________
Tiba saatnya hari ini, di mana latihan kedua diadakan, Jihan merasa bosan sih, tapi tidak sampai menghilangkan rasa semangat.
Jihan sekarang tengah duduk memperhatikan temannya yang lain meregangkan tubuh, padahal pelatihnya belum datang. Oh, lupa kemarin ia kembali dikirimi pesan oleh Jeon-Ssaem.
Jungkook ingin dianggap menjadi mentor olahraga Jihan. Memaksa bahkan guru itu kemarin minta begitu. Katanya, Jungkook itu tidak suka melihat murid-muridnya enggan berolahraga.
Jihan tahu, kok. Jungkook hanya beralibi agar pesannya dibalas dan ia juga sangat tahu guru itu tertarik dengannya.
Dari sikapnya, Jihan dapat menilai Jungkook ingin menganggapnya lebih dari sekedar murid dan guru. Mungkin bisa dibilang teman. Tapi bagaimanapun Jihan masih mempertahankan rasa sopannya pada Jungkook meskipun guru itu menyebalkan, sering mengganggu waktu istirahatnya.
Dibilang tidak suka, tidak juga. Dibilang suka, tidak tahu. Jihan bahkan sampai pusing memikirkan apa yang terjadi kemarin ketika Jungkook menyentuh bibirnya. Ia kira Jungkook minta imbalan ciuman begitu sebagai balas budi karena sudah membayar iuran sekolahnya. Jihan, kan takut.
Tapi sepertinya Jihan terlalu kebanyakan berasumsi berlebihan dengan Jungkook. Mungkin memang maksud gurunya itu baik, hanya saja wajahnya itu nakal. Membuatnya berpikir yang tidak-tidak saja.
Baru saja Jihan pikirkan, Jungkook sudah datang ke ruangan itu. Semua murid langsung menatapnya dan ikut bergerak berkumpul di depannya. Jihan memilih berbaris paling belakang. Merasa gugup saja, karena semalam dan sekarang situasinya berbeda.
Kalau kemarin malam mereka saling membalas pesan dengan kata-kata yang santai, berbeda dengan sekarang saling menatap hawanya terasa aneh.
Jadi daripada dirinya merasa parno dengan gurunya itu, lebih baik Jihan bersikap normal. Seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Jungkook kemarin.
Jungkook menyuruh melakukan stretching terlebih dahulu. Mulai dari gerakan dinamis dan statis, ia juga memberikan beberapa konsep dasar dan juga memberitahu apa fungsi dari gerakan itu.
Kalau dilihat begini, memang gurunya yang satu itu sangat profesional dan disiplin dalam mengajar meski mata-mata teman perempuan Jihan terlihat berbinar setiap Jungkook melakukan sesuatu.
Setelah melakukan stretching, Jihan dan Sera kembali duduk di habitatnya tadi. Mereka berdua nampak malas melakukan roll depan dan belakang seperti suruhan Jeon-Ssaem, kedua gadis itu hanya memandang teman-teman lain sambil menunggu giliran.
“Lihatlah, dia mulai mencari perhatian.” Sera menunjuk menggunakan dagu memberitahu Jihan.
Bisa Jihan lihat Haseul yang berbalut pakaian ketat itu mencoba meminta bantuan Jungkook untuk diajarkan bagaimana cara melakukan roll depan. Padahal menurut Jihan itu mudah sekali.
“Dasar centil!” umpat Sera tapi tidak sampai berteriak.
Melihat itu Jihan jadi berpikir betapa senangnya Jungkook jadi guru di sini. Bisa dapat gandengan salah satu muridnya kalau dia mau, apalagi dia tampan dan berkelakuan baik jadi pasti banyak perempuan di sekolah ini yang suka.
Mungkin termasuk dia sendiri. Yah, tapi Jihan tahu diri, tidak mau memperlihatkan rasa sukanya pada Jungkook. Banyak lawannya yang jauh lebih mendukung untuk dijadikan kekasih guru muda itu. Ah, kenapa Jihan jadi membahas itu.
“Kalian berdua,”
Kedua mata Jihan sontak mengerjap cepat kala mendengar Jungkook memanggil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sport ✔
FanfictionCOMPLETED | BOOK 2 TERSEDIA DALAM BENTUK EBOOK Jeon Ssaem mengajarkan dua jenis olahraga pada Jihan. Mau tahu? Start : 3 Mei 2020 Fin : 4 Februari 2022 ©Arriverdeci 2020
