12

3.6K 259 5
                                        

SUDAH DI REVISI, SELAMAT MEMBACA♡

MAKASIH BUAT VOTE NYAAAA♡♡

●○

Previous chapter :

Namun, sesuatu membungkam Harry. Taylor mencium bibir Harry. Disitu pula, Hazel keluar dari restoran bersama Niall dengan canda tawa. Namun, canda tawa Hazel berubah menjadi mata yang berkaca kaca.

"Har..ry?"

●○

Hazel's POV.

Aku merasa sakit hati melihat Harry dan Taylor berciuman. Dadaku sesak. Mataku sudah berkaca kaca sekarang. Mulutku bergetar, menahan tangis. Aku pun lari ke lift dan buru buru memencet tombol agar pintu segera tertutup, dan meninggalkan Niall. Sialnya, lift nya tidak berfungsi.

"Hazel!"

Teriakannya semakin jelas di pendengaranku. Aku buru buru melesat menuju tangga darurat dan turun melangkahinya dari lantai 30 ini, menuju ke lantai 25; dimana kamarku berada.

Dengan air mata yang terus deras mengucur, aku tetap melangkahkan kakiku dengan lincah, menuruni tangga. Kudengar suara sepatu boots yang ikut melangkah, tak kalah lincahnya dibelakangku.

Aku hampir terjatuh karena aku memakai heels. Akhirnya, aku mencopotnya dan turun dengan kecepatan yang lebih tinggi.

"Hazel, please stop!"

Setelah sampai di lantai 25, aku segera memakai lagi sepatuku dan membuka pintu yang menghubungkan lorong hotel dengan tangga darurat ini. Lalu aku buru buru masuk ke dalam kamar, dan menguncinya. Aku menangis di bantal kasurku. Menangis sekencang kencangnya.

Aku pun mengingat kejadian tadi. Kenapa aku cemburu melihat Harry dan Taylor kissing? Mungkin aku benar benar mencintai Harry.

Sepertinya aku menemukan jawabannya. Tapi kenapa semua ini belum meyakinkan hatiku? Aku mencintai Harry. Tapi kenapa aku merasa bahwa perasaan itu hanya sementara saja?

Cklek

Aku merasakan pintu terbuka. Oh, aku bodoh. Harry memiliki kunci cadangannya. Great, sekarang ia masuk dan memeluk tubuhku dari belakang.

"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafk--" kupotong ucapan bodohnya itu. Kenapa ia meminta maaf? Ia tahu aku terluka?

"Stop it. Kau tak bersalah apa apa. Aku hanya pacar palsumu." Kataku pelan. "Tap--" aku memotongnya lagi. "Itu urusanmu. Kau mau berciuman dengan siapapun, bukan urusanku. Aku bukan siapa siapamu. Aku tak menangis! Aku hanya kelilipan! Lepaskan aku, bodoh!" ujarku, lalu bangkit untuk mencuci wajahku.

Tak lupa, aku mengunci pintu kamar mandi dan segera mencuci muka. Menghiraukan kicauannya di depan sana. Aku pun memutuskan untuk mandi, merendamkan tubuhku di bathub.

Setelah berpakaian lengkap, aku keluar. Saat membuka pintuku--

DUG!

"Hmmmpphh" aku menahan tawaku. Ia terbangun, dan mengaduh. "Aduhh" erangnya. Kalian mau tahu apa?

Harry tidur di depan pintu kamar mandi, setelah sekian lama meminta maaf. Dan saat kubuka pintunya (kutarik), ternyata tubuhnya bersandar di depan pintu kamar mandi. Sehingga, saatku membuka pintu, ia malah jatuh ke belakang. Ekspresinha sanggup menguapkan amarahku, dan berganti oleh rasa yang menggelikan.

MOONLIGHT - Harry Styles Love StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang