Jieldan Aseno Husain

15K 1.9K 111
                                        

Jieldan Aseno Husain anak bungsu Husain. Adik sepuluh menit Rieldina Areno Husain. Jadi bungsu tugasnya agaknya lebih ringan, bisa sedikit abai. Karena selalu merasa "masih ada kakak yang bisa diandalkan". Jadi pada akhirnya dia tumbuh tak seluar biasa Reno.

Jieldan Aseno Husain awalnya dipanggil Seno. Tapi suatu hari saat di taman kanak-kanak seorang temannya berkata "nama Seno lucu ya sama kayak kakekku"

Dia marah!! Mengatakan pada mbak Linda dan kakak kembarnya bahwa dia tidak mau dipanggil Seno lagi. Nanti sama dengan kakek-kakek dong!!

Reno, kakak kembarnya hanya memutar mata malas. Dan berkata dengan acuh.

"Terserah"

Dia mencebik. Tapi jika tidak dipanggil Seno dia harus dipanggil apa ??

Dengan mata yang memerah dan siap menangis dia mendatangi mbak Linda. Mengadu bahwa Reno tidak membantu sama sekali untuk mengatasi masalahnya yang begitu besar.

Mbak Linda dengan sabar menggendongnya mendudukkannya pada kursi tinggi meja makan.

"Tunggu sebentar ya ?? Seno mau minum susu tidak ??"

"Mbak!! Tidak mau dipanggil Seno!!"

"Eh iya iya mbak lupa"

"T-tapi hiks mau susu"

Mbak Linda tertawa sejenak. Lucu sekali anak majikannya ini.

Dengan cepat satu gelas susu terhidang dihadapannya. Mbak Linda turut duduk dihadapannya.

Dia masih menangis menghapus air matanya dengan satu tangan tapi tangannya yang lain memegang erat gelas susunya.

"Tadi masalah besarnya apa ??"

Mbak Linda memulai agaknya sedikit lupa masalah besar tuan mudanya.

"Tidak mau dipanggil Seno!!"

"Oohhhh"

Mbak Linda mengangguk-angguk sambil berpikir. Tangannya diketuk-ketuk pada dagunya. Berfikir keras untuk masalah besar tuan mudanya.

"Mbak tau!!"

"Apa apa ??"

"Bagaimana jika Jiel ?? Seno mau tidak dipanggil Jiel ?? Keren loh itu"

Seno ah tidak maksudnya Jiel mengangguk semangat.

"Iya sekarang jadi Jiel ya mbak!!"

Jiel enam tahun. Masalah besarnya begitu sederhana.

🌓🌓🌓

Tidak seperti saudara kembarnya yang lebih senang mandiri alias apa-apa sendiri. Jiel agak berbeda.

Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan mbak Linda atau bahkan di beberapa kesempatan sering kali merecoki ayah.

Saat itu Jiel sudah kelas lima sekolah dasar waktu ayah mengajaknya ke rumah sakit sepulang sekolah.

Reno tidak ikut. Lebih memilih les piano dari pada harus menemani ayah duduk seharian di tengah-tengah aroma disinfektan.

"Jiel tunggu sebentar di dalam mau ?? Atau ikut ayah ??"

Jiel berfikir sebentar. Jika diam di ruangan ayah walaupun hanya sepuluh menit pasti akan membosankan. Jadi dengan semangat Jiel meraih tangan ayah.

"Ikut ayah saja"

Jiel dengan tangan bertaut di tangan ayahnya mengikuti dengan tenang. Tidak mengeluarkan suara protes sama sekali bahkan saat ayah mengajaknya naik ke lantai dua tanpa lift dan harus pakai tangga.

Nakala ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang