Makasi ya, udah tembusin target, updatenya jadi ga lama, 'kan, walau ngaret hehe. Target lagi mau gak? 2,2k vote 2k komen, bisa kan. Komennya bebas aja gapapa>_<
___________
Baru dua hari tinggal di rumah sang kakak, membuat Jihan murung menjalani kegiatan sehari-harinya. Ia diperlakukan baik oleh kakak iparnya di sana, tapi ia merasa ada sesuatu yang membuatnya hampa. Jihan rindu dengan Jungkook.
Meskipun mereka selalu berhubungan melalui telepon, tak jarang Jihan selalu menahan tangis melihat Jungkook di balik layar telepon. Pria itu sudah membicarakan masalahnya bersama Namjoon di sekolah Jihan tepat hari ini, pihak sekolah memberikan Jihan hak istimewa dengan memberikannya waktu untuk mengikuti ujian akhir sekolah.
Karena tinggal empat bulan lagi, Jihan sebenarnya sudah bisa lepas dari sekolah alias lulus. Sangat disayangkan kalau ia putus sekolah. Setidaknya kehamilannya masih bisa disembunyikan sebelum perutnya benar-benar membesar nanti.
Pihak sekolah membiarkan Jihan tetap mengikuti ujian dan tidak mengeluarkannya dari sekolah sampai lulus, karena Jihan memberikan nama baik bagi sekolah karena prestasi akademiknya selama ini. Berbeda dengan Jungkook, kepala sekolah menuntut Jungkook agar segera angkat kaki dari sekolah.
Tapi atas permohonan Namjoon yang semerta-merta ingin membantu—sebenarnya karena Jihan—pada akhirnya Jungkook diberikan waktu sampai beberapa bulan lagi. Pada kasusnya ini, hak guru Jungkook akan dicabut sementara waktu bahkan beberapa mengajukan agar Jungkook turun pangkat dari profesinya. Setidaknya itu baru keputusan yang belum disetujui, jadi Jungkook sekarang memikirkan nasibnya akan seperti apa.
Pulangnya Jihan dari sekolah bersama Namjoon hari ini usai menyelesaikan beberapa masalah di sekolah, agaknya membuat pria Kim itu suntuk. Banyak sekali sesuatu yang ia pikirkan saat ini, itu membuat Jihan yang selesai makan siang langsung menemui kakaknya yang sedang duduk di teras rumah menatap kosong apa yang ada di depannya.
Jihan menunduk sebentar, merasa sangat bersalah membuat kakaknya kecewa dan repot mengurusinya seperti sekarang. Perlahan gadis itu mendekat, membuat Namjoon yang merasakan ada pergerakan langkah kaki langsung menoleh.
"Ayo, duduk di sini." Namjoon menepuk ruang kosong di depannya, menyuruh Jihan untuk duduk bersama. Senyum lelah Namjoon nampak kelihatan jelas, ia berusaha membuat Jihan untuk tidak merasa sedih dengan keadaannya sekarang.
Jihan duduk dengan tangan yang dimainkan di atas paha sembari ekor matanya melirik-lirik Namjoon. "Kak Namjoon, Jihan minta maaf."
"Ini ke berapa kalinya kau mengatakan itu?" Namjoon terkekeh.
"Maaf membuat Kak Namjoon kecewa, Jihan tidak bisa menjaga diri Jihan sendiri dengan baik."
Namjoon menggeleng, lalu memegang kedua tangan adiknya. "Aku yang tidak menjagamu selama ini, membiarkanmu sendirian. Janjiku pada ayah untuk menjagamu tidak aku tepati."
Jihan bergerak untuk mencapai tubuh kakaknya, memeluk dengan erat dengan tangis yang tak bisa ia tahan. "Jihan malu, Jihan beban bagi Kak Namjoon ..."
Pria Kim itu langsung menepuk punggung adiknya, "Jangan katakan itu, aku tak pernah merasa dibebani oleh adikku sendiri. Jangan menangis lagi, kasihan calon bayi di perutmu."
Masih bertahan dari posisinya merengkuh tubuh besar kakaknya, Jihan menoleh ke samping, pipinya bersandar tepat di dada Namjoon. "Jihan tidak bisa tenang walaupun Kak Namjoon memaafkan. Kesalahan Jihan tidak sepantasnya dimaafkan."
Namjoon menepuk tenang punggung adiknya dengan dagunya yang menumpu di atas kepala Jihan. "Iya kau benar, aku kecewa dan merasa heran denganmu. Apa keadaan harus parah lebih dulu baru kau berani untuk jujur dan menghadapi semuanya bersamaan?" Pria itu menjauh, menangkup pipi Jihan yang semakin tembam namun basah akibat air mata itu, "Menunda suatu hal seperti itu tak jauh beda dengan menambah masalah menjadi lebih susah untuk diselesaikan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sport ✔
Hayran KurguCOMPLETED | BOOK 2 TERSEDIA DALAM BENTUK EBOOK Jeon Ssaem mengajarkan dua jenis olahraga pada Jihan. Mau tahu? Start : 3 Mei 2020 Fin : 4 Februari 2022 ©Arriverdeci 2020
