Haidar masuk kedalam kamarnya dengan wajah yang di tekuk, kamarnya berantakan. Tak sedikit dia berniat membereskan kamarnya.
Dia memejamkan matanya.
Tubuhnya lemas, dia menatap langit-langit kamar. Matanya mulai terpejam tapi kembali terbuka saat kasur disampingnya tiba-tiba terguncang.
Hanna tidur di samping Haidar, dia melakukan hal yang sama seperti Haidar, menatap langit-langit kamar.
"Beresin semua foto-fotonya, sebelum Bunda dan Ayah tau." Ucap Hanna dingin, membuat Haidar yang menutup wajahnya dengan tangan pun menoleh ke arah adiknya.
"Dek."
"Maaf Kak, tapi Hanna gak sengaja denger." Hanna menoleh ke arah Haidar yang sedang menatapnya. Hanna mengubah posisinya menjadi terduduk.
"Aku harap semuanya akan kembali baik-baik saja setelah ini." ujarnya, Hanna pun pergi meninggalkan kamar Haidar.
Haidar menatap punggung Hanna yang keluar dari kamarnya, dia menghela nafas lalu beranjak dari duduknya.
Haidar mengunci pintu, mengambil kardus untuk menyimpan barang-barang yang berkaitan dengan Salma
Padahal Haidar baru saja mencuci banyak sekali foto panroid, tapi sekarang dia memasukan foto-foto itu kedalam kardus.
Buku diary tentang Salma kini ikut masuk kedalam kardus, Haidar menonton vidio saat dia kemping dengan Salma dimana dia mendekomentasi perjalanan mereka, Dan sekarang Haidar akan membuang semua kenangan ini, membuang perasaan yang terus saja membara dihatinya.
Biarlah dia mencintai dalam diam, tanpa orang lain tau..
***
Haiman mengantarkan kekasihnya pulang, dia baru sampai lagi ke rumah setelah tengah malam. Dia hanya ingin menenangkan diri.
Menatap jalanan yang berlalu lalang, tapi tak membuat pikirannya tenang, dan sekarang dia hanya duduk diam di ruang tamu tanpa berniat beranjak dari sana.
Lampu ruang tamu yang sudah gelap tentu membuat siapa saja tidak tau kalau ada orang yang duduk di sana, tapi berbeda dengan Haiman yang bisa melihat pengerakan di sekelilingnya.
Seperti sekarang dia bisa melihat Haidar yang sedang mengambil air minum di dapur, dia hanya menatap punggung adiknya itu. Tubuhnya bergerak mendekati Haidar, tepat saat mendengar suara langkah mendekati Haidar pun menoleh.
"Bang." nafasnya terasa tercekat, apalagi Haiman hanya diam saja.
Haiman duduk di meja bar mengambil air minum, baju yang di pakai Haiman masih baju tadi siang. Yang artinya kalau Abangnya itu baru pulang.
"Tolong jauhi dia," Kali ini Haiman menatap Haidar.
Haidar menunduk, dia mencengkram gelasnya kencang.
"Lo gak usah khawatir, Bang. Gue gak akan ganggu Salma lagi."
Setelah mendengar jawaban Haidar, Haiman pun pergi menuju kamarnya.
***
Waktu terus saja berputar, bahkan semua persiapan sudah hampir rampung.
Haiman benar-benar menyiapkan acara pernikahan dengan sangat mewah, tak ada lagi acara lamaran. Karena dia harus secepatnya pergi keluar negeri untuk mengurus pendidikan. Dia berdiri memantau pekerja yang sedang mendekor hotel yang akan mereka gunakan untuk pesta dan Ijab kabul.
Menurutnya pernikahan sekali seumur hidup, jadi dia tak mau setengah-setengah menyiapkan semua ini meskipun harus menguras tabungannya.
Bahkan Haiman tidak ada lelah-lelah setelah pulang dari kantor atau dari kegiatan sekolah dia akan mengurus segala untuk acara pernikahannya.
"Ayo pulang, kamu harus istirahat." Sean menepuk bahu Haiman.
"Ayo, Ayah."
Sepanjang jalan Haiman terus saja diam, Sean yang seorang Ayah merasakan ada yang tidak beres dengan anaknya ini.
"Apa paspor sama visa kamu sudah beres?" tanya Sean.
"Sudah, Yah."
"Apa punya istri kamu juga sudah beres, kamu gak berniat meninggalkan dia setelah ijab kabulkan." ucapnya sambil melirik ke arah anaknya. Bukannya menjawab, Haiman hanya diam saja menatap jalanan.
"Jangan mempermainkan pernikahan, Nak. Ayah tidak mau kamu jadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab."
Haiman menoleh ke arah Ayahnya, lalu menunduk.
***
Haiman menaiki tangga menuju kamarnya, langkah kakinya memelan saat dia melewati kamar Haidar. Dia menoleh ke kanan kiri lalu masuk ke dalam kamar itu, tak lupa dia pun menutup pintunya.
Tak ada yang aneh dari kamar Haidar, cat abu-abu dengan banyak poster. Komputer di atas meja dan stik game.
Bekas cemilan yang berantakan di lantai, Haiman duduk di ranjang kamar Haidar. Dia tak pernah masuk ke dalam kamar adiknya ini, tapi hari ini entah kenapa dia ingin masuk ke sini.
Dugg..
Tak sengaja tumitnya menyentuh sesuatu yang di simpan di bawa ranjang, dia pun menunduk. Keningnya mengerut melihat kardus yang di simpan di bawah ranjang.
Haiman pun menarik kardus itu, disana terdapat Handycam dan satu kota kecil yang Haiman tak tau apa isinya.
Karena kepo, Haiman pun membuka Handycam itu.
Disana Haidar merekam perjalan kempingnya, dimana disana Haidar merekam kesenangannya saat kemping, bahkan Haiman yang menonton pun dibuat terkekeh.
Namun senyumannya memudar saat melihat vidio penutup, dimana di sana Haidar terus saja menggoda Salma.
Haiman melihat wajah bahagia Salma saat teman-teman Haidar menyoraki mereka.
Bahkan tidak Haiman lihat senyuman itu saat dia memasangkan cincin berlian di tangan Salma.
Ingatan Haiman langsung kembali dimana Salma bercerita sering di ganggu muridnya, bahkan setiap Haiman pulang bersama Salma. Salma akan bercerita hal yang sama.
Haiman merogoh lagi kotak didalam kardus, Lagi-lagi mata Haiman dibuat terkejut.
Dengan foto-foto polaroid Salma yang begitu terlihat bahagia, bahkan ada beberapa foto bersama Haidar.
Haiman terkekeh melihat semua ini, semuanya teramat lucu untuk hatinya.
Salma sering menceritakan muridnya yang ternyata Haidar, dan Haidar yang selalu dia doakan berjodoh dengan gurunya itu.
Kenapa?
Kenapa harus Haidar.
Haiman menyimpan kembali barang-barang itu ke dalam kardus dengan perasaan pilu.
"Bang." panggil Haidar yang baru saja datang, tubuhnya kaku saat melihat Haiman baru saja memasukan kardus ke bawah ranjang.
Haiman menoleh, dia tersenyum tipis ke arah Haidar. Tapi dada Haidar begitu sesak melihat senyum itu.
Dia merasa malu, kecewa pada dirinya sendiri karena sudah menyakiti Kakaknya.
Haiman pun melangkah mendekati Haidar, dia menepuk bahu Haidar.
"Tolong bakar semua itu." ucapnya pelan, lalu pergi dari kamar Haidar.
Tak ada yang tau kalau hatinya begitu sesak, Haidar mengenggam tangannya kuat sampai buku-buku tangannya memutih.
Haidar langsung luruh saat pintu kamarnya di tutup oleh Haiman, dia benar-benar merasa bersalah pada Kakaknya. Bagaimanapun Haiman begitu baik, tak pernah mencolok dirinya meskipun dirinya nakal tapi dia malah mengecewakan Abangnya itu yang sudah sangat menyayanginya.
Tak berbeda jauh, setelah dari kamar Haidar. Haiman langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Dia saja yang sudah berhubung lama dengan Salma tak punya foto-foto perempuan itu karena mereka memang jarang pergi keluar. Lebih tepatnya mereka terlalu merahasiakan hubungan ini.
Sampai tak sadar, ternyata tak apa hubungan mereka di umbar .
Tapi rasanya semuanya sudah terlambat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Jodoh!! (End)
Novela JuvenilJangan Lupa Baca cerita istri kedua sebelum membaca ini ya. __________ Alasan apa lagi kamu manjat tembok?" "Telat pak." Jawabnya santai. "Telat?" "Iya." "BAGAIMANA BISA,HAH.APA KAMU TIDAK MEMASANG ALARM, ATAU ORANG TUAMU TIDAK MEMBANGUNKANMMU?" Ha...
