Bab 3 √

566 51 0
                                        

Suasana pagi kini terasa berbeda karena seseorang yang sudah duduk dengan tampannya.

Ira melirik Suaminya, menatap satu persatu anaknya yang sedang menatapnya juga.

Tidak biasanya Haidar sudah duduk anteng di meja makan, padahal biasanya masih tidur. Kalau gak lagi main game di kamar mandi sampai jam tujuh.

"Kamu sehatkan?" Tanya Ira pada Haidar, kening Haidar mengerut heran. Dia menatap satu persatu orang di meja makan yang sedang menatapnya juga.

"Baik, kenapa emang Bun?"

"Kamu gak lagi bikin salahkan?"

"Bunda ngomong apaan sih, ya nggaklah."

"Oh syukur deh, lagian tumben banget jam segini udah rapih." Ucapnya sambil menghela nafas lega, terdengar suara cekikikan Hanna dan Haiman.

Haidar mendengus sebal, padahal dia sudah mau berubah tapi malah di sangka ada maunya.

"Dek, lu mau berangkat bareng kaka, apa sama Abang." Tanya Haidar pada Hanna.

"Sama Abang aja, kalau sama Kaka. Kakak suka godain temen-temen aku."

Ira mengelengkan kepalanya, benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.

"Bun, Kaka berangkat dulu. ." Ucapnya pamit, Haidar pun menyalami kedua orang tuanya lalu pergi dari sana meninggalkan orang-orang yang menatap heran ke arah Haidar. Apa hari ini April mop, kenapa Haidar jadi berubah.

"Kenapa tuh anak?' Tanya Sean bingung.

" Bunda juga gak tau, Yah." Sahutnya masih menatap kepergian Haidar.

"Bun, yah. Aku juga pamit ya."

***

Haidar melajukan motornya dengan kecepatan sedang, malah bisa terbilang pelan. Dia sengaja tak memakai motor Ninjanya. Dia memakai motor metic keluaran terbaru dengan body yang besar dan nyaman.

srrrrrrttttt...

Haidar langsung mengerem motornya, saat melihat target di depan matanya, dia bahkan seperti melihat mutiara di lautan saja karena saking berbinarnya saat melihat Salma.

Haidar memberhentikan motornya di depan Salma, dengan gaya nyelenehnya dia pun menghampiri Salma.

"Pagi, Bu guru cantik."

Salma mengerutkan keningnya, dia menatap Haidar lalu ke motornya. Bukan dia matre, tapi muridnya ini hari ini ganti motor.

"Mau berangkat bareng, Bu?"

"Tidak usah, sebentar lagi juga datang ko angkotnya." Jawab Salma.

"Mending bareng saya aja buat, gratis ko." ujarnya, tapi Salma kembali menolak dengan alasan sebentar lagi angkot datang.

Mau tak mau Haidar pun ikut duduk menunggu angkot, ternyata benar. tak lama angkot pun datang.

"Saya duluan." Pamit Salma masuk kedalam angkot, setelah melihat kepergian Salma. Haidar mengikuti angkot itu dengan motornya, senyuman mengembang melihat Salma yang ternyata duduk di kursi belakang hingga wajahnya nampak di jendela angkot.

Sepanjang perjalanan Haidar mengikuti Salma, tak mau kenapa-napa dengan calon ibu anak-anaknya.
Ya begitulah katanya.
Setelah melihat Salma sampai dengan selamat, Haidar pun membelokan motornya ke warung belakang sekolahnya, kemana lagi kalau bukan ke warung mang Odang.
Jono menatap tak percaya pada Haidar yang sudah berangkat sepagi ini, padahal laki-laki itu selalu berangkat telat.

"Mang, kopi 1." Ucap Haidar sambil menyomot gorengan dan memakannya.

"Tumben lu, udah berangkat?"

"Gabut gue dirumah, jadi berangkat pagi deh." Sahutnya santai. Sambil memakan goreng, dia kembali mengambil gorengan tapi keburu di tepuk mang Odang.

Hai, Jodoh!! (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang