2. Sebenarnya, mereka itu siapa?

23.6K 1K 60
                                        

Anin dan kedua sepasang suami istri itu telah tiba dirumahnya. Susana terasa sepi karena semua orang yang melayat telah pulang ke rumahnya masing-masing. Beberapa pelayan pun sepertinya sedang sibuk dihalaman belakang rumah, membereskan bekas pemandian jenazah ayahnya.

"Anin, perkenalkan nama saya Bakri dan itu istri saya Ratna" ujar pria yang sedari tadi hanya diam saja, kini pria itu tengah memperkenalkan dirinya berserta sang istri tercinta kepada gadis mungil yang duduk disebelah istrinya.

"Kita berdua sahabat almarhum ayah kamu" ujar Bakri menjawab rasa penasaran gadis itu.

"Kita bersahabat dengan ayah kamu dari zaman kuliah" Ratna menjelaskan lebih detail. "Tetapi, beberapa tahun kebelakang, kita sudah jarang bertemu karena jarak yang memisahkan" sambungnya.

Ratna dan Bakri merupakan sahabat dekat Amran semasa mereka berkuliah, namun hubungan mereka renggang karena suatu kesalahan. Ratna dan Bakri tidak mungkin dan tidak akan memberitahu alasan yang sebenarnya kepada Anin, mereka berdua hanya memberikan alasan yang cukup masuk akal, yaitu jarak. Cukup logis sebenarnya, dan tampaknya Anin pun mempercayai hal tersebut tanpa banyak bertanya lebih.

Anin hanya diam mendengarkan. Sesekali gadis itu mengangguk ketika Ratna dan Bakri mengajaknya berbicara. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berbicara, lebih tepatnya Ratna dan Bakri lah yang berbicara. Sepasang suami istri itu berusaha untuk menghibur kesedihan Anin, namun gadis itu hanya menanggapinya dengan singkat dan terlihat tidak tertarik pada hal-hal yang mereka bicarakan.

Ratna mengelus rambut Anin dengan penuh kasih sayang. "Anin jangan lama lama ya sedihnya" ucapnya.

Anin memandangi Ratna dengan tatapan kosongnya, lalu tidak lama kemudian gadis itu tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya.

"Kamu harus istirahat sayang, ayo Tante anter kamu ke kamar" Ratna merangkul tubuh ringkih itu menuju lantai atas, dimana kamar gadis itu terletak.

"Kamar kamu yang ini ya?" tanya Ratna pada Anin seraya menunjuk pintu berwarna putih dengan sebuah gantungan yang menghiasinya. Anin menganggukkan kepalanya. "Kamu suka warna pink ya?" tanya wanita paruh baya itu lagi.

Anin menganggukkan kepalanya singkat, seraya mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Tante enggak pulang?" tanyanya.

Ratna tersenyum seraya mendudukkan dirinya disamping kasur gadis itu. "Tante pulang kok, tapi nanti setelah Anin tidur"

"Tante besok kesini lagi sama om, Anin gapapa kan kalau om sama Tante sering berkunjung kesini?" tanya Ratna meminta pendapat serta persetujuan gadis mungil itu. Ratna hanya takut Anin merasa tidak nyaman jika dirinya dan sang suami terus berkunjung kesini. Anin lagi-lagi mengangguk kepalanya. "Makasih ya sayang" Ratna tersenyum tulus, wanita itu merasakan hatinya perih melihat Anin yang baru saja kehilangan sosok orang yang paling di sayangnya.

"Anin, semoga kamu dapat melewati kesedihan ini ya nak"

🌻🌻🌻

Keesokan harinya Anin kembali pergi ke makam sang ayah ditemani oleh Bakri dan Ratna yang setia berada disampingnya.

Anin berjongkok di hadapan makam Amran, lalu gadis itu memeluk gundukan tanah itu seraya menangis tersedu-sedu. "Anin mau sama ayah" racaunya.

Ratna mengelus punggung Anin, sesekali wanita itu mengusap ujung matanya yang berair.

Sedih, marah, kecewa itu lah yang dirasakan Anin sekarang. Ayahnya yang selalu ada untuknya kini sudah benar-benar pergi untuk selama-lamanya. Anin tidak bisa hidup tanpa ada sosok ayah disampingnya, gadis itu tidak akan pernah rela ayahnya pergi. Anin lebih rela ayahnya untuk menikah lagi dari pada pergi meninggalkannya selamanya, seperti saat ini.

FELIX RAJENDRA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang