~||~
Dinda membuka satu persatu rantang berisi makanan yang barusaja dia bawa ke apartemen mereka. Senyumnya mengembang sedari tadi karena ini kali pertamanya dia membawakan Rey makanan, tapi...
"Ini apa??" tanya Rey menunjuk salah satu rantang berisikan makanan.
"Telur dadar" ujar Dinda dengan menunjukkan deretan giginya.
"Gosong!! Kamu menyuruhku makan telur dadar gosong" ucap Rey jengkel.
"Maaf. Salahkan saja telurnya kenapa sangat sulit ketika diangkat dari penggorengan" ujar Dinda mengerucutkan bibirnya.
"Terus aku harus makan apa??"
"Kita beli makan dirumah makan bawah saja kalau kamu tidak mau memakannya" kesal Dinda semakin mengerucutkan bibirnya.
"Bukan tak mau tapi ini tidak bisa dimakan sayang" jengkel Rey.
"Okey baiklah sebelum kita turun kamu harus makan ini terlebih dahulu" ucap Dinda mengangkat satu rantang berisi klepon yang dia buat bersama Mommynya tadi.
"Hidangan pencuci mulut tradisional??"
"Iya. Aku dan Mommy membuatnya tadi dan aku membuat satu yang paling spesial untukmu" ucap Dinda mengangkat satu klepon dan menyodorkannya kepada Rey.
Dengan ragu Rey menerima suapan dari Dinda dan mulai mengunyahnya dengan perlahan.
"Bagaimana rasanya??" tanya Dinda berharap cemas apalagi ketika melihat ekspresi Rey yang tidak menyakinkan.
Seketika Rey tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Enak dan ini sangat melambangkan dirimu" ujar Rey.
"Aku tidak paham Rey. Apa yang sudah melambangkan diriku??" tanya Dinda dengan mengerutkan keningnya.
"Kamu bisa membuatnya tapi kamu tidak tahu apa makna dari klepon itu sendiri" ucap Rey yang sudah menggelengkan kepalanya.
"Klepon itu bermakna sebagai lambang kelembutan, ketepatan, kesabaran, keuletan dan ketelitian. Kamu tahu kenapa klepon melambangkan semua itu??" tanya Rey yang mendapat gelengan kepala dari Dinda.
"Proses pembuatan klepon membutuhkan kesabaran dan ketepatan pada setiap takar bahan dasarnya, itu semua membutuhkan konsentrasi tinggi yang melibatkan kelembutan, ketelitian, dan keuletan pembuatnya bukan??" lanjutnya.
"Iya tapi bagaimana kamu bisa tahu??" ujar Dinda mengajukan pertanyaan.
"Almarhum Ibuku sering membuatkanku dan kedua adikku klepon" lirih Rey menatap nanar sisa klepon yang masih didalam rantang.
"Rey" lirih Dinda yang mengusap punggung Rey.
"Aku tidak apa. Kau bagaimana?? Apa aku tidak punya kesempatan untuk memakan telur dadar??"
"Hmm lain kali aku akan membuatkannya untukmu" ucap Dinda dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tapi nanti tidak boleh gosong seperti ini"
"Aku berjanji. Aku jamin telur dadarnya tidak akan gosong lagi dan akan jauh lebih enak dari ini" ucap Dinda dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
Rey lantas tersenyum dan mengusap sayang kepala wanita yang dihadapannya sekarang ini. Dinda tersenyum manis dan kembali menyuapi Rey dengan klepon makanan pencuci mulut yang dia buat tadi.
'Kringgg Kringgg'
Nada alaram dari ponsel memecah keheningan disebuah kamar bernuansa coklat abu yang begitu sunyi. Seorang pria membuka matanya dengan malas dan segera mematikan alaram yang berada diponselnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Red Thread Of Destiny || Leslar
Random"Tariklah salah satu benang merah ini, kamu akan mendapatkan seseorang yang akan memandumu untuk berkeliling Fakultas Administrasi Bisnis " Akankah benang merah takdir bisa mempersatukan mereka dikehidupan yang akan datang?? Tak ada yang tahu. Hanya...