Apa salahnya gue nebengin Gladys ke sekolah di hari pertama gue comeback?
Reaksi orang kenapa pada berlebihan padahal gue sama Gladys cuma temenan. Atau emang mereka suka gosipin orang kali ya makanya apa-apa dijadikan bahan gunjingan. It's so weird, malah kelihatan banget bagaimana kualitas mereka.
Gue nggak kaget karena itu aja. Penggemar gue ternyata mengerumuni gue udah kayak artis papan atas padahal gue baru aja keluar dari rumah sakit jiwa. Kayak ada yang aneh aja. Masa sih gue nggak dicibir?
"Jay! Kenapa kamu nggak posting apa-apa di Instagram? Gimana rasanya jadi student exchange di London?"
"Cerita sedikit dong, Jay!"
"Iya, gimana perasaan istri kamu waktu ditinggal sekitar dua bulan?"
"By the way, selamat atas kelahiran putra pertama kamu, ya! Kami selalu berharap yang terbaik untuk kamu!"
"Oh ya, kenapa Gladys bisa semobil sama kamu? SPP dia kan nunggak tiga bulan, kayaknya bulan depan dia nggak ada di sini deh. Apa kamu nggak takut dia ngerusak rumah tangga kamu sama Bening?"
"Kerja jadi sales rokok modal pakaian seksi, kenapa nggak sekaligus jual diri aja, Glad?"
Gue mengepalkan tangan. Suara-suara sialan itu bikin gue kesal. Apalagi saat mereka terang-terangan ngejelekin Gladys. "MULUT KALIAN BISA DIJAGA NGGAK?"
Langkah gue berhenti, tapi Gladys masih gue pegang tangannya. Cewek itu jelas kisut karena omongan mereka bener-bener parah. "Kenapa sih kalian suka banget ngegunjingin orang? Dan kalian sadar nggak kalau kalian itu murid-murid Alexandria—sekolah terbaik di Indonesia? Apa kualitas kalian nyatanya sebobrok ini? Sumpah, baru aja gue balik ke sekolah, tapi udah bikin kecewa aja."
Gue sebenernya capek selalu ngatur mereka dengan hal-hal remeh kayak gini, tapi kalau dibiarin mereka bakal makin berisik kayak laler. Gue nggak suka, terlebih mereka jelekin Gladys seolah mereka paling suci di dunia. Sumpah, masih ada ya orang yang suka ngehina kayak gini?
"Ini gue ingetin ya, di Indonesia ada yang namanya aturan. Ngerisak itu dilarang, ada perlindungannya. Bisa banget nih gue lapor kalian ke polisi. Gimana, pada tertarik?"
"Ih apaan sih, kok jadi protektif banget sama Gladys?"
"Kabur ah, Jay galak banget."
"Iya bener. Padahal emang bener kalau Gladys pake pakaian seksi banget di pasar-pasar."
Setelah kerumunan itu bubar, gue melihat Langga menatap gue di anak tangga terakhir. Tatapan tajamnya membuat gue mengangkat alis. "Pa?"
"Ke ruang saya sekarang juga." Suara datarnya membuat gue mau nggak mau harus ke ruangannya. Namun, sebelum ke sana gue mengantarkan Gladys dulu ke kelasnya.
"Jay, kayaknya kamu nggak harus perlakukan aku kayak gini deh."
"Kenapa?"
"Banyak yang nggak suka, lagian aku juga ngerasa lagi selingkuh sama kamu. Ingat, ada istri dan anak kamu di rumah."
Gue berhenti, menatap Gladys dalam diam. Cewek ini beneran udah beda, jadi berubah ke versi lebih awal. Gue tahu, pasti karena kondisi ekonominya dia jadi merasa kecil. Sial, kenapa gue bisa membiarkan Gladys sendirian melewati hari-hari yang mencekik? Kasihan banget sumpah. Gue beneran nggak bisa lihat Gladys dalam kondisi seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Matahari Sebelum Pagi
Teen Fiction🔞(YOUNGADULT - ROMANCE) Jatuh cinta padamu adalah harap yang selama ini kudamba; berada di dasar hati; diselimuti oleh imajinasi liar yang semakin membara. Kita tahu, seharusnya kita saling mencinta dalam diam saja, tapi ternyata kita tak semudah...
