Naka memandang bosan pada Arsen yang tengah bergosip dengan Julian. Niatnya sih tadi Naka ingin bertanya tentang percakapan Arsen dan si kembar dalam mobil.
Tapi nyatanya Arsen pandai sekali mengalihkan topik hingga tau-tau Naka tidak punya minat lagi untuk membahas hal itu.
Dengan tangan menyangga dagu dia melihat bagaimana Arsen juga teman-temannya yang lain tertawa terbahak.
Dia mendesah lesu entah kenapa energinya yang tadi pagi serasa penuh hilang berceceran dan tak tersisa.
Dia meletakkan kepalanya di meja dengan mata sayu yang hampir terpejam.
Agaknya tubuhnya ini ingin membalas dendam karena sudah nyaris seminggu tidak pernah tertidur lelap. Balasannya sekarang Naka mudah sekali mengantuk.
Padahal Naka ingat betul kemarin dia bahkan tertidur pukul tujuh malam setelah bergelut dengan saudara-saudaranya, tapi lihat sekarang Naka bahkan nyaris jatuh tertidur.
Menguap lebar dia merenggangkan kedua lengannya berusaha agar tidak jatuh tertidur. Sesekali dia mengerjap pelan saat matanya kian berat.
"Tidur aja"
Suara Arsen membuatnya menoleh cepat dengan alis terangkat.
"Hah ??"
"Tidur aja nanti kalau ada guru gue bangunin"
Naka menggeleng tapi matanya hampir terpejam membuat Arsen mendengus. Mengambil bantal leher Putri di sebelahnya tanpa izin dan mengalungkannya pada leher Naka.
Naka tersentak pelan tapi saat Arsen kemudian memaksa kepalanya agar bersandar pada bahu lebar Arsen dia pasrah.
"Abang gak ngantuk" cicitnya tapi dengan mulut menguap lebar juga mata yang sayup-sayup hampir terpejam.
"Hm"
Arsen tak membalas hanya mengusap punggung Naka dengan teratur bergantian dengan belakang kepalanya.
Naka pasrah memejamkan mata tenang menikmati rasa nyaman bahu Arsen juga usapan lembut pada belakang kepalanya.
Dia terbuai. Agaknya dia akan tertidur lagi kali ini.
🌓🌓🌓
Saat seseorang dibebankan sebuah amanah yang besar mustahil rasanya jika mampu menghadapinya sendirian.
Reno mengalaminya. Sebagai seorang ketua OSIS tentu akan sangat tidak mungkin dirinya mampu mengontrol semua hal. Tentu butuh bantuan yang lain.
Karena itulah Reno mengangkat para inti sari caketos yang sama-sama berjuang bersamanya kemarin. Sutra menjadi wakilnya, Rama sebagai sekertaris, dan dua sisanya dia jadikan bendahara.
Reno sadar, ini saatnya dia mulai membuka diri. Ini saatnya dia mencoba berdamai dengan diri sendiri. Ini saatnya dia mencoba mengerti bahwa tidak semua dapat dia kerjakan sendiri.
Dia tersenyum menatap pada rekan-rekan OSIS yang tengah membersihkan sekret sambil berbincang.
"Gue boleh gabung gak nih ??"
Beberapa menoleh ke arahnya dengan senyum lebar, beberapa tampak terkejut tapi setelahnya malah melambai pelan ke arahnya.
"Sini Ren!"
"Mau minum gak nih ?? Gue mau beli nih pakai uang kas"
"Beli aja beli sekalian gorengan Ram"
"Woi enak banget lu ngomong. Bayar uang kas lu!!"
"Alah santai"
Reno terkekeh geli melihat rekan-rekannya. Kenapa dia baru sadar hal ini bahwa rekan-rekannya begitu bersahabat dan mudah dijadikan teman ??
KAMU SEDANG MEMBACA
Nakala ✓
Fiksi PenggemarMinggu pertama dan ketiga milik mama. Minggu kedua dan keempat milik papa. Tenang, bolak balik dua rumah gak terlalu lelah kok. Cuman bikin muak aja. 🏅#1 nct pada masanya 🏅#1 00l pada masanya 🏅#1 nctlokal pada masanya
