07. I See Yours

44.2K 3.9K 1.2K
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


“Mana ciumnya yang bilang kangen?”
____________

Hari ini, Jihan bangun dengan perasaan tenang. Padahal kakinya sakit, tapi keadaan hatinya malah berseri. Ia mengikuti titah Jungkook kemarin yang menyuruh untuk terus memijat pergelangan kaki agar merasa lebih baik.

Buktinya ketika bangun pagi, kakinya tidak terasa sakit seperti kemarin. Mungkin hanya dagunya saja yang masih sedikit lecet. Ia memilih tetap sekolah, tidak mau hanya karena kaki terkilir malah absen. Oh, Jihan tidak selemah itu.

Lagipula Jungkook tidak mengadakan latihan hari ini, mungkin sedikit alasannya karena Jihan. Entah, kemarin guru itu bilang begitu sebelum pergi dari kostnya, dan Jihan tidak mau bertanya kenapa.

Setelah selesai mandi dan menyiapkan diri, Jihan langsung bergegas keluar kamar dan menguncinya. Tidak sarapan, karena ia memang tak terbiasa makan di pagi hari—yah, alibi padahal sebenarnya ingin menghemat.

Sore nanti pemilik kost akan datang, masih untung ia memiliki uang dari pembayaran iuran yang tidak jadi itu, jadi Jihan bisa pakai untuk bayar sewa kost nanti.

Cara Jihan membawa langkah masih agak terseret, ia lebih banyak menggunakan kaki kirinya untuk berjalan dan berpijak. Perempuan itu melangkah pelan di trotoar jalan, kurang lebih sekitar 200 meter halte bus berada. Jadi sepanjang itu ia harus berjalan dengan hati-hati agar nanti keadaan kakinya tidak parah.

Tapi baru akan melangkah lagi, Jihan dikagetkan dengan suara klakson mobil dari arah samping. Hampir mengumpati si pengemudi yang tidak sopan itu, kalau saja ia tahu pelakunya itu adalah gurunya sendiri.

“Pagi, Jihan. Ayo masuk,” ajak Jungkook dari balik jendela mobil yang terbuka.

Apa? Kenapa dengan gurunya itu, datang-datang malah suruh-suruh masuk mobil? Tidak ada basa-basi terlebih dahulu.

Jihan menolak halus kebaikan Jungkook, merasa nanti terlalu banyak dirinya menyusahkan gurunya itu, “Terima kasih Ssaem, tapi Jihan pakai bus saja. Dekat, kok dari sini.”

“Aku tidak mau mengganti peserta lagi, jadi jangan sampai muridku keadaannya makin buruk di hari perlombaan. Kalau ada yang lebih mudah kenapa harus cari yang sulit, Jihan? Masuklah.”

Jihan menelan ludah gugup sebelum menjawab, ia memperhatikan keadaan sekitar terlebih dahulu. Takut nanti ada teman sekolahnya yang kebetulan lewat, bisa jadi bahan perbincangan sekolah kalau ia dilihat masuk ke dalam—mobil Jeon-Ssaem.

Perempuan itu akhirnya berjalan mendekati kendaraan Jungkook, dan Jungkook yang melihat itu kembali merasa senang—kelewat senang.

“Duduklah di depan.”

Jihan yang hendak membuka pintu belakang mobil itu terhenti kala mendengar suruhan sang guru. Memang sedikit tidak sopan kalau Jihan duduk di belakang, Jungkook ibarat menjadi supirnya kalau begitu.

Sport ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang