Saudara kembar itu katanya punya kelebihan dibandingkan saudara pada umumnya. Katanya punya sesuatu hal yang hanya mereka yang mengerti.
Katanya jika satu merasa sakit yang lainnya akan ikut merasakan. Katanya mereka terikat terlalu kuat.
Tapi bagi Jiel itu tidak terlalu benar agaknya. Karena dari pada memahami Reno, Jiel merasa lebih mudah memecahkan soal fisika.
Reno itu terlalu rumit. Bahkan untuknya yang merupakan saudara satu rahim bahkan berbagi makanan bersama dalam satu kantong tipis rahim ibu.
Dan Jiel akui dia tak pernah mampu membaca semua tindakan Reno. Jiel mendesah, entah kenapa Reno terasa jauh sekali.
Dari dulu Reno lebih senang menghabiskan waktu sendiri untuk belajar ataupun hal yang lainnya. Namun sekali lagi mereka saudara kembar Jiel merasa kosong saat Reno tak ada disisinya.
Jiel mendesah membiarkan dirinya dengan mata tertutup merebah di sofa panjang ruang tamu.
Saat seseorang membuka pintu matanya terbuka perlahan menatap pada Reno yang nampak kacau. Entahlah Jiel tidak yakin bagaimana menggambarkannya.
"Apa ??" Kata Reno hampir beranjak ke kamar jika Jiel tidak menarik tangannya dan mendudukkan Reno di sampingnya.
"Sibuk banget kayaknya"
Reno mengendik.
"Ya gitu"
Jiel mendesah pelan. Dia tau ada yang salah dengan saudaranya ini. Mereka kembar, ingat ??
"Pengen cerita nggak ??"
Reno melirik sejenak tapi menggeleng.
"Nggak"
Jiel mendesah.
"Ren Lo tau kan Lo gak pernah sendirian. Ada gue disini. Kalau emang susah Lo bisa bagi ke gue. Mungkin gue keliatan gak bisa diandelin tapi percaya sama gue, gue bakal selalu ngasi yang terbaik buat nolong Lo"
Reno mendesah. Bersandar pada sofa panjang dia memejam. Ingatannya membawanya pada kejadian di taman belakang tadi siang.
Jujur dalam hati kecilnya ada perasaan menjanggal yang tidak bisa Reno deskripsikan rasanya, aneh sekali. Seperti dia sudah membunuh seseorang atau semacamnya. Atau bisa saja ini yang orang-orang sebut rasa bersalah.
Pada akhirnya Reno membuka matanya dan menatap pada Jiel.
"Gue kelepasan"
Jiel mengerjap.
"Hah ??"
"Gue kelepasan ngomong kasar ke Naka. Gue lagi stres banget. Beberapa hari lagi gue bakal orasi di depan semua orang lalu rasanya chaos banget sampai gue gak tau harus gimana. Kepala gue sakit banget terus—"
"Terus Naka yang jadi pelampiasan Lo ??" Sela Jiel cepat.
Reno mendesah pelan. Tidak ingin semakin merasa bersalah dia mengangguk. Jiel yang melihatnya turut mendesah.
"Ren Lo gak tau seberapa sensitif Naka, tapi gue juga gak bisa nyalahin Lo sekarang. Lo sadar kan Lo salah ??"
Reno mengangguk pelan. Tentu saja dia sadar, dadanya sedari tadi siang selalu berdebar tidak nyaman. Bayangan wajah Naka yang tampak sangat tersakiti turut menyakiti hatinya melebihi yang dia kira.
Segala pikiran jahat yang sempat muncul dalam otaknya sudah sedari tadi dia enyahkan walau dengan susah payah.
"Gue tau dan gue ngerasa bersalah banget sama dia. Gue pasti nyakitin dia banget"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nakala ✓
FanfictionMinggu pertama dan ketiga milik mama. Minggu kedua dan keempat milik papa. Tenang, bolak balik dua rumah gak terlalu lelah kok. Cuman bikin muak aja. 🏅#1 nct pada masanya 🏅#1 00l pada masanya 🏅#1 nctlokal pada masanya
