52.Perkara Seblak
Saat jam istirahat, Alika mendatangi Evan ke ruang ketua osis.
Brakk...
Evan berjengit kaget mendengar pintu yang di buka secara kasar.Ia menatap Alika datar."udah gue bilang kalau mau masuk ketuk dulu!!"ujarnya.
Alika tidak mempedulikan ucapan Evan,ia mendekati lelaki itu dan memutar kursi yang di duduki Evan menjadi menghadap ke arahnya.
"Lo ngapain sih?!"tanya evan kesal.
Alika menahan tangisnya."lo ngadu kan sama papa?!"tanya nya dengan suara bergetar.
Evan diam tidak menjawab,ia hanya fokus menatap wajah alika yang memerah.
"Iya kan?!!"
Evan menghela nafas panjang."iya,gue ngadu sama papa"jawab lelaki itu akhirnya.
Tangis Alika pecah."kan gue udah minta maaf sama Anin,gue juga udah ngejalanin hukuman"ucap Alika seraya menangis."Kenapa lo malah ngadu ke papa?!"tanya nya.
Lelaki itu gelagapan ketika melihat Alika menangis histeris seperti sekarang ini.Evan menarik alika agar duduk di pangkuan nya.Ia berusaha menenangkan Alika yang masih menangis kencang.
"papa harus tau semua kelakuan lo di sekolah"ucap evan seraya mengelus-elus rambut panjang alika.
Alika hanya diam seraya menangis sesegukan.Ia sama sekali tidak berniat merespon ucapan Evan.
"sakitt"ucap alika pelan namun masih bisa terdengar jelas di telinga Evan.
"apanya yang sakit?"tanya Evan khawatir.
"punggung nya sakitt"ucap Alika dengan tangis yang belum kunjung berhenti.Evan mengelus-elus punggung Alika pelan.
"Jangan di elus-elus"larang alika seraya menahan tangan evan.
"sakit banget??"
"heem"Alika menganggukkan kepalanya.
"Mau ke rumah sakit??"
Alika hanya menggeleng ringan sebagai jawaban.
"Udah lo obatin belum?"tanya evan seraya mengusap dahi alika yang berkeringat.
"belum"
"Gue obatin ya?"evan meminta persetujuan dari Alika.
"engga mau,nanti perih"ucap alika dengan suara seraknya.
"Kan biar sembuh Alika"balas evan seraya mengelus-elus rambut panjang gadis itu.
"Gue engga mau Evan!!!"tolak alika dengan suara keras.
"elo sih ngapain segala ngadu ke papa!!"Alika meluapkan kekesalannya."gue engga mau di siksa terus"lanjut Alika dengan suara bergetar nya.
"Lagian lo juga ngeyel gue bilangin"balas evan dengan raut wajah datar.
"sakit Van,gue engga mau di pukul papa lagi"ucap Alika pelan.
Hati nya benar-benar sakit melihat kondisi Alika yang seperti ini.
Evan menghela nafas panjang,ia menarik Alika agar bersandar di dadanya dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.
Evan mengelus-elus dan mengecup rambut Alika beberapa kali,lalu ia berbisik di telinga sebelah kanan Alika."maaf ka, gara-gara gue ngadu ke papa,lo jadi di pukulin"
🌻🌻🌻🌻
"baguss ya lo, beli seblak kagak bilang-bilang gue!!"ucap Felix seraya menatap mata anin tajam.Anin yang di tatap seperti itu langsung gelagapan.
"nanti sakit perut baru tau rasa!"ujar Felix lalu duduk bergabung bersama anin dan ke tiga teman gadis itu.Sedangkan teman-teman felix,mereka semua tengah berada di WTA (warung tongkrongan abah).
"ehh Abang..."Anin cengengesan.
Felix menatap anin datar,"seblak lo lever berapa?"tanya nya.
"Level dua"jawab anin seraya tangan membentuk peace.
