"Abang kecelakaan."
Deg
deg
Jantung Haidar terasa berdetak dengan sangat cepat saat mendengar penuturan Hanna.
"Han, yang serius kamu."
Bukannya menjawab Hanna malah terisak sambil memeluk Ibunya. Haidar yang tak mau percaya begitu saja pun menyalakan televisi.
Siaran demi siaran dia gulir hanya untuk memastikan omongan Hanna tidak benar, tapi saat siaran terakhir. Dia melihat mobil itu, mobil yang sering Abangnya pakek. Bahkan terlihat jelas flat mobil itu.
Tubuhnya lemas sampai dia tak bisa menopang dirinya sendiri.
Brukk..
Haidar menoleh saat mendengar suara jatuh, matanya membola melihat sang Ibu yang sudah tak sadarkan diri.
"Bunda"
Sean langsung mengendong Istri, dia menidurkan Ira di sofa. Hanna sibuk mencari minyak kayu putih tak berbeda jauh dengan Haidar yang mencoba membangunkan Ibunya.
Mata Ira perlahan terbuka, tangis pilu kembali terdengar. Dia langsung memeluk suaminya.
"Mas, ayo kita kerumah sakit. Itu pasti bukan Haiman. Anak kita pasti sehat-sehat saja kan." lirihnya.
Hati Haidar begitu hancur melihat Ibunya yang seperti itu, dia pun mundur dan mundur semakin jauh meninggalkan orang tuanya yang masih kalut.
Dia harus memastikan sendiri ke rumah sakit kalau itu memang bukan Abangnya.
Namun harapan hanya harapan karena saat dia sampai di rumah sakit, ternyata itu memang Abangnya bahkan polisi yang mengurus pun masih berjaga menunggu keluarga korban.
"Bang."
"Bang, Maafin gue." lirihnya, tubuhnya lemas melihat alat-alat yang menempel di tubuh Abangnya.
Seakan semua energinya tersedot habis. Mengetahui kenyataan yang memilukan ini, padahal tadi malam dia masih melihat Abangnya meskipun keadannya memang tidak baik, Haidar tak menyangka kalau pagi ini dia melihat Abangnya dengan keadaan yang berbeda pula.
"Selamat Pagi, dengan keluarga korban." Haidar mendongak saat polisi berdiri tak jauh dari sampingnya.
"Iya, "
"Ini, saya mau ngasih barang dan hp korban. Sedari tadi terus saja berbunyi. Mungkin itu kekasihnya."
Haidar menerima barang-barang Abangnya yang di berikan polisi, hanya dompet yang berisi sim dan ktp juga beberapa kartu di dalamnya. Dia menatap Hp kakaknya, dia sana hp itu sudah retak tak bisa di sentuh. Tapi masih menyala.
Terlihat wallpaper foto Haiman dan Salma di salah satu studio box, hati Haidar begitu pilu. Apa dirinya begitu tega menyakiti Abangnya, yang begitu mencintai kekasihnya itu.
Dia benar-benar begitu jahat karena dulu berniat menikung kekasih Abangnya sendiri. Dia kembali mendongak menatap Abangnya yang bertahan antara hidup dan mati dengan alat-alat yang merekat di tubuhnya.
"Maafin gue Bang, lo harus bangun. Katanya lo mau nikah sama pacar lo. Kalau lo gak bangun nanti Salma beneran gue tikung." ucap Haidar, tapi terdengar kepiluan di setiap ucapan itu.
Haidar menoleh saat mendengar suara tangisan Ibunya yang sedang berlari ke arah ruangan Haiman, di susul dengan Ayah, Hanna dan Salma di belakangnya.
Haidar langsung bergeser saat Ibunya langsung masuk ke ruangan Abangnya, dia hanya terdiam melihat mereka yang kini menangis.
Haidar yang selama ini tak membiarkan orang-orang terkasihnya menangis kini hanya diam saja, bahkan tak mencoba menenangkan mereka.
Apalagi dia melihat bagaimana sedihnya Salma melihat Haiman seperti itu, dia tersenyum.
Sedari awal memang dirinya yang penganggu di antara hubungan mereka, padahal mereka saling menyayangi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Jodoh!! (End)
Novela JuvenilJangan Lupa Baca cerita istri kedua sebelum membaca ini ya. __________ Alasan apa lagi kamu manjat tembok?" "Telat pak." Jawabnya santai. "Telat?" "Iya." "BAGAIMANA BISA,HAH.APA KAMU TIDAK MEMASANG ALARM, ATAU ORANG TUAMU TIDAK MEMBANGUNKANMMU?" Ha...
