_______
Dua minggu berlalu sejak kejadian malam di kos, hubungan Jihan dan Jungkook berjalan seperti biasa walau sikap Jihan akhir-akhir ini tidak seceria dulu.
Sudah selama itu juga Namjoon tidak menghubungi Jihan entah menanyakan kabar atau apapun yang dulunya sering dilakukan Namjoon sebelum ada masalah. Hanya lewat Seyoung, Jihan tahu bagaimana keadaan kakaknya.
Namjoon pikir, saat Yoongi selalu menceritakan padanya jika Jihan selalu dikunjungi ke kos oleh Jungkook, itu artinya Jihan memang nyaman dengan keadaannya sekarang. Tidak butuh seorang kakak lagi.
Padahal kenyataannya, Jihan selalu sendirian di kos. Jungkook hanya datang membawakan makanan lalu setelahnya pergi lagi. Pria itu disibukkan dengan kegiatan para guru untuk mengikuti program pemerataan pendidikan.
Tepat malam ini, Jungkook bilang ia akan pulang. Jihan sudah menunggu selama sejam sejak selesai membersihkan diri. Mendengar suara pintu diketuk, ia buru-buru membukanya dan langsung tersenyum senang melihat Jungkook yang begitu lusuh dan lelah ada di depannya.
"Aku terlambat datang." Jungkook masuk lalu melihat binar mata Jihan melirik ke arah bingkisan yang ia bawa, Jungkook langsung terkekeh, "Lapar, ya?"
Jihan mengangguk lantang, buru-buru mengambil barang bawaan kekasihnya. "Makan dulu, baru mandi."
Pria Jeon itu duduk di bawah ranjang, menunggu Jihan membawa perlengkapan makan. Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya sekadar pengalaman Jungkook ikut program yang dilakukan sekolah.
Entahlah, biasanya Jungkook akan cerewet jika sudah terlalu lama tak bertemu dengan Jihan. Jungkook rindu sekali sejujurnya, tapi melihat keadaan kekasihnya sekarang, ia rasa masih sama seperti minggu sebelumnya. Murung dan banyak terdiam. Jungkook jadi mengurungkan niatnya berbicara.
Beberapa menit sesudahnya, mereka selesai makan. Jungkook membantu Jihan menaruh kembali meja kecil khusus makan itu ke tempatnya.
"Ssaem,"
"Ya?"
Jihan menggigit bibirnya gugup dengan tangan yang menunjuk ke arah wastafel, "Tolong cuci piringnya, ya? Jihan tak enak badan."
Mata bulat Jungkook membola, segera menghampiri Jihan yang memang gurat wajahnya agak lesu. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku bisa antar ke dokter, kau demam?" Telapak tangan Jungkook menyentuh dahi Jihan, mengecek suhu badannya.
"Tidak," Jihan menjauhkan tangan kekasihnya, lalu tersenyum kecil agar Jungkook tidak khawatir, "Hanya lelah."
"Yakin? Kalau sakit itu bilang sebelumnya." Jungkook berlalu ke arah wastafel untuk mencuci piring, "Tidurlah lebih awal malam ini dan jangan banyak pikiran."
Senyum Jihan merekah saat mendengar Jungkook mengomel. Lucu, bibirnya manyun-manyun begitu. Segera perempuan itu berbaring di atas ranjang dengan mata yang masih mengarah pada Jungkook yang membelakanginya.
Jihan merasa tenang dan senang saat melihat kekasihnya. Sebab beberapa hari ini ia benar-benar tidak bertemu langsung dengan Jungkook. Hanya lewat panggilan telepon saja.
Beberapa saat setelah Jungkook usai dengan kegiatan membersihkan piring kotor, ia bergegas menuju ke arah kamar mandi untuk melepas kemeja kerjanya yang begitu lecek.
Pria itu terkejut saat berhasil meloloskan kemeja, Jihan yang tiba-tiba datang tanpa alasan langsung memegang lengannya. Wajahnya masih kelihatan lelah. "Aku mau mandi." Jungkook menghadap Jihan dengan keadaan bertelanjang dada, "Kenapa?"
Jihan menggigit bibir bawah sebelum berbicara, "J-jangan mandi."
"Apa?" Jungkook mengerjap tak dengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sport ✔
FanfictionCOMPLETED | BOOK 2 TERSEDIA DALAM BENTUK EBOOK Jeon Ssaem mengajarkan dua jenis olahraga pada Jihan. Mau tahu? Start : 3 Mei 2020 Fin : 4 Februari 2022 ©Arriverdeci 2020
