SUDAH DI REVISI, SELAMAT MEMBACA♡
Jangan lupa Vomments!
●○
Previous Chapter :
Aku melihat orang yang mengintip dari jendela kamarku. Sepertinya pria itu mengenalku. Tapi ia siapa? Kenapa ia tak masuk?
"Lalu itu siapa?"
●○
*Harry's pov.*
Aku melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Hazel. Tapi disana tak ada siapa siapa. Apa Hazel menghayal? Apa jangan-jangan... ia memiliki indera ke enam?
"Dimana? Tak ada siapa siapa..." ucap Brit dan mengerutkan dahinya. Hazel seperti melamun "tapi disana ada orang tadi..." ucapnya. Aku masih terdiam di belakang Zayn. Aku tahu Hazel tak mau bicara denganku. Aku tak menepati janjiku untuk menjaganya tadi. Bagaimana bisa para paparazzi tahu bahwa kami sedang di taman tadi?
"Yasudah Haz, kami semua pulang dahulu. Get well soon Babe" ucap Tamara. Mereka keluar dan tersisa Uncle Simon, Aunt Helena, aku, dan Zayn.
Aku menatap matanya yang sayu. Bukan Hazel yang biasanya periang dan ceria. Hatiku terasa teriris melihatnya. Rasanya aku bukanlah kekasih yang baik. Bahkan apakah aku masih bisa dikatakan seorang kekasih dari Hazel Cowell? Aku bodoh. Aku tak bisa menjaga gadisku sendiri.
"Harry, aku ingin pamit ke Bradford dahulu ya. Orang tuaku sudah menunggu disana. Katanya, Waliyha ingin mengenalkan calon tunangannya. Uncle Si, Aunt Helen, aku pamit ya" Aku mengangguk dan Zayn pamit ke orang tua Hazel. Aku melihat jam. Sudah pukul 5 sore.
"Uncle, Aunty, sebaiknya kalian pulang karena sudah sore. Aku tahu pasti kalian lelah, dan biarkan aku yang menjaga Hazel disini" ucapku. Lalu mereka berdiri.
"Kau tak apa, love?" Tanya Aunty Helena. "Ini sudah menjadi kewajibanku, Aunty. Aku kan kekasihnya. Seharusnya aku lebih teliti dalam menjaganya" balasku dengan nada penyesalan. "Baiklah, Harry. Terima kasih. Kami pamit dulu ya, bye Harry, Hazel dear" ucap Uncle Si.
Tersisa aku dan Hazel. Aku menarik kursi menjadi di sebelah ranjangnya. Ia menatapku sekilas dan membelakangiku. Aku mengelus rambutnya yang terurai ke belakang. Aku tahu ia masih belum mengingatku. Aku sangat takut ia melupakan segala kenangannya bersamaku dulu.
"Hazel... maafkan aku. Aku tahu aku salah. Seharusnya tadi aku tak meninggalkanmu." Ucapku. Namun kudengar isakan. "Hazel?" Aku beralih ke sisi ranjang lainnya agar bisa melihat mukanya. Yang paling menyakitkan adalah, saat air keluar dari matanya yang selalu menjadi objek favoritku.
"Shh... don't crying Baby... i love you.. i'm sorry... i really really sorry.." aku mencoba menghapus air matanya, namun ia menepis tanganku. Itu hal yang lebih menyakitkan lagi. Tapi, selama Hazel bisa mengurangi kesedihannya dengan cara seperti ini, aku ikhlas.
"Kau jahat! Aku membencimu!" Aku langsung ikut tiduran di ranjangnya karena ada sisi yang kosong. Lalu aku memeluknya dan mengelus punggungnya. Namun ia berontak dan memukuli dadaku.
"Pukul terus aku Hazel.. aku pantas menerimanya... Hatimu pasti tak sesakit kau memukulku... kalau perlu bunuh saja aku.. aku tak pantas menjadi kekasihmu..." gumamku. Lalu, pukulan itu berhenti.
KAMU SEDANG MEMBACA
MOONLIGHT - Harry Styles Love Story
FanfictionBerita tentang seorang super star dunia yang dikatakan 'gay' telah menyebar dimana mana. Sekarang adalah dimana waktunya sang manager untuk bertindak. Namun, bagaimana jika tindakan tersebut salah? Ia memanfaatkan putrinya, yang merupakan seorang a...
