kasar karena bisa-bisanya Jihan sudah tahu sedang hamil muda, malah minta berhubungan badan. Dari raut wajah nampak panik dan takut hingga segera mengajak Jihan untuk mengecek keadaan janin.
Jungkook merasa tadi agak kasar, ia takut terjadi apa-apa dengan kandungan Jihan. Sampai di klinik ia menjelaskan apa yang terjadi pada dokter hingga membuatnya bisa sekhawatir ini. Jihan sampai malu mendengar kejujuran Jungkook pada dokter di ruang periksa, bahkan pria itu menyampaikan mereka pakai posisi seperti apa saat berhubungan tadi.
Setelah mendengar penuturan Jungkook, dokter menjelaskan bahwa kandungan Jihan baik-baik saja. Janinnya kuat meskipun baru memasuki usia dua minggu kurang, memang belum terbentuk dan hanya berupa gumpalan darah. Tidak ada gejala serius, hanya saja sekarang Jihan harus bisa mengendalikan mood-nya yang terombang-ambing selama masuk dalam masa kehamilan muda. Tidak ada larangan untuk melakukan seks ketika hamil, kecuali jika memang ada masalah pada kondisi si ibu ketika hamil.
Dalam mobil, menuju perjalanan ke kos, Jihan sama-sama menghening dengan Jungkook. "Jeon Ssaem ..." kata Jihan rendah sembari melirik Jungkook sekilas. Raut wajahnya tak bisa Jihan prediksi sedang merasakan apa. Mata bulatnya hanya fokus menatap jalanan.
"Jelaskan saat kita sampai."
Jungkook mengatakan itu tenang walau di balik matanya tersirat gurat kemarahan dan sedih, Jihan tidak tahu harus melakukan apa selain diam sampai kendaraan itu berhenti di depan gerbang kosnya. Sekarang sudah pukul sembilan malam sejak Jihan diajak ke klinik untuk periksa.
Keadaan di sekitar tempat itu sepi sebab semua penghuni sudah masuk ke kamarnya masing-masing, membuat suasana yang Jihan rasakan selama berjalan menuju kamarnya bersama Jungkook jadi semakin tegang.
Sampai di depan kamarnya, Jihan segera mencari kunci untuk membuka pintu. Ia sempat melirik ke arah Jungkook untuk memeriksa raut wajahnya seperti apa, Jihan hanya takut langsung diumpati dan dimarahi ketika mereka sudah masuk ke dalam nanti.
Segera setelah pintu dibuka, Jihan masuk disusul dengan Jungkook di belakang. Jihan buru-buru mencari saklar lampu lalu melepas cardigan cokelatnya dan menggantungnya di pegangan lemari. Tak mendengar suara gerakan kaki, Jihan berbalik pelan-pelan untuk menatap Jungkook.
Gadis itu terkejut melihat kekasihnya tiba-tiba mengeluarkan cairan bening dari mata, kontan membuat Jihan panik di tempat dan segera menghampiri Jungkook yang sedang meringis dan merentangkan tangan pada Jihan.
"Maafkan aku ..." lirihnya memeluk erat-erat Jihan, lalu merosot begitu saja memeluk paha Jihan. Seakan meminta pengampunan atas apa yang ia perbuat. "Hukum aku, Jihan, pukul aku keras-keras jika itu bisa membuatmu lebih baik ..." Jungkook menunduk dalam dengan tangan bergetar sembari memeluk kaki Jihan.
"J-jeon Ssaem .." Jihan cemas dengan keadaan yang ia alami sekarang, melihat Jungkook memohon tiba-tiba seperti ini membuat Jihan bingung harus melakukan apa selain ikut merintih dan berusaha menarik pria itu agar segera berdiri. "Bangunlah, jangan seperti ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sport ✔
Hayran KurguCOMPLETED | BOOK 2 TERSEDIA DALAM BENTUK EBOOK Jeon Ssaem mengajarkan dua jenis olahraga pada Jihan. Mau tahu? Start : 3 Mei 2020 Fin : 4 Februari 2022 ©Arriverdeci 2020
