Felix menolehkan kepalanya ke arah belakang ketika mendengar suara pintu kamarnya dibuka dari luar. Ternyata Anin, ujarnya dalam hati. Mau apa gadis itu kemari?
Anin menyembulkan kepalanya mengintip, lalu ia masuk ke dalam kamar Felix.
Felix mendelik malas. "Ngapain ke sini?"tanyanya.
"Anin mau liat Abang main game" jawab Anin dengan tangan memegang botol susu miliknya. "Boleh kan?" tanyanya meminta persetujuan.
"Heem" Felix hanya berdehem sebagai jawaban. Anin langsung tersenyum senang, ia menghampiri Felix yang sedang duduk dibawah dengan beralaskan karpet.
"Abang main apa itu?" tanya Anin pada Felix yang sedang bermain PES.
"Balap mobil" jawab Felix dengan pandangan fokus ke arah layar televisi. Anin memperhatikan abangnya dengan serius, sesekali ia berceloteh.
Felix fokus pada gamenya tanpa menghiraukan Anin. "Lo mau main gak?" tawarnya.
"Mauu" jawab Anin antusias.
"Nih" Felix menyerahkan stik PES nya pada Anin.
"Gimana mainnya?" tanya Anin bingung. "Ajarin dulu" pintanya.
"Sini" Felix menyuruh Anin untuk duduk dihadapannya. Gadis itu menurut lalu berpindah tempat. "Gimana?" tanyanya lagi pada Felix yang duduk dibelakang tubuh nya.
"Gini mainnya" Felix memegang tangan Anin yang juga sedang memegang stik PES.
Felix mengajari Anin bermain PES. "Bisa gak?" tanya lelaki itu.
"Bisaa" jawab Anin senang.
Felix menumpukan dagunya pada bahu Anin, ia melihat Anin yang sedang bermain PES dengan begitu serius.
Anin menggidikkan bahunya. "Berat ihh" ujarnya.
"Bentar elah" balas Felix karena terlanjur nyaman dengan posisinya. "Udah Lo fokus aja" suruh lelaki itu.
Anin pun kembali fokus pada game yang sedang ia mainkan.
Felix memainkan rambut Anin, membuat Anin merasa terganggu. "Abang diem ihh, nanti Anin kalah" kesal gadis itu. Felix hanya terkekeh tanpa menghiraukan kekesalan Anin.
"Tuh kan kalah" ujar Anin tambah kesal, mobil yang Anin mainkan malah menubruk sebuah pohon.
"Mampus" ejek Felix dengan wajah tengilnya.
"Abang sihh!"
"Lah ngapa jadi gue?" tanya Felix dengan nada yang menyebalkan.
"Ya iya lah, kan dari tadi Abang ganggungin Anin terus, coba kalau Abang enggak ganggu Anin, pasti Anin udah menang" ujar Anin dengan bibir mengerucut sebal.
"Ya itu salah lo lah, lo nya aja yang gak bisa main"
"Anin bisa main ya" ujar Anin dengan nada ngegas. "Anin ngambek sama Abang" sambungnya lagi pada Felix yang malah memandangnya geli.
"Lah ada ya orang yang mau ngambek bilang-bilang dulu" heran lelaki itu.
"Ada lah" sahut Anin jutek.
Felix mencolek lengan Anin. "Maaf elah, cuman gitu doang pake ngambek segala" ujarnya. "Iya deh iya, gue yang salah, bukan elo nin" sambungnya lagi.
Anin hanya diam tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Di maafin enggak?" tanya Felix mencolek lengan Anin lagi.
"Enggak, Anin masih ngambek" ujar Anin dengan nada dibuat segalak mungkin, namun yang ada malah terkesan lucu.
Felix merasa gemas pada gadis itu, ingin rasanya ia mengunyel-ngunyel kedua pipi Anin, namun terhalang oleh gengsinya.
"Bodo amat, yang penting gue udah minta maaf" ujar Felix lalu melanjutkan bermain PES.
"Abang mah gitu!!" Anin bertambah kesal pada Felix.
Felix melirik Anin yang sedang fokus menatap layar televisi dihadapan nya yang menampilkan game yang sedang dimainkan oleh Felix. Anin memasang wajah cemberut nya. Anin mendiami Felix dan Felix pun tidak peduli sama sekali.
"Anin mau pergi aja" ujar Anin.
Felix melirik, Anin yang bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar Felix dengan membawa botol susu miliknya yang kosong.
'Lah tinggal pergi aja' ujar Felix dalam hatinya.
Tak berapa lama Anin kembali masuk ke dalam kamar Felix dengan botol susu yang terisi penuh dan juga tangan kanan yang memeluk boneka kesayangannya.
Felix menatap gadis itu. "Ngapain balik lagi?" tanyanya heran.
"Anin masih ngambek, jangan ajak Anin ngomong dulu" ujar Anin lalu naik ke atas kasur milik Felix, dengan santainya Anin merebahkan tubuhnya diatas kasur tersebut.
"Heh ngapain tidur dikamar gue?!" tanya Felix dengan nada ngegas.
"Stttt, jangan berisik! Kibo udah bobo tau! Nanti dia bangun lagi, gimana?!" balas Anin tidak kalah ngegas.
"Kibo siapa dah?!" tanya lelaki itu kebingungan, pasalnya hanya ada dirinya dan Anin lah dikamar ini. Apa jangan-jangan gadis itu bisa melihat sesuatu yang ghaib lagi? Felix bergidik ngeri.
"Ini loh Kibo" Anin mengangkat bonekanya kehadapan Felix. "Anin lupa, Abang kan belum kenalan ya sama Kibo" lanjutnya.
"Fak kata gue teh!" Felix berujar dengan suara pelan. "Ya udah ah sana balik ke kamar lo aja, jangan di kamar gue!!" perintahnya.
"Enggak mau! Anin mau disini pokoknya!!" gadis itu menggelengkan kepalanya dengan ribut. "Anin bilangin mamah sama papah loh, kalau Abang galak sama Anin!" ancamnya. "Terus Anin bilangin yang Abang tadi marah-marahin Anin, cuman gara-gara Anin minta susu doang!" lanjutnya.
"Anying emang nih bocah!! Bukannya dia udah maafin gue ya tadi?" Felix menghela nafas pasrah. Jika sudah begini, dirinya tidak bisa melakukan apa-apa lagi. "Ya udah iya, lo boleh deh tidur disini, tapi jangan bilangin mamah sama papah loh ya" peringat lelaki itu sebelum melanjutkan kembali gamenya yang sempat tertunda.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Felix memilih mengakhiri permainannya, ia melihat Anin yang sudah tertidur pulas dengan mulut tersumpal botol susu.
Felix berjalan mendekati Anin, ia bingung antara memindahkan ke kamar gadis itu atau tidak, setelah pertimbangan yang cukup lama akhirnya Felix memutuskan untuk mengunci pintu kamarnya dan ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Anin.
Sebelum Felix tidur, ia mencabut botol susu yang tersumpal di mulut Anin dan menyimpannya di meja samping tempat tidurnya.
Malam itu mereka tidur bersama dengan pulas tanpa ada orang yang mengetahui, karena kedua orangtua mereka sedang pergi ke rumah teman papahnya dan tidak kunjung pulang-pulang.
"Duh jadi pengen cepet-cepet nikah" Felix berujar sebelum benar-benar pergi ke alam mimpinya
🌻🌻🌻
Bersambung....
vote komen yaa
KAMU SEDANG MEMBACA
FELIX RAJENDRA (END)
Teen FictionJudul awalnya STEPBROTHER, ku ganti 😸 Felix Rajendra. Murid laki laki yang terkenal dengan kenakalannya, selain itu ia juga terkenal karena menjabat posisi sebagai ketua Xeiver, sebuah geng motor yang beranggotakan hanya kaum laki-laki saja. Anindi...