Mata Felix membulat,"gaya gaya an lo pesen level dua!!"sembur lelaki itu.
"perut lo gak akan kuat makan makanan sepedes ini Anin"ujar Felix mencoba berbicara tenang.
"Bisa kok,itu anin tadi udah makan tiga sendok"ujar anin dengan raut wajah yang membuat felix kesal.
"Sini seblak nya"pinta felix.
"Enggak!! Abang kalau mau pesen sendiri aja"ucap anin dengan nada nyolot,kedua lengan gadis itu bahkan memegang erat-erat mangkuk milik nya.
"Lo pesen lagi sana,yang itu buat gue"ujar Felix menahan luapan emosi nya.
Anin menggeleng."engga boleh!!"
"ck, terserah lo aja"ucap Felix mengalah seraya bangkit dari duduknya."entar kalo sakit perut gak usah cari-cari gue!"ujar nya seraya melangkah meninggalkan kawasan kantin.
🌻🌻🌻🌻
"Felix,ada adek lo nih"teriak Genta memberitahu.
Felix dan teman-temannya tengah berada di WTA, terkecuali evan.
"Sini"suruh felix pada anin agar menghampiri nya.
Anin menghampiri felix diikuti oleh ke tiga temannya yang lain yang turut mengantarkan anin ke tempat tongkrongan lelaki itu.
"eh nin,kita mau balik ke kelas aja ya"ujar Anggi mengalihkan perhatian mereka semua.
"iyaa, makasii udah nganterin anin ke sini"balas anin.
"iya sama-sama."
"Kita duluan ya nin"pamit Shafa lalu pergi meninggalkan tempat itu diikuti oleh Anggi dan Alma.
"Ngapain ke sini??"tanya Felix dengan nada ketus.
"Anin mau pulang"ucap gadis itu dengan suara pelan.
"Sana lah pulang sendiri aja,ngapain ngajak gue"ucap Felix seraya mematikan rokoknya.
Anin mencebikkan bibir."perut anin sakit"rengeknya.
"salah sendiri"
Gadis itu duduk di sebelah felix."Anin mau pulang"pintanya.
"Bentar,gue pesenin ojek dulu"ucap felix yang membuat anin merengek kesal.
"Anin enggak mau naik ojek,anin mau nya di anterin sama abang"anin berucap dengan suara bergetar.
"Males gue sama lo"
Teman-teman felix diam-diam memperhatikan interaksi dua sejoli itu.
"aaaaa ayo"anin menggerak-gerakkan lengan berotot Felix."perutnya sakit"anin memegang perut nya.
"kenapa nin?"tanya Genta pada anin yang sedari tadi memegang perut nya terus.
"perutnya sakit"
"Nih pake kayu putih nin"Vero menyodorkan botol kayu putih milik temannya.
Anin menggelengkan kepalanya."Engga mau,anin mau pulang"ucapnya.
"Ck,ya udah ayo balik"ajak Felix seraya menarik tangan anin.Gadis itu membuntuti felix.
"Dadah anin"Genta melambaikan tangannya.
"Dadah"balas gadis cantik itu.
"fel mau kemana??"tanya Keanu yang tengah bermain catur di bawah pohon bersama temannya yang lain.
"Balik"jawab Felix singkat.
"Nin sini aja main sama kita"ajak Keanu mencegah mereka untuk pulang.
"Besok aja mainnya"ucap Anin pada Keanu.
"Oke deh"
"Dadah Anin"
🌻🌻🌻🌻
To be continued
29 Januari 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
FELIX RAJENDRA (END)
Teen FictionJudul awalnya STEPBROTHER, ku ganti 😸 Felix Rajendra. Murid laki laki yang terkenal dengan kenakalannya, selain itu ia juga terkenal karena menjabat posisi sebagai ketua Xeiver, sebuah geng motor yang beranggotakan hanya kaum laki-laki saja. Anindi...
