Apa yang lewat sejatinya adalah sesuatu yang tak mungkin kembali lagi. Apa yang pergi tak mungkin kembali lagi.
Cara satu-satunya adalah dengan merelakan dan mencoba berlapang dada menerima semua. Berat memang tapi tak ada salahnya terus berusaha.
Dalam hidup segala sesuatu tak akan pernah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang malah sebaliknya yang terjadi.
Tak perlu jauh-jauh cukup perhatikan bagaimana hati akan merasa kecewa saat harap tak bisa jadi nyata.
Naka tau dalam tujuh belas tahun hidupnya sebagian besar dia habiskan untuk tenggelam dalam kubangan gelap yang terasa tanpa ujung.
Di dalam sana hanya ada penyesalan dan kata maaf yang terus menggema membuat berlarut-larut dalam kesedihan.
Lalu saat banyak tangan mulai mengulurkan bantuan Naka yang sudah lelah dengan segera menyambutnya. Dia juga ingin keluar dari kubangan ini.
Berat tentu saja tapi tarikan dan genggaman tangan itu Naka tau tak akan terlepas. Akan selalu menggenggam tangannya dengan erat. Tak membiarkannya jatuh lagi barang sedikitpun.
"Bagaimana tidurnya dek ??"
Naka tersenyum.
"Nyenyak yah"
"Luar biasa sekali loh progres kamu tahun ini, ayah bangga"
Konsultasi dengan ayahnya adalah salah satu cara untuk keluar dari sana.
"Terima kasih"
Ayah mengangguk mengulurkan tangan yang disambut Naka dengan senyum lebar.
Ayah tersenyum sama lebarnya dengan lembut meremas tangan Naka yang sedikit dingin.
"Terima kasih juga untuk Naka sudah berusaha sekuat ini. Setelah ini ayah akan menghentikan semua resep obat-obatan kamu termasuk anti depresan"
"Karena ayah tau putra ayah yang satu ini sekarang mampu mengatasi diri sendiri tanpa perlu barang itu lagi"
"Ayah bisa percaya sama adek, kan ??"
Naka mengangguk semangat. Sudah dari lama dia tidak menyentuh lagi obat-obatannya. Sudah sedari lama tidurnya selalu tenang.
Sudah sedari lama Naka sadar dia sudah sepenuhnya bebas dari kubangan. Sudah sedari lama Naka keluar dari bayang-bayang masa lalunya.
"Hebat. Anak ayah hebat sekali"
Sebuah usapan pada kepalanya membuatnya terpejam.
Ayah benar, Naka hebat sekali. Mampu bertahan sejauh ini.
🌓🌓🌓
Keluar dari ruangan ayah, Naka tersenyum mendapati ketiga saudaranya duduk berderet di kursi tunggu.
Naka tertawa ketiganya hari ini kompak ingin mengantarnya ke rumah sakit. Mungkin karena kebetulan sekarang sudah libur semester dan ketiganya tidak punya kegiatan berarti.
"Sudah ??"
"Sudah"
Kemudian keempatnya berjalan bersama. Naka ada di tengah menggenggam tangan Reno dan Arsen di masing-masing sisi sedangkan Jiel hanya mengikuti dari belakang dengan Nal dalam pelukan.
Untuk informasi saja Nal juga ikut tinggal bersama mereka. Huum benar Nal adalah bungsu sesungguhnya. Lihat bagaimana manjanya dia dalam gendongan Jiel.
"Hari ini jadi, Na ??"
Naka menoleh pada Arsen dan mengangguk. Senyum tipis terbit dari bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nakala ✓
FanfictionMinggu pertama dan ketiga milik mama. Minggu kedua dan keempat milik papa. Tenang, bolak balik dua rumah gak terlalu lelah kok. Cuman bikin muak aja. 🏅#1 nct pada masanya 🏅#1 00l pada masanya 🏅#1 nctlokal pada masanya
