Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Heyho semua, Mas Ganteng Jeon-Ssaem lama banget ya nongolnya? Huhu ini akibat beberapa hari lalu akun ini gak bisa masuk karena emailnya hilang alias gak ada. Tapi akhirnya akunku bisa kembali. Buat kalian semua, I apple you🍏
__________
Sekarang Jihan baru merasakan, ternyata kalau berolahraga dengan Jungkook itu perlu waktu dan durasi yang lumayan lama. Tambahan lagi, Jihan sangat kelelahan sekarang.
Tahu sendiri, kan fisik dan tenaga Jihan itu cepat sekali menurun. Maksudnya, sangat mudah kelelahan. Dulu, ketika masih kecil Jihan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk di atas kursi memandangi buku catatan. Bermain-main dengan teman itu bukan hobinya.
Jihan itu pintar—tapi tak sepintar kakaknya. Bahkan dulu Jihan sempat bercita-cita ingin pintar seperti Namjoon.
Sesaat, ketika tengah terdiam di dalam mobil, suara Jungkook menginterupsi rungu Jihan. "Mau makan apa untuk malam nanti?"
Dalam hati, Jihan tertegun. Tiap saat selalu ditanyai kapan makan, mau makan apa dan semua tentang makan. Bisa-bisa nanti seiring berjalannya waktu Jungkook akan bertanya padanya, 'Kaubolehkumakan?'
Ah, entah kenapa Jihan berpikiran negatif begitu, "Apa saja, Ssaem. Yang penting bisa dimakan dan enak." Menolak makan? Bukan gaya Jihan sekali.
Menghentikan mobilnya di depan kedai, Jungkook akhirnya keluar dan menyuruh Jihan untuk menunggunya. Tak beberapa lama, pria itu datang membawa sekantong makanan yang ia bawa dari dalam kedai.
"Kalau ingin makan sesuatu, beritahu aku. Pasti aku belikan, jangan malu-malu." katanya seraya memberi makanan pada Jihan.
Memang beruntung juga punya kekasih, apa-apa urusan makan selalu diutamakan. Mulai sekarang Jihan tidak akan terkena busung lapar lagi kalau sudah bersama Jungkook. Tidak masak mi tiap hari lagi, karena kalau urusan makan bisa minta pada Jungkook. Senangnya.
Tak sampai lama, akhirnya mobil hitam milik Jungkook berhenti di depan gerbang kost-an Jihan. Dalam hati Jihan sudah bisa memprediksi pasti penghuni-penghuni di kostnya mulai berasumsi mengenai laki-laki yang akhir-akhir ini mendatangi kamarnya.
Tapi Jihan berusaha untuk biasa saja dalam menyikapinya. Lagipula itu urusan pribadi, jadi jika ada orang yang bertanya mengenai Jungkook, sebisa mungkin akan Jihan jawab Jungkook adalah kekasihnya. Tidak mau kalau nanti Jihan bilang kalau Jungkook adalah gurunya di sekolah, mungkin pikiran yang lainnya malah jadi aneh-aneh.
Setelah mendengar Jungkook membuka kunci mobilnya, Jihan melirik ke samping memperhatikan Jungkook yang masih mengerjapkan mata memandanginya.