2. Kim Sarang

34K 5.2K 63
                                        

Amore menatap wajahnya yang tercermin di kaca dalam diam. Sesekali dia menyentuh pipinya atau rambutnya.

"Berapa kali pun aku melihatnya aku tak bosan. Amore benar-benar cantik. Sangat berbeda dengan wajah kurus pucat, mata cekung, dan bibir pecah-pecahku dulu." Gumamnya takjub masih mengagumi wajahnya sendiri.

"Bagaimana bisa si Tesar brengsek itu mencampakkan wanita secantik ini? Apa dia buta?" Katanya heran sambil kembali meneliti wajahnya sambil tersenyum senang.

Sebenarnya dia agak merasa bersalah karena mengambil tempat Amore yang asli. Tapi rasa senangnya melampaui rasa itu. Lagi pula dari awal bukan salahnya kan jika tiba-tiba dia pindah ke tubuh Amore. Itu hanya angan-angannya semata menjadi Amore, tokoh dalam novel. Dan entah bagaimana tiba-tiba keinginan itu terwujud dalam sekejap mata.

Tok... tok... tok...

"Masuk." Jawabnya singkat.

"Lady, keretanya sudah siap." Wajah Maria muncul dibalik daun pintu.

Amore tersenyum dan langsung bangkit dari depan meja riasnya. "Baik, ayo berangkat."

Dia sudah tak sabar untuk keluar dari kastil Marquiz, dia ingin melihat dunia luar dengan kedua matanya sendiri. Amore berencana untuk berkeliling wilayah Marquiz Bourche, termasuk tempat kastil Marquiz Bourche ini sendiri yaitu Kota Bluestone.

"Selamat pagi Lady. Saya akan mengawal anda pergi." Seorang ksatria berwajah tampan telah menunggu Amore di samping kereta. Dia adalah pengawal pribadi Amore, Henry. Henry juga adalah putra sekaligus penerus Baron Lowis, yang merupakan afiliasi Marquis Bourche.

Amore mengangguk pelan dan menerima uluran tangan Henry untuk naik ke kereta. Pertama-tama mereka akan pergi ke Meggie, sesuai permintaan Amore sendiri. Itu adalah toko kelas atas untuk para bangsawan memesan pakaian mereka yang sangat terkenal di Kota Bluestone.

Setelah ke Meggie, Amore ingin pergi ke cafe terkenal yang dia dengar dari Kenneth. Sebenarnya Kenneth ingin mengantarnya sendiri, tapi dia tak bisa karena harus ikut bersama ayahnya pergi ke Istana.

Dia menatap etalase Meggie dengan mata berbinar lalu masuk diikuti Maria dan Henry.

Pegawai toko yang melihat seragam Henry yang merupakan seragam ksatria milik Marquis Bourche langsung bisa mengenali identitas Amore dalam waktu singkat.

"S-selamat datang Lady. Ada yang bisa saya bantu? Apakah anda ingin memesan gaun atau melihat-lihat gaun yang sudah ada?"

"Aku ingin lihat-lihat dulu. Tolong antarkan."

"Baik Lady." Pegawai wanita itu cepat-cepat menunduk lalu memimpin jalan ke arah tangga menuju lantai dua, khusus untuk tamu VIP.

Beberapa pengunjung toko itu mengenali identitas Amore dan langsung berbisik satu sama lain. Saat Amore melirik ke arah mereka mereka langsung menunduk dan menghindari tatapannya. Tentu saja mereka takut membuat masalah dengannya, si sampah keluarga Marquis.

Sikap kasar dan kurang ajar Amore sudah menjadi identitas dirinya sebagai sampah. Karena itu setiap orang pasti ingin menghindarinya.

Setelah sampai di lantai dua, Amore langsung disambut oleh manager toko sendiri. Amore kemudian melihat-lihat gaun yang di pajang di manekin bersama Maria dan sang manejer di belakangnya.

"Aku mau coba ini, ini, ini, itu, dan itu juga." Katanya menunjuk satu persatu gaun yang dipajang.

Dengan sigap manejer itu menyuruh para pegawainya untuk mengambil gaun yang ditunjuk oleh Amore.

Dengan senang hati Amore langsung mencoba satu persatu gaun tersebut. Sungguh dia sangat senang bisa mencoba gaun-gaun cantik itu. Rasanya dia hampir ingin menangis, mengingat penderitaannya dulu yang selalu terbaring dikamar rumah sakit tanpa bisa kemana pun yang dia mau.

Trash LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang