__________
"Kak Namjoon, sibuk ya?" Kaki-kaki mungil milik Jihan bergerak cepat merangkak ke arah kasur dengan tangan sebelahnya masih lekat memegang ponsel, sedang berbicara dengan sang kakak.
"Maaf, ya aku tidak bisa mengunjungimu untuk sekarang, kemungkinan dua hari lagi aku ke sana. Anak-anakku sedang rakus sekali minum susunya jadi tiap minggu harus punya pemasukan."
Jihan mengangguk paham, meski itu tidak dilihat oleh sang kakak. Dirinya sudah besar, jadi pasti mengerti keadaan sang kakak. Bukan hanya Jihan saja yang diutamakan di sini. Namjoon juga punya keluarga dan tanggungan.
Kadang di saat seperti ini ia berpikir merasa tidak berguna sekali menjadi manusia. Hanya menyusahkan kakaknya dan juga orang lain.
Pasti Namjoon stres mengurusi dua kepentingan sekaligus, ditambah yang Jihan lihat istri kakaknya itu sedikit cemburu dengannya. Ya kelihatan jelas, sih.
Kalau Namjoon lebih proktektif ataupun mementingkan Jihan, iparnya itu pasti langsung mencetak wajah kecut. Jihan tahu kalau wanita itu sangat menyayangi kakaknya, tapi ia merasa risih saja diperlakukan begitu.
Sebenarnya iparnya itu baik, sangat baik malah. Tapi wanita itu akan beda jika Namjoon lebih memilih memperhatikan Jihan ketimbang dirinya.
Dan ingat kembali, Jihan itu tipikal orang yang sangat rentan terbawa perasaan. Jadi melihat iparnya begitu padanya, lebih baik ia mengalah dan tak ikut campur.
Biarlah, Namjoon sudah jadi hak paten kakak iparnya.
"Jihan tutup teleponnya, ya?"
"Iya, ingat tidur lebih awal malam ini. Jangan begadang, dan rajin sekolah."
Perempuan itu terkekeh sejenak sebelum mnejawaab, "Siap, Kakak!"
Setelah memutuskan panggilan dari Namjoon, Jihan langsung mendesah berat. Matanya menyorot ke atas, memandangi atap kamar kecilnya ini.
Pikirannya tiba-tiba kosong, ia hanya ditemani oleh suara dentingan jarum jam di atas meja belajar sana. Tinggal di kost-an kecil sendirian, kadang makan tidak teratur, belum lagi tiap hari selalu ada yang menagihinya uang.
Oh iya, Jihan lupa lagi memberitahu kakaknya pasal uang sewa kost-nya ini. Tadi siang ketika pulang sekolah ia dicegat pemilik kost, karena Jihan telat membayar.
Tapi, ketika berpikir berulang-ulang Jihan terlalu banyak meminta pada sang kakak. Sulit sekali. Jihan malu untuk mengatakannya.
Mungkin sebaiknya ia bekerja. Tunggu, tapi kerja apa? Pekerjaan apa yang cocok dengannya yang pemalas ini? Tidur, mungkin.
Baru sekejap dirinya memejamkan mata untuk merilekskan pikiran, ponselnya kembali berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Jihan lekas membuka pesan yang ia ketahui dari temannya.
Sera
Ingatlah, besok sudah mulai latihan.
Tiba-tiba Jihan langsung berdecak kesal. Kenapa mesti diingatkan? Pesan Sera ini benar-benar menghancurkan mood-nya, sudah pusing ditambah kesal.
Jihan
Aku memundurkan diri.
Aku malas.
Sera
Jangan berkata begitu
padaku. Katakan saja
pada Jeon-Ssaem.
Kalau kau berani.
Nah itu masalahnya. Jihan tidak berani bilang begitu. Dari sekian banyaknya perempuan di kelas, kenapa harus Jihan yang dipilih? Jihan, kan tidak berguna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sport ✔
FanfictionCOMPLETED | BOOK 2 TERSEDIA DALAM BENTUK EBOOK Jeon Ssaem mengajarkan dua jenis olahraga pada Jihan. Mau tahu? Start : 3 Mei 2020 Fin : 4 Februari 2022 ©Arriverdeci 2020
