Ini ceritaku tentang kamu yang membawaku ke tempat yang tidak bisa ku deskripsikan.
Ini ceritaku tentang banyak cinta yang tak tergapai juga tentang cara rasa membuat semua gairah jadi tak berkutik
Dan...
Ini ceritaku tentang angin yang menembus ti...
Karina dan Ye-jun duduk di teras villa mereka. Lampu yang memang di pasang terang mampu menghangatkan mereka di dinginnya malam di sambut dengan hujan yang deras. Mereka berdua memilih duduk sambil meminum matcha panas di temani cookies yang di kirim oleh Ye-jin
"Kamu ada mau cerita sesuatu gitu" ucap Ye-jun tiba-tiba membuka keheningan
"Cerita apa?"
"Ngak tau, apa aja deh asal ngak sepi gini"
"Cerita yah?"
Ye-jun mendapat raut wajah yang berbeda dari sebelum dia menanyakan hal itu. Apa dia salah bicara atau bagaimana?
"Kalau ngak bisa juga ngakpapa kok" sambungnya sebelum Karina tambah aneh dan canggung
"Saya anak angkat dari keluarga Hwang. Papa ku dulu menyelamatkan mamaku yang tidak bisa bayar biaya rumah sakit waktu saya dilahirkan. Papa bilang dia jatuh cinta sama mama pandangan pertama-"
"Sama kek aku dong" potong Ye-jun
"Eh?"
"Ngak, lanjut beb"
"Mamaku juga begitu, dia jatuh cinta sama papa pandangan pertama. Sedangkan ayahku, ayah kandungku sekarang ada di suatu tempat yang aman. Saya selalu memantau dia dari jauh, dia merasa dirinya sebagai pendosa besar karena dia ninggalin mama pas mama hamil dan waktu itu saya sudah mau di lahirkan di dunia"
"Ayah kamu tahu kalau kamu selalu mantau dia?"
"Enggak, se tau dia saya tidak ada di dunia, saya meninggal sewaktu dilahirkan. Ayah bilang kalau begitu tidak ada lagi alasan untuk mencari mama, karena ia tahu lelaki yang di nikahi mama ku saat itu lebih pantas di banding dirinya, maksud dia mungkin Papa Chanyeol" Karina menatap angin kencang serta hujan di depan matanya sambil bercerita
"Waktu saya umur 10 tahun, saya sewa orang buat cari tahu siapa ayah saya, lewat beberapa bukti yang saya dapat sendiri. Singkat cerita ayah saya hidup dengan orang-orang suruhan saya, saya memberikan apapun yang mereka minta agar mau bersahabat dengan ayah saya. Buruknya kehidupan saya ini, tak ada tandingannya dengan buruknya hidup ayah saya"
"Pernah ku temui dia di sungai Han. Waktu itu saya juga sedang muak dengan masalah yang datang terus menerus. Ku liat dia menangis dan memeluk sesuatu yang familiar di otakku. Boneka kecil beruang yang lusuh, mirip seperti boneka yang di buang oleh pembantuku sewaktu kecil karena memang sudah lusuh, se ingatku boneka itu di buang di tempat sampah"
Tak pernah sedetikpun mata Ye-jun lepas dari wajah Karina yang sedang berbicara serius di hadapannya, sesekali dia menyeka rambut hitam Karina supaya tidak berterbangan
"Saya memberikan diri untuk mendekati dia. Dia begitu lusuh dan tak terawat, kadang kalau saya mengingat bagaimana keriput di tangannya seperti saya punya banyak dosa di atas kulit keriput itu. Waktu itu di bilang dia rindu dengan anaknya, hahaha padahal anaknya ada di depan matanya. Cukup sakit untuk menerimanya karena perlakuannya ke mama saya cukup tidak manusiawi"
"Dia juga manusia biasa, hanya saja saya belum bisa buka mata saja untuk melihat apa penyesalan yang dia rasakan. Hingga suatu hari dia di pukuli dengan beberapa orang penagih utang. Orang suruhan ku tumbang karena melawan orang-orang penagih itu. Dan saat itu-"
"Kenapa? Saat itu kenapa?"
"Saya menembak habis semua orang-orang yang menyentuh bahkan menyakiti ayah saya. Mereka mati di tempat. Polisi menutup kasus karena permintaan papa ku. Indentitas ku di tutup. Tapi pas SMA kasus itu tiba-tiba terangkat dan jadi isu, kalau aku pembunuh. Tak ku sangkal itu memang benar tapi bukannya sudah lewat bertahun-tahun"
"Itu kenapa mereka suka bully kamu? Karena mereka bilang kamu pembunuh?" Ye-jun baru paham kenapa gadis manis ini jadi bahan bully
"Hm ya.. kau boleh cerita ke siapapun nanti, tapi kalau saya sudah jauh dari sini" sambung Karina
Kenapa dia tidak menangis kali ini. Biasanya juga dia sensitif dengan hal-hal seperti ini. Ini pertama kalinya dia bercerita tapi dia tidak menangis lalu merutuki dirinya, tidak. Dia merasa aman dan nyaman berada di dekat Ye-jun
"Mandi hujan yuk!" Karina langsung berlari dan berputar-putar di bawah hujan
"Eh tunggu!" Ye-jun langsung mengikuti Karina yang menari riang di bawah hujan
Karina dan Ye-jun bermain di bawah air itu dengan sangat bahagia. Terlihat dari garis mata dan juga senyum mereka yang terus menyungging di paras menawan itu. Mereka menarik bak sedang berdansa di suatu pesta mewah. Rambut Karina yang di kuncir memberi kesan berbeda. Ye-jun sempat mengabadikan momen itu
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karina mengalungkan tangannya di leher Ye-jun sedangkan Ye-jun melingkarkan tangannya di pinggang Karina yang pas untuk ia dekap. Mata mereka menaut seperti menyampaikan sesuatu yang belum mereka sampaikan sebelumnya.
"Can i?"
Karina menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka menautkan hasrat satu sama lain malam ini, di bawah hujan deras di bawah bintang dan bulan yang sedang malu bersinar
Ciuman itu berangsur-angsur lama hingga sorot lampu mobil baru saja menangkap kejadian mereka yang indah. Siapapun itu tolong pergi dulu.
Mereka langsung melepasnya dan memasang wajah canggung satu sama lain. Terlihat Ye-jin sedang memberi aba-aba agar Ye-jun mengambil payung karena di mobilnya tidak di sediakan.
Ye-jun langsung menjalankan perintah dan memayungi sang bunda agar bisa keluar dari mobil. Terlihat Hyuna terlelap dalam gendongan Ye-jin.
"Bunda maaf say-"
"Sini dulu bunda cium" Karina mendekat lalu di kecuplah pipi Karina yang dingin itu, lalu dilakukan hal yang sama kepada Ye-jun
"Ngakpapa sayang, kalian lanjut aja. Bunda masuk dulu yah, jangan kemalaman nanti masuk angin" ucap Ye-jin lalu berlalu masuk di antar oleh anak lelakinya menggunakan payung
Karina mematung, menanggung malu. Mau di taruh dimana mukanya sekarang, mana tadi dia terlihat seperti nafsu sekali. Wah Karina akan di cap setelah ini oleh bunda Ye-jin.
"Ngapain di situ, sini lanjut lagi!" Ye-jun berada tak jauh darinya
"Ngak saya ngak mau" Karina berlari ketika Ye-jun terus mendekat ke arahnya