Nakala -21-

10.4K 1.3K 86
                                        

Sudah sedari dulu Jiel sadar bahwa meskipun kembar dia dan Reno berbeda, mereka jelas berbeda.

Bukan hanya tentang fisik dan tingkah laku lebih dari itu mereka punya pola pikir yang berbeda.

Jiel selalu berusaha menyelesaikan masalah yang di hadapi dengan cara paling sederhana yang terpikirkan meskipun hasilnya nanti ya seadanya saja.

Berbeda dengan Reno yang harus menyelesaikan masalah dengan hasil sesempurna mungkin.

Karena itu saat Reno berhasil terpilih menjadi ketua OSIS Jiel sama sekali tidak terkejut. Seolah itu memang sudah seharusnya terjadi.

"Selamat twin!!" Jiel merangkul bahu Reno yang dari tadi tak berhenti tersenyum.

Sekarang mereka sudah ada di rumah dengan ayah dan mama di ruang keluarga.

"Tadi seru sekali loh ayah suaranya beda tipis hanya berbeda dua suara"

Ayah mengangguk sedikit melirik pada tangga menuju lantai dua. Jiel pun turut melakukan hal yang sama dan baru sadar Naka belum juga turun ke bawah.

"Bentar ya, mau panggil Naka dulu"

Reno mendongak dan mengangguk padanya membuatnya bangkit dan segera menuju kamar Naka di lantai dua.

Membuka pintu begitu saja tanpa mengetuk sudah seperti kebiasaannya. Naka pun sama saat mengunjungi kamarnya, jadi rasanya tak masalah kalau Jiel masuk tanpa permisi.

"Naka!!" Panggilnya saat tak menemukan Naka di kamarnya.

"Bentar!!"

Jiel menoleh pada kamar mandi saat suara Naka menggema dari sana. Dia duduk pada kasur besar Naka dan malah berbaring disana dengan kaki yang tetap menggantung.

Menatap pada plafon coklat di atasnya Jiel merenung. Bukan masalah besar hanya terpikirkan strategi untuk turnamen basketnya beberapa bulan lagi. Agaknya beberapa formasi harus di ubah.

"Ayo!"

Jiel menoleh saat Naka keluar dari kamar mandi. Mengangkat tubuhnya dan bangkit berdiri meraih tangan Naka dan menariknya ke luar.

"Tadi pulang dengan Arsen ??"

"Hm"

"Kan gue bilang tunggu dulu bentar kok pulang duluan ??"

Naka menghela nafas menarik tangannya pelan dan berjalan beriringan dengan Jiel.

"Abang katanya mau traktir donat j.c0 jadi ya udah dari pada gak jadi ditraktir"

"Beneran ??"

"Iyaa"

Jiel mengangguk percaya dan meraih Naka dalam rangkulannya.

"Lain kali kalau mau pulang sama Arsen bilang dulu ya ?? Kadang gue ngerasa Arsen pengen ngambil Lo buat dirinya sendiri haha"

"...."

"Eh tapi gak mungkin sih. Lo kan sahabat sekaligus adik gue satu-satunya, gak mungkin tinggalin gue. Iyakan Na ??"

Hening. Jiel menoleh pada Naka dengan tatap yang seolah menuntut jawaban.

"Iyakan ??"

🌓🌓🌓

Naka dari dulu memang mudah sekali mengambil hati untuk setiap kalimat yang orang lain katakan padanya.

Memasukkannya ke dalam hati kemudian memikirkannya sampai dirinya lelah sendiri adalah kebiasaan buruknya yang tak pernah hilang.

Hari ini cukup panjang. Banyak hal terjadi dalam satu hari. Rasanya seperti kembali ke tujuh tahun lalu.

Nakala ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang