Nakala -6-

11.4K 1.3K 126
                                        

Senin adalah satu dari tujuh hari dimana seseorang dipaksa meninggalkan dua hari bebasnya untuk kembali bergelung dengan kesibukannya.

Pembuka Minggu. Sungguh sangat menyebalkan.

Naka sebenarnya tidak ada masalah dengan itu tapi saat masuk SMA lalu berteman dengan teman kelasnya yang selalu mengeluh akan betapa menyebalkannya hari ini Naka menjadi berpikir demikian juga. Pengaruh buruk memang.

Berbaris sesuai kelas saat upacara juga bagian dari menyebalkannya hari ini. Naka hanya berdiri di belakang Arsen dengan Devon di sampingnya juga Devi, kembaran Devon yang ada di kelas sebelah yang berbaris tepat di sebelahnya.

Awalnya Naka dengan polos bertanya pada Devon "Dev mau sebelah adik Lo nggak ??"

Devon hanya mendelik dan berdecih sinis "Idih ngapain"

Dan dengan jawaban sarat cibiran itu Naka berakhir ada di tengah anak kembar itu. Devi sedikit banyak juga mengenalnya.

Ini rahasia tapi Devi pernah menyatakan perasaan pada Jiel lewat dirinya. Entah apa motivasinya tapi Naka iya iya saja saat Devi meminta bantuannya agar Jiel mau diajak Devi ke cafe seberang jalan.

Tapi pada akhirnya Jiel yang dingin menolak Devi. Kasian tapi Naka tidak bisa berbuat apa-apa. Itu hak Jiel.

Sejak itu juga hubungan Devi dan Naka agak dekat. Awalnya karena berbeda kelas Naka hanya mengenal Devi sebagai saudara kembar Devon temannya. Tapi sekarang agaknya Naka bisa menyebut Devi sebagai temannya sendiri.

Upacara baru sampai amanat pembina saat Naka maju dan meletakkan kepalanya di bahu Arsen. Terik matahari benar-benar mengganggunya.

"Bang panas"

Arsen menoleh sekilas tangannya bergerak mengelus kepala Naka yang bertengger di bahunya.

"Pusing gak ?? Ke belakang gih atau mau ke UKS aja ??"

Naka menggeleng pelan.

"Gak pusing cuman panas, gak usah ke belakang deh bentar lagi ini"

Arsen mendengus kemudian dengan tangan kirinya dia menutupi wajah Naka agar tidak langsung terpapar matahari.

"Lix miringan dong adek gue kepanasan"

Felix melirik sekilas tapi selanjutnya memiringkan sedikit tubuhnya agar Naka terlindung dari matahari.

Lalu Devon tanpa disuruh turut maju sedikit dan memiringkan tubuhnya, memblokir celah matahari yang menusuk. Sehingga tau-tau Naka tidak terkena matahari sama sekali.

"Nih pakai ini Sen" Devi dari sebelah kanannya juga turut andil mengangsurkan kipas elektrik kecil kepada Arsen.

"Oi makasi"

"Santuy elah"

Lalu begitu saja Arsen menyalakan kipas itu dan mengarahkannya ke wajah Naka.

"Mendingan ??"

"Hm"

Naka masih meletakkan kepalanya di bahu Arsen saat bibirnya mengukir senyum tipis. Mudah sekali membuat hatinya menghangat.

Oh ngomong-ngomong sepertinya mereka menjadi pusat perhatian.

🌓🌓🌓

Hari Senin bagi murid biasa saja sudah luar biasa menyebalkan. Apalagi budak organisasi macam Reno, sudah tentu menyebalkannya hari ini bertambah tiga kali lipat.

Belum lagi sebagai anggota OSIS yang akan berganti jabatan harus mendisiplinkan mereka yang terlambat, yang tidak lengkap atributnya dan pekerjaan budak sekolah lainnya. Merepotkan.

Nakala ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang