15

3.4K 259 4
                                        

SUDAH DI REVISI, SELAMAT MEMBACA♡

Don't forget to click ☆

●○

Previous Chapter :

Lalu, Victoria mengangguk dan membawa seorang pria tam-- wait.

"Mac?" "Hazel?"

●○

Orang itu datang lagi di kehidupanku. Ia datang lagi. Orang yang sudah membuat kenangan indah sekaligus kenangan pahit dihidupku. Orang yang menjadi cinta pertama sekaligus cinta terburuk dalam hidupku. Aku sudah benar benar melupakannya dan ia datang lagi?

"Kalian sudah kenal, rupanya?" Tanya Dad. Yes my lovely daddy, he's my ex when we junior high. And he is a jerk. I hate him. Why he come to my life again?

"Um.. ya uncle" balasnya. "Untuk apa dia disini?" Tanyaku dingin. Dad pun tersenyum dan merangkul Mac. Jangan jangan ia ingin menjodohkanku? Sepertinya aku keseringan membaca fiksi roman.

"Ini yang akan berkolaborasi di single pertamamu nanti. Ia seorang rapper, kau tahu? Pasti sangat cocok di single pertamamu ini." Aku pun memutar mataku. "Dad menyuruhku kolaborasi? Di single pertamaku?" Tanyaku sarkas.

"Yeah. Percayalah, semuanya akan baik baik saja. Disini, Mac akan berperan sebagai pria yang ada di lagumu." Balasnya. Aku pun membelalakan mata. "What? No no no!" Seruku. "Oh, come on honey. Be professional." Aku pun diam saja, karena tidak mau melihat dad marah.

"Baiklah. Mac, Hazel, silahkan membuat lirik tambahan di lagumu. Isinya harus kata kata seorang lelaki yang dilagumu ya. Dad ada rapat. Good luck kids" lalu, dad keluar. Suasana menjadi hening, dan aku benci ini.

"Maafkan aku atas perbuatanku dulu." Mac angkat bicara. "Aku ingin kita berteman. Hazel, aku merindukanmu" aku mulai tak tahan atas ucapannya.

"Kau--" aku pun menutup telinga. "SHUT UP!!" Pekikku. Kulihat mukanya langsung kaget, aku tak peduli. "Sekarang, bikin liriknya. Aku ingin pulang." Kataku. "Tap--" aku pun mengambil tasku. "Bye."

Aku menangis sekencang kencangnya di kamarku. Aku benar benar butuh seseorang untuk di peluk. Tapi siapa? Mom? Mungkin hal yang bagus.

Aku mendengar bell rumahku yang berbunyi. Pertanda ada seorang tamu. Kulihat lewat jendela, terparkir sebuah sedan asing di depan rumahku. Siapa dia?

Karena rasa penasaran yang besar, aku turun dan membukakan pintu. Walau keadaanku sedang acak acakan seperti ini. "Nathan!" Pekikku.

Aku langsung memeluknya dan menangis di dekapannya. Kuyakin ia bingung, tapi aku tahu ia pasti bisa kujadikan teman curhat. "Ayo masuk dulu. Maaf"

"Lupakan masa lalu, H. Kau harus perfikir positif. Mungkin Mac benar benar menyesal dan ingin meminta maaf kepadamu. Tapi terserah kata hatimu juga sih, duh, aku bingung" nasihat Nathan dengan polos, membuatku tersenyum kecil.

"Btw, sedang apa kau kesini?" Tanyaku. "Memangnya tidak boleh ya?" Tanyanya. "Bukan begitu, tapi tumben aja.." balasku. "Mau dinner diluar?" Tanya Nathan. "Baiklah." Kataku.

Harry's POV.

"Yeay Irelandddd" kau tahu? Si pirang tukang makan ini tidak berhenti untuk bersorak. Kami tadinya mau langsung ke London, tapi Mark mengundurnya. Karena ia bilang sekalian konser di Irlandia, baru kami day off.

MOONLIGHT - Harry Styles Love StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang