_____
Sulitnya Jihan saat ingin menyisir rambutnya selepas mandi, benjol di kepalanya itu jadi semakin sakit ketika menyentuh sisir. Sebenarnya Haseul itu sejenis monster atau apa sih, sampai-sampai membuat kepalanya seperti ini. Untung Jihan tidak sampai gegar otak.
Menggelung rambutnya asal, Jihan mendekat ke arah ranjang. Ia mau tidur lebih awal, berharap agar besok sakit di kepalanya ini langsung hilang. Seharusnya Jihan keramas hari ini, tapi karena sebelah kepalanya sakit ia jadi enggan—padahal sejujurnya ia malas untuk membasuh kepala dengan air. Itu sulit menurutnya. Maklum, Jihan kumat lagi.
Lampu kamar dimatikan, tapi lampu kamar mandi dan lampu belajar masih menyala agar ada sedikit cahaya nampak karena Jihan lumayan takut dengan yang namanya kegelapan. Apalagi malam ini ia tidur sendirian, tapi tunggu dari dulu juga ia memang tidur sendirian.
Jujur, kalau keadaannya ketika tidur dipeluk seseorang, segelap apapun tempatnya pasti Jihan langsung pulas. Apalagi yang memeluk badannya besar. Oke, tidak perlu Jihan jabarkan orangnya, semua juga sudah bisa menebak siapa.
Hari ini, Jihan ceritanya tengah berpura-pura marah dengan Jungkook. Sebenarnya ingin sekali menghubungi laki-laki itu, tapi ia masih gengsi untuk menghubunginya duluan. Karena, tahulah, pihak gadis biasanya jual mahal kalau sedang merajuk. Sama halnya dengan sekarang, ingin setidaknya mendengar kabar Jungkook walau tadi siang mereka sudah bertemu di sekolah.
Jihan sudah merasakan akhir-akhir ini ia butuh setidaknya melihat Jungkook sebanyak enam kali dalam sehari. Aneh, tapi memang kadang ia suka menghitung berapa kali ia melihat Jungkook.
Karena kejadian bola tadi pagi membuat Jihan jadi enggan menelepon Jungkook. Sialnya lagi, Jungkook tidak mau berinisiatif menghubunginya sekadar yah, bertanya mau makan apa seperti biasa-biasanya.
Tidak ada sama sekali. Bahkan tadi Jihan tidak membeli makan malam karena berharap Jungkook-nya datang hari ini membawa makanan. Sampai sekarang pukul delapan tidak ada satu pesan yang masuk, tadi Jihan terpaksa makan ramen di malam hari.
Benar-benar Jungkook minta diabaikan sepertinya. Eh tapi ini Jihan yang diabaikan, bukan sebaliknya.
Jihan bergulir ke samping menghadap guling, memeluknya erat. Empuk tapi tidak hangat. Tidak seperti Jeon-Ssaem, yang kalau didekap saja sudah hangat tanpa selimut. Jihan merasa bingung, kenapa dirinya jadi memikirkan Jungkook, ya?
Menggelengkan kepalanya pelan, Jihan akhirnya membenamkan wajahnya di depan guling mencoba menghirup aroma parfum Jungkook yang masih tertinggal sedikit di sana. Sudah selama setengah jam ia menutup mata, mencoba untuk tidur tak bisa-bisa.
Jihan mengambil ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan kurang, dan ia mencari room chat-nya bersama Jungkook. Tidak ada sama sekali satu pesan baru yang masuk. Hanya ada pesan guru itu yang mengatakan pasal remedial. Ah seharusnya Jihan balas pesannya ini, nanti pasti dibalas terus oleh Jungkook.
Bibirnya memanyun, lebih baik ia mencari hiburan di ponselnya ini. Saat Jihan tengah bermain game, ia mendengar suara ketukan pintu di depan kamarnya, ada seseorang ke sini.
Sontak saja Jihan langsung bangkit dari ranjang. Menatap horor pintunya, kalau itu Jungkook biasanya waktu mengunjunginya itu pasti sore atau tidak paling malam itu jam delapan. Ini sudah lumayan larut, Jihan merasa takut saja.
Perempuan Kim itu langsung meringsek berdiri hendak mengintip orang itu lewat jendela di samping pintu, tapi ponselnya lebih dulu berbunyi. Menampilkan nama Ssaem Tampan di sana menelepon, dengan segera Jihan mengangkatnya.
"Halo,"
"Kau sudah tidur?"
Jihan bisa mendengar suara Jungkook menggigil di sana, "Belum."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sport ✔
FanficCOMPLETED | BOOK 2 TERSEDIA DALAM BENTUK EBOOK Jeon Ssaem mengajarkan dua jenis olahraga pada Jihan. Mau tahu? Start : 3 Mei 2020 Fin : 4 Februari 2022 ©Arriverdeci 2020
