Sepanjang jalan Haiman hanya diam saja, tak ada pembicaraan yang keluar dari mulutnya. Padahal dia sangat senang kalau sedang dekat dengan kekasihnya tapi kali ini dia hanya diam.
Semua ucapan-ucapan Haidar terus saja berputar di kepalanya, bagaimana Haidar menceritakan tentang perempuan yang dia sukai.
Bagaimana dia semangatnya saat dia akan pergi untuk membeli barang lamaran, bahkan Haiman tak lupa kalau dia pergi dengan perempuan itu. Dan ternyata perempuan itu adalah Salma.
"Kita mau kemana?" tanya Salma, setelah bertemu dengan Haidar di rumahnya. Sikap Haiman jadi berbeda.
Apa Haiman cemburu ya, kenapa perasaan jadi tak nyaman.
Haiman menghentikan mobilnya, dia menunduk bersimpuh pada setir. Pikirannya benar-benar berkecamuk. Dia menoleh ke arah Salma yang diam melihat ke arahnya.
"Kita ke rumah Aku ya, Bunda tadi nyuruh kamu buat di ajak ke rumah. Katanya dia pengen kenalan." ucap Haiman, tak lupa dia tersenyum lembut ke arah Salma.
"Iya" jawabnya, meskipun dia heran melihat sikap aneh Kekasihnya itu, seperti ada yang Haiman sembunyikan tapi tak bisa di ungkapkan.
***
Didalam kamar bernuansa abu, dengan kamar kedap suara.
Haidar sedang membanting semua barang-barang hingga hancur, seperti hatinya yang hancur mengetahui semua ini.
"Arggggggghhhh" Tubuh Haidar melemas dia menekuk lututnya dengan tangan meremas kepalanya.
Haidar kembali beranjak, dia menyapu habis botol botol parfumnya sampai pecah berserakan. Bahkan kamar itu sudah tidak berbentuk, seperti hati Haidar yang hancur mengetahui semuanya.
"Kenapa!!" Teriak Haidar kencang, bahkan lelehan air matanya terus saja mengalir.
"Kenapa, harus lu Bang!!" lirih Haidar, mengacak frustasi.
"Kenapa gue harus bersaing sama lu. Kenapa gue harus mencintai orang yang sama!!"
"Bodoh-bodoh, harusnya gue sadar diri. Gue yang ngusik hidup Salma hingga gue sendiri terjebak didalamnya."
"Bodoh-bodoh, harusnya gue gak nikung Abang gue sendiri." Haidar terus saja memukuli kepalanya.
Tok..
tokk
"Kak, dipanggil Bunda tuh." Teriak Hanna diluar kamar Haidar, membuat laki-laki yang sedang frustasi itu pun menoleh.
Dia enggan keluar, tapi Bundanya memanggil. Haidar pun kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan merapihkan penampilannya.
Krekkk...
"Lama banget sih Ka," dengus Hanna.
"Ada apa emang?" Tanya Haidar lirih.
"Ada calonnya bang Haiman, mungkin mau ngenalin ke kakak." Ucap Hanna sambil pergi meninggalkan Haidar.
Haidar mematung didepan pintu kamarnya, kenapa? Kenapa harus sekarang, oh astaga. Haidar belum siap bertemu dengan Salma yang akan menjadi kaka Iparnya.
"Ehh, Kak buru Bunda dari tadi udah manggil." Ucap Hanna yang keluar dari kamarnya dan melihat Haidar masih saja diam.
Haidar pun berjalan dibelakang Hanna dengan menahan sesak di dadanya.
Dia harus siap, ya. Siap menerima kenyataan kalau Salma akan menjadi Kakak Iparnya, bukan Ibu dari Anak-anaknya
"Akhirnya mereka turun juga." Ucap Ira, membuat Salma ikut menoleh.
Deg..
Apakah Salma tak salah liat dengan laki-laki yang berada di belakang wanita cantik yang Salma kenal sebagai adik iparnya.
"Salma kenalkan, Ini Haidar anak kedua Bunda. Dia saudara kembar Haiman, emang gak mirip soalnya mereka gak kembar identik jadi orang-orang gak akan tau kalau mereka itu cuman beda lima menit" Ucap Ira sambil terkekeh saat memperkenalkan Haidar pada Salma saat bocah laki-laki itu sudah berdiri tepat di sebrang tempat duduknya.
"Bunda denger dari Haiman kalau kamu mengajar di tempat dia, pasti kamu juga sering ketemu Haidar ya. Dia ini langganan guru BK. Bunda sampe bosan masuk ruangan guru itu." Lanjut Ira sambil terkekeh memperkenalkan Haidar.
"Haidar." Ucapnya mengenalkan diri, bahkan Haidar menyodorkan tangannya seperti orang yang baru pertama kali kenal, bahkan wajah usil Haidar tidak lagi terlihat. Hanya wajah dingin yang memancar dari Haidar.
Haidar pun kembali menarik tangannya saat Salma tak meresponnya dan malah menatapnya, membuat orang yang berada di sana terbingung-bingung.
Salma pun mengerjap, dia melihat sekeliling yang sedang menatapnya.
Dia masih tak percaya dengan yang terjadi didepan matanya itu.
Jadi ini yang membuat kedua terdiam membisu saat berada di rumahnya tadi. Mereka memang saling kenal, bukan!! Mereka bukan hanya saling kenal tapi mereka memang adik kakak.
Salma melihat wajah Haiman, wajah Haiman masih diam memancarkan aura yang dingin.yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Haiman terus saja menatap Haidar seakan ingin memakannya saat itu juga. Dia lalu kembali menatap Haidar yang menunduk.
"Jadi kalian adik-kakak?" gumam Salma pelan, kenapa dia tak pernah menyadari semua ini. Padahal meskipun tak kembar indentik tapi kalau di perhatian mereka ini cukup mirip..
"Ini Adek aku yang kedua, tampan kan. Kaya aku." Ucap Haiman langsung merangkul bahu Haidar, tersenyum menyeringai saat melihat raut wajah Haidar yang sedikit berubah.
drrttt.drttttt...
Hp di atas meja pun berdering, Haiman pun melihat siapa yang menelponnya.
"Siapa Bang?" Tanya Ira.
"Ayah."
"Bentar ya, Abang angkat telpon dulu" Haiman pun pergi meninggalkan ruang tamu untuk mengangkat telpon dari Ayahnya.
Setelah kepergian Haiman, Ira pun pergi ke kamarnya begitu pun dengan Hanna yang sudah ngacir tak tau kemana.
Salma dan Haidar pun duduk berhadapan, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka.
Bingung, ya mereka bingung harus bertanya mulai dari mana.
Bahkan Haidar yang selalu pecicilan pada Salma pun kini hanya diam membisu. Salma masih tak menyangka kalau Haidar itu adiknya Haiman.
"Maaf." Salma pun mendongak menatap Haidar yang membuka suara.
"Maaf, Saya sudah menganggu hidup Ibu. Soal setiap ucapan Saya__" Haidar menjeda ucapannya " Saya Harap Ibu tidak memasukannya dalam hati, ucapan Saya yang menyukai Ibu, dan akan menikung kekasih Ibu sebelum janur kuning melengkung."
Salma menatap Haidar, laki-laki itu hanya menunduk. Dia menghela nafas.
"Saya minta maaf atas semuanya, anggap saja Saya dan Ibu tidak pernah saling sapa sebelumnya."
Salma hanya mengangguk, setelah berkata seperti itu. Haidar pun berpamitan. Tak lama terdengar suara sepatu yang mendekat ke arahnya.
Salma mendongak melihat kedatangan Haiman, tatapan matanya berubah. Terlihat kesedihan di balik tatapan itu. Entah Salma tak tau, tapi sejak awal dia tak pernah memberikan Haidar ruang untuk hadir di hidupnya atau dia tak merasa.
"Aku gak tau kalau kalian selama ini adik kakak, kalian terlalu beda." ucap Salma.
Haiman tersenyum tipis, dia duduk di samping Salma. Matanya menatap foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Di foto itu dia sedang merangkul Haidar.
Dari kecil perbedaan mereka begitu mencolok, meskipun kembar. Selera mereka tentu saja berbeda. Haidar tak pernah mau memakai barang yang sama begitu pun dengan dirinya.
Tapi kali Haiman ragu..
Apa selera mereka masih beda, atau selama ini tak ada yang beda hanya saling mengalah saja..
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Jodoh!! (End)
Teen FictionJangan Lupa Baca cerita istri kedua sebelum membaca ini ya. __________ Alasan apa lagi kamu manjat tembok?" "Telat pak." Jawabnya santai. "Telat?" "Iya." "BAGAIMANA BISA,HAH.APA KAMU TIDAK MEMASANG ALARM, ATAU ORANG TUAMU TIDAK MEMBANGUNKANMMU?" Ha...
