Angin berhembus begitu kencang pagi ini dengan gerimis yang tak kunjung berhenti.
Suasana sejuk dan dingin bercampur menjadi satu.
Mungkin untuk pengantin baru memang sangat cocok tapi tidak untuk Haidar yang Jones ini, dia menghela nafas menoleh ke belakang melihat koper yang sudah dia siapkan malam.
Selepas acara, dia langsung pulang ke rumah karena harus menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa.
Dia tak bisa terlalu lama di sini, bukan karena frustasi. Kadang menghindari masalah memang perlu.
Tok
Tok
"Masuk."
Haidar yang sedang membereskan barang-barang kecil yang akan di bawanya pun mendongak. Alisnya menaut saat melihat Abangnya masuk ke kamar.
Haiman hanya diam saja melihat Haidar, dia juga melihat koper yang sudah rapi tak jauh dari sana.
"Ada apa, Bang?" tanya Haidar, meskipun mereka hanya beda beberapa menit. Haidar selalu sopan padanya.
"Kamu mau berangkat sekarang?" tanyanya.
"Iya, aku terbang setelah dzuhur." jawabnya.
Haiman menghela nafas, dia menggerakkan kursi rodanya mendekati Haidar. Matanya menatap air hujan yang kini mengembun di jendela.
"Lihat kamu pergi buru-buru kaya gini, bikin Abang merasa bersalah." ucapnya.
Haidar menghela nafas, harusnya dirinya yang merasa seperti itu. Karena dirinya pengganggu di antara mereka.
"Abang ini bicara apa sih, kalian itukan sudah punya hubungan dari lama. Lagian aku saat itu hanya main-main saja, cuman bercanda. Abang gak usah di ambil hati, Aku minta maaf karena bikin Abang gak nyaman."
Haiman hanya terdiam sambil tersenyum tipis ke arah Haidar.
"Hati-hati di jalan ya, Abang gak bisa ikut nganterin kamu."
"Iya Bang, cepet sembuh ya."
"Hem."
Haiman pun keluar dari kamar Haidar, di luar kamar ternyata sudah ada Salma yang sedang berdiri.
"Ayo Mas." Salma pun mendorong kursi roda suaminya. Dia menoleh ke arah pintu belakang sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
***
Ira dan Sean kini harus melepaskan anak keduanya, mereka hanya bisa menghela nafas. Anak-anaknya satu-persatu pergi mengejar cita-cita mereka.
Untung saja masih ada Hanna yang menemani mereka.
"Kalau sudah sampai kasih kabar ya, Kak."
"Iya Bun."
"Belajar yang bener ya,".
"Siap Yah, jangan lupa ya transfer buat bayar kosan."
"Dasar semprul, sana deh buruan. Ada kamu bikin pusing aja."
Haidar terkekeh mendengar ucapan Ayahnya, dia pun memeluk Ibunya sebelum memeluk Ayahnya.
Sean mengusap sudut matanya, jangan sampai anaknya melihat. Bisa di ledek habis-habisan dirinya.
"Aku minta maaf ya kalau ada salah, maaf buat kalian repot. Aku pergi dulu."
"Hati-hati nak, jangan lupa hubungi bunda kalau sudah sampai."
Haidar mengangguk, sambil menyeret kopernya. Dia tersenyum tipis sebelum benar-benar masuk. .
Senyum tipis kini menghiasi wajahnya, dia bahagia melihat orang yang di cintai bisa bahagia. Apalagi orang yang membahagiakan Abangnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Jodoh!! (End)
Novela JuvenilJangan Lupa Baca cerita istri kedua sebelum membaca ini ya. __________ Alasan apa lagi kamu manjat tembok?" "Telat pak." Jawabnya santai. "Telat?" "Iya." "BAGAIMANA BISA,HAH.APA KAMU TIDAK MEMASANG ALARM, ATAU ORANG TUAMU TIDAK MEMBANGUNKANMMU?" Ha...
