Hangat. Naka berkedip saat tubuhnya terasa hangat luar biasa.
Dia menarik nafas panjang tersadar bahwa di hidungnya sudah terpasang nasal cannula untuk membantunya bernafas.
Dia menatap ke atas pada plafon kamarnya yang berwarna coklat. Dia ada di rumah ayah.
Melirik ke sisi kanannya dia menemukan mama yang memeluk dirinya. Lalu melirik ke sisi yang lain Naka menemukan papa yang menggenggam tangan kirinya yang sedikit membengkak akibat infus yang dia tarik paksa kemarin.
Rasanya dejavu. Seperti semua hal yang telah dialaminya terulang kembali.
Dia berkedip menarik nafas dalam-dalam saat dirasa dadanya sedikit sesak. Dia meringis tadi malam dia masih ingat bagaimana bayangan-bayangan mengerikan itu tak mau hilang dalam kepalanya.
Dia masih ingat bagaimana dirinya mengalami gag hingga tidak dapat bernafas dengan benar.
Dia masih ingat mama memeluknya sambil menangis mengatakan semua baik-baik saja dan itu sudah berlalu.
Dia masih ingat papa menggenggam tangannya erat dan meremasnya seolah ingin menyadarkan dirinya bahwa disini ada papa tempatnya bersandar. Gumaman maaf Naka ingat betul mama dan papa kompak mengatakannya.
Dan Naka juga masih ingat itu tengah malam saat ayah dengan panik memasangkannya oksigen yang memang selalu ayah sediakan di rumah saat dirinya benar-benar tidak bisa menarik nafas.
Tadi malam cukup panjang ternyata. Dia bahkan tau ayah terpaksa menyuntikkan obat penenang padanya agar dapat tertidur tenang.
Naka memejam merasa bersalah dalam hatinya karena telah merepotkan semua orang. Naka sadar dirinya sendirilah yang membuat semua sulit.
Getaran samar dia rasakan dari sisi kanannya. Mama terbangun.
"Sayang sudah bangun ??" Adalah kalimat pertama mama saat nyawanya sudah terkumpul semua.
"Sudahh"
Naka tersenyum tipis berucap tanpa suara saat tenggorokannya terasa benar-benar kering.
Mama tersenyum bangkit dan duduk di sisinya. Mengusap kepalanya lembut.
"Sudah lebih baik ??"
Naka mengangguk kecil dan tersenyum.
"Mama panggilkan ayah ya ??"
Naka menggeleng pelan saat mama berniat meninggalkannya walau dengan dalih ingin memanggil ayah.
"Peluk"
Mama tersenyum kembali merebahkan dirinya di sisi Naka dan memeluk putranya dengan hati-hati.
"Mama hhh maaf"
"Hm ??"
"Maaf merepotkan mama"
Naka merasakan bahunya basah dan isakan pelan mama terdengar tepat di telinganya.
"Naka tidak merepotkan mama. Justru mama yang minta maaf. Maaf untuk semua rasa sakit Naka. Seandainya bisa, mama mau kok mengambil semua sakit Naka untuk mama"
"Mama mau kok tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Mama mau kok setiap Minggu harus konsultasi ke dokter. Mama mau melakukan apa saja. Asal putra mama baik-baik saja hiks. Maaf karena malah Naka yang mengalami ini semua. Maafkan mama ya ??"
Tangan kirinya yang lemas terangkat pelan mengusap pipi sembab mama yang masih dialiri air mata.
"Jangan menangis, mama. Aku tidak apa-apa. Nanti juga sembuh"
Mama tersenyum dan mengangguk pelan. Tangannya bergerak mengusap pelan dada Naka yang bergerak tidak teratur.
Naka berkedip saat dirasa pelukan di belakang tubuhnya mengerat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nakala ✓
FanfictionMinggu pertama dan ketiga milik mama. Minggu kedua dan keempat milik papa. Tenang, bolak balik dua rumah gak terlalu lelah kok. Cuman bikin muak aja. 🏅#1 nct pada masanya 🏅#1 00l pada masanya 🏅#1 nctlokal pada masanya
