Setelah kejadian saat sarapan itu, Amore sengaja makan siang dan makan malam dikamarnya. Dia terlalu malu untuk keluar kamar dan bertemu dengan Gavel. Namun ternyata Gavel juga sibuk dengan pekerjaannya, jadi Amore tak perlu khawatir jika Gavel akan tiba-tiba muncul mencarinya.
"Dia sama sekali tak keluar dari ruang kerjanya seharian?" Amore penasaran dan bertanya pada Maria yang selalu menjadi informannya. Padahal baru beberapa hari disini, tapi Maria sudah akrab dengan semua pelayan serta kepala Butler kastil Heinz yang memegang posisi kunci di tempat ini.
"Benar Lady. Karena pekerjaannya yang tertunda beberapa hari akibat perayaan pertunangan, dia harus lembur. Asisten Duke, Sir Aron sendiri yang mengawasi beliau agar menyelesaikan semua pekerjaannya malam ini."
"Begitu." Amore mengangguk, namun mendengar itu, dia jadi tak tega dengan Gavel. Dia pasti sangat lelah.
Setelah Maria pergi dari kamarnya, Amore berjalan kearah balkon kamarnya. Amore tanpa minat menatap pemandangan taman dan sekitar kastil dihadapannya. Amore menghirup dalam-dalam udara sejuk malam sambil meregangkan tangannya ke atas. Namun tiba-tiba dia merasakan punggung tangan kirinya seperti tersengat dan panas.
"Rogue? Ada apa?" Ujar Amore menatap tato pedangnya.
Pedang yang dinama Rogue oleh Amore tersebut bersinar merah terang ditangannya saat ini, itu terlihat sangat aneh karena menempel ditangannya sebagai tato. Rogue mencoba berkomunikasi pada Amore lewat pikirannya. Amore seakan dituntun oleh pedang itu menuju keluar kamar. Dengan perlahan Amore berjalan menuju ke suatu ruangan.
"Ini kan kamar Gavel. Jangan bercanda. Kau ingin aku melakukan apa?" Amore mendelik ke arah tato pedang itu. Tapi lagi-lagi tato itu bersinar merah terang seakan mendesak Amore agar mengikuti keinginannya dan masuk ke kamar Gavel.
Amore menyerah, dia berjalan membuka pintu kamar Gavel perlahan, dan berusaha berjalan sebisa mungkin tanpa bersuara.
Saat masuk ke kamar dan berbalik, Amore bisa melihat sosok Gavel yang terlelap diatas kasurnya. Amore semakin khawatir saat Rogue kini mengambil alih kendali tangan kirinya dan mencoba menyentuh Gavel.
Amore menggigit bibirnya dengan panik, dia bersiap kalau-kalau Gavel akan bangun dia akan menahan malunya dan menjelaskan semuanya. Namun, saat ujung jarinya bersentuhan dengan kening Gavel sesuatu terjadi.
Pikiran Amore seakan-akan tersedot dan dia bisa melihat adegan demi adegan mengerikan di kepalanya. Dia merasa mual seketika. Amore dengan cepat menyadari saat melihat sosok anak laki-laki kecil berambut hitam memandang dingin mayat disekitarnya dengan pedang dan baju berlumuran darah. Bahkan wajahnya pun terkena percikan darah. Itu sosok Gavel di masa lalu, dan Amore paham bahwa Rogue saat ini mencoba memperlihatkan masa lalu Gavel kepada dirinya.
Brak!
Amore terjatuh disamping kasur dengan terengah-engah. Tubuhnya gemetaran, wajahnya pucat, dan perutnya terasa mual. Meski hanya sekitar satu menit, Amore bisa melihat dengan jelas semuanya seakan-akan dia juga berada di sana.
Dia bisa dengan jelas mengingat adegan Gavel yang berusaha menyelamatkan dirinya, Gavel yang putus asa kemudian membalas dendamnya. Semua adegan pembantaian Gavel yang menyiksa musuhnya masih dengan jelas terekam dikepala Amore. "Ugh. Wah..."
Tanpa sadar air mata Amore meleleh, dia ketakutaan. Dia benar-benar takut. Itu lebih mengerikan dibandingkan saat dia sekarat sebagai Sarang dulu.
Saat itu, Gavel terbangun dan terdiam menatap langit-langit kamarnya selama beberapa saat sebelum menyadari keberadaan Amore yang terduduk disamping kasurnya.
"Amore!" Gavel terkesiap dan dengan cepat menyadari keadaannya. Amore dengan gemetatan mencengkram lengan Gavel, dia terlalu shock hingga suaranya tak bisa keluar. "Uuh..ha.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Trash Lady
Fantasía🌸2. Reincarnation Series #3 in Romance (2/07/2021) #4 in Fantasi (4/07/2021) Warning! 15+ Dulu aku gadis lemah penyakitan yang akhirnya mati tanpa seorangpun disisiku. Seumur hidupku aku hanya berbaring di kasur rumah sakit dan tak bisa melakukan...
