Nakala -23-

10.5K 1.3K 82
                                        

Hari Minggu seharusnya jadi salah satu hari yang dinanti-nanti oleh semua orang. Sebenarnya Arsen juga sama. Tapi hari ini rasanya ada perasaan hampa di hatinya.

Biasanya jika hari Minggu tiba dia akan pergi kesana-kemari entah dengan teman-temannya atau bahkan dengan iseng menemui Naka saat berada di rumah mama.

Tapi setelah kejadian tempo hari saat dia meminta Naka tinggal bersamanya dan mendapat balasan senyum tipis saja Arsen merasa tak enak hati.

Seharusnya dia tidak begitu, dia sendiri yang mengatakan bahwa dimana pun Naka tinggal tak masalah tapi dirinya jugalah yang memaksa Naka untuk tinggal dengannya.

Arsen menghela nafas mengacak rambutnya frustasi dengan kaki menendang kecil udara sambil terduduk di depan kolam ikan koi milik papa.

Dia berdecak menangkup wajahnya sendiri. Merasa sungkan untuk menghubungi Naka lebih dulu.

Lama termenung sampai usapan pelan pada bahu bahkan membuatnya tersentak.

"Sedang apa bang ??"

Arsen menggaruk tengkuknya.

"Lagi nggak ngapa-ngapain kok, Pa"

"Papa boleh gabung gak nih ??"

"Eh ??"

Buru-buru Arsen bergeser memberikan ruang agar Papa dapat duduk di sebelahnya.

Papa tersenyum meletakkan kopi hitamnya di meja tepat di hadapan mereka. Lalu mengambil wadah tempat makanan ikan di sebelahnya.

Mereka hanya diam. Arsen kikuk. Bukannya apa hanya saja Arsen tak pernah benar-benar punya momen berdua saja dengan Papa.

Lalu dihadapkan pada situasi semacam ini membuatnya salah tingkah sendiri, tidak tau harus melakukan apa.

"Gimana sekolahnya bang ?? Ada masalah ??"

Tau-tau Papa memecah keheningan lebih dahulu.

"Baik"

"Papa dengar Abang Senin besok dilantik jadi ketua club ya ?? Hebat sekali"

Arsen terkekeh kecil semakin salah tingkah.

"Hehe cuman jadi ketua club penyiaran Pa. Bukan sesuatu yang besar"

"Loh bagus itu! Tidak perlu sesuatu yang besar untuk menunjukkan diri, cukup mengambil sesuai porsi kita saja yang sekiranya kita mampu handle. Yang bisa dipertanggung jawabkan. Itu sudah bagus sekali loh"

"Makasi Pa" katanya sambil tersenyum dan lagi-lagi dengan salah tingkah menggaruk tengkuknya.

"Abang keren pokoknya"

Arsen tersenyum dan mengalihkan pandangan melihat pada ikan koi Papa yang tampak berebut makanan. Arsen tidak tau tapi kata Papa ini salah satu cara mengatasi stress, ya dengan melihat ikan.

Menurut Arsen itu tidak terlalu berguna sih soalnya semakin Arsen melihat ikan itu malah semakin pusing kepalanya. Atau jangan-jangan yang aneh malah Arsen. Eh ??

"Papa tebak, Naka pasti gak ikut ekskul kan ??"

Arsen mengangguk dan tertawa kemudian.

"Anaknya malesan sih. Di suruh kumpul gak mau, diajak rapat katanya mager gitu"

Papa menggeleng sambil terkekeh geli. Meletakkan kembali makanan ikannya dia bersandar pada sandaran kursi kayu yang didudukinya.

"Kebiasaan emang"

Arsen semakin tertawa dari pertama mengenal Naka memang Arsen sudah bisa menebak bahwa Naka bukan anak yang aktif melakukan kegiatan, malah tampak seperti anak yang untuk duduk saja akan kelelahan.

Nakala ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang