Amore terganggu oleh suara bising disekitarnya, yang membuatnya kembali terjaga dari pingsannya.
Bam!
Suara sesuatu menghantam benda keras terdengar yang langsung membuatnya terlonjak kaget. Amore menoleh ke sana kemari untuk mencari tahu suara apa yang baru saja dia dengar, namun lagi-lagi kembali terkejut saat mendapati berbagai hewan buas tengah terbaring merintih di sekitarnya.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya bingung, lalu akhirnya menyadari penghalang tipis transparan yang kini berada di sekitarnya. Rupanya penghalang tipis itu melindunginya dari serangan binatang-binatang buas yang mendatanginya.
Amore merasakan punggung tangan kirinya seperti terbakar, barulah kemudian dia bisa merasakan emosi pedang tersebut yang berusaha melindunginya mati-matian.
Kemudian terdengar sebuah suara yang sebelumnya dia dengar menyuruhnya untuk bangun dan pergi dari tempatnya berada secepat mungkin. Amore menatap tato pedang di punggung tangannya, dan sekarang dia yakin kalau pedang itu mencoba melindungi dan berkomunikasi dengannya.
Amore berdiri dengan susah payah, lalu berjalan tertatih-tatih mengikuti arahan pedang itu. Tak lama kemudian Amore mendengar suara langkah kaki kuda yang bergerombol. Setidaknya sekitar empat kuda tengah menuju ke arahnya.
Amore agak takut karena tak tahu mereka adalah kawan atau lawan, apakah mereka adalah orang suruhan Victoria lagi seperti orang-orang sebelumnya atau bukan. Namun emosi pedang itu menyuruhnya untuk terus bergerak ke arah datangnya suara itu, jadi Amore berusaha untuk percaya.
Ketika segerombolan kuda itu sampai beberapa meter di depan Amore, seseorang cepat-cepat turun dan berlari panin ke arahnya. "Lady?!"
Suara ini adalah suara yang Amore kenal. Gavel.
Amore menjadi lega dan tanpa sadar kakinya berubah seperti jeli yang membuat tubuhnya merosot ke tanah, dan untunglah Gavel tepat waktu untuk menangkap tubuhnya.
"Lady?!" Gavel menatap Amore dengan wajah rumit. Apalagi saat menyadari keadaan tubuh Amore yang penuh luka.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Gavel menarik Amore ke dalam pelukannya lalu menutupinya dengan jubah yang tengah Gavel pakai, "Menangislah. Aku akan menunggumu."
Amore yang tadinya tak ingin menangis entah mengapa langsung terisak ketika mendengar kalimat itu. Emosi yang selama ini dia tahan kini langsung tumpah begitu saja. Amore mencengkram erat-erat baju Gavel seraya menahan isakannya sebisa mungkin.
"Jangan ditahan. Tak akan ada yang mendengarnya selain aku." Gavel mengelus lembut punggungnya.
Amore akhirnya menyerah dan menumpahkan semuanya dihadapan Gavel. Dia menangis sejadi-jadinya karena semua hal sulit yang dia lalui hari ini.
Setelah lebih dari sepuluh menit Amore berhenti menangis mengintip wajah Gavel yang kini terkekeh menatapnya.
"Sudah?" Gavel tersenyum kecil.
Amore mengangguk ringan lalu kembali menyembunyikan wajahnya yang berantakan penuh bekas air mata.
Hap! Saat itu tubuh Amore melayang dan diangkat oleh Gavel. Gavel dengan mudah menaikkan Amore ke atas kuda barulah setelah itu dia ikut naik. Gavel memeluk Amore dengan sebelah tangan, dan sebelahnya lagi menarik tali kekang kuda. Dengan dipimpin Gavel ketiga kuda lainnya mengikuti di belakang.
Setelah hampir setengah jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah penginapan di desa terdekat.
Gavel membawanya ke sebuah kamar lalu membaringkannya di atas kasur.
"Tunggulah disini, aku akan pergi mencarikanmu pakaian bersih." Gavel menepuk kepala Amore lembut lalu meninggalkannya sendirian.
Amore menurut dan hanya berbaring diam di atas kasur, dia bahkan tak sanggup untuk mengangkat ujung jarinya. Rasanya tubuhnya sangat sakit karena memar-memar dan luka lainnya, persendiannya terasa seperti akan copot sewaktu-waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trash Lady
Fantasy🌸2. Reincarnation Series #3 in Romance (2/07/2021) #4 in Fantasi (4/07/2021) Warning! 15+ Dulu aku gadis lemah penyakitan yang akhirnya mati tanpa seorangpun disisiku. Seumur hidupku aku hanya berbaring di kasur rumah sakit dan tak bisa melakukan...
