~||~
Awan hitam mengepul diatas langit malam, rintikan hujan mengguyur sepasang kekasih yang dilanda kesedihan dan kecemasan. Berjalan beriringan dibawah hujan mengabaikan hujan deras yang jatuh menimpa tubuhnya. Air mata yang jatuh bercampur dengan air hujan, kedua tangan mereka yang saling bertautan satu sama lain.
"Din, apa kamu lelah?" Rey mendekap tubuh Dinda yang bergetar, entah getar karena tangisnya atau justru bergetar karena hujan deras yang mengguyur tubuhnya.
Dinda menatap wajah Rey, tangisnya semakin menjadi ketika melihat wajah pria yang dia cintai, hatinya terasa nyeri ketika menyadari hubungan mereka tidak memiliki restu dari kedua keluarga.
Rey mendekap tumbuh Dinda dan menuntun langkahnya menuju apartemen mereka. Sepi sunyi mereka rasakan ketika memasuki ruangan apartemen yang masih kosong, hanya terisi sedikit barang-barang.
"Apa yang kamu pikirkan?" Dinda menatap Rey dengan kedua tangannya mengepal kuat.
Tidak ada jawaban dari Rey, dia justru memalingkan wajahnya dari Dinda, mencoba menghindari tatapan menyakitkan itu. Hatinya sakit ketika melihat wanita yang dia cintai merasa menderita karenanya, dia yang sudah membuatnya menangis dan melawan ayahnya sendiri demi mempertahankan hubungan ini.
Dinda yang melihat Rey memalingkan wajahnya, emosinya seketika naik. Apa-apaan ini? Kenapa dia justru memalingkan wajahnya? Apa dia tidak mencintaiku lagi? Apa dia akan menyerah mempertahankan hubungan ini?
"Aku bertanya padamu. Apa yang kamu pikirkan?" dengan histeris Dinda memegang kedua lengan Rey dan mengguncangnya, meminta pria itu menjawab pertanyaannya.
"Kita sudah berjanji bukan? Kita berjanji bahwa kita akan tetap bersama" Dinda mengguncang tubuh Rey sekali lagi tapi pria itu masih enggan untuk menatap wajahnya, seakan wajah Dinda adalah sumber kelemahannya.
Tangis Dinda semakin pecah ketika Rey tidak memberikan sedikitpun jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan, jangankan memberinya jawaban menatap wajahnya saja dia enggan. Kenyataan ini sungguh menyedihkan bagi Dinda mengingat Rey sudah mulai goyah dengan pendiriannya.
"Kamu sudah membuat janji denganku" Dinda memukul dada Rey dengan air mata yang mengalir semakin deras dikedua pipinya.
Seakan ingin menyerah, Rey pasrah menerima setiap pukulan dari Dinda didada dan lengannya. Hatinya kini bimbang antara memilih mempertahankan hubungan mereka yang membuat wanita yang dia cintai berdosa melawan ayahnya sendiri atau justru egois mempertahankan hubungan ini tanpa mengantongi sedikitpun restu dari kedua keluarga. Dia masih mencintai wanita dihadapannya ini bahkan masih sangat mencintainya. Mendengar suara tangisnya saja hatinya merasakan nyeri teramat sesak.
Rey sudah tidak tahan lagi dengan suara tangisan yang Dinda keluarkan, dengan kuat dia mencengkeram kedua tangannya dan menatap kedua mata yang memerah itu. Ya tuhan ini sangat menyakitkan melihatnya terluka karenanya, keinginan untuk mempertahankannya semakin kuat, rasa ingin memiliki seutuhnya semakin kuat muncul kepermukaan apalagi setelah mendengar kata demi kata permohonan yang dia ucapakan.
"Ku mohon! Jangan tinggalkan aku" dengan lirih Dinda mengucapkannya sebelum tubuhnya merosot bertumpu dengan kedua lututnya, tangisnya semakin kuat, rasa tak ingin kehilangan semakin terkikis menyadari Rey masih tidak meresponnya.
Pasrah, kini itulah yang dirasakan Dinda. Apa ini akan menjadi akhir dari cinta pertamanya? Kalau memang iya ini sungguh menyakitkan, ingin rasanya dia mati saja ketimbang tidak bisa bersandi dengan pria pujaan hatinya. Dia rela berjodoh dengan kematian dibandingkan dengan orang lain selain Rey, dia bahkan akan menerobos semua dinding besar nan tebal yang menghalangi jalannya untuk bersama Rey.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Thread Of Destiny || Leslar
De Todo"Tariklah salah satu benang merah ini, kamu akan mendapatkan seseorang yang akan memandumu untuk berkeliling Fakultas Administrasi Bisnis " Akankah benang merah takdir bisa mempersatukan mereka dikehidupan yang akan datang?? Tak ada yang tahu. Hanya...
