REVISI KALO UDAH TAMAT! DIVOTE!! JANGAN BACA DOANG ELAH!
JAN PLAGIAT! HARGAIN AUTHOR YANG BIKIN YE!!!
PLAGIAT JAUH-JAUH DARI LAPAK SAYA, SAYA GAK BUTUH PLAGIAT🚫 ⚠️⚠️⚠️
JANGAN BAWA-BAWA CERITA LAIN KE LAPAK INI KALO GAK MAU DISEMPROT AUTHOR ✔️✔️
IYA...
Lelah, bahkan sangat lelah. Sampai aku tidak tau harus bagaimana caranya untuk menghentikan ini. Menangis, mungkin air mataku sudah tidak bisa di tampung lagi, saking letihnya akibat menangis. -aqila
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading...
Qila memarkirkan motornya di sebuah parkiran cafe. Ia masuk ke dalam cafe yang bernama 'love coffee' itu.
Memang setelah ia pulang dari rumah miya, ia tidak langsung pulang ke rumahnya.
Malam ini qila lebih memilih untuk makan malam di cafe itu. Qila makan dengan tenang tanpa ada yang menemani, ia bisa melihat banyak anak muda yang seumuran dengan nya juga banyak yang berkunjung ke love caffee itu.
Baik itu hanya sekedar nongkrong, ada yang juga dengan pasangannya.
Qila sudah selesai dengan acara makannya, ia memejamkan matanya mendengar seorang yang bernyanyi di cafe itu
Sudah lama saling tahu🎶 Kenal lebih dulu Bahkan ceritamu ceritaku kau tahu.
Kamu teman ku dari dulu🎶 Tiap hari bertemu Namun bagaimana bisa timbul rasa
Jatuh cinta seperti air mata🎶 Jatuh mengalir begitu saja Dilawan susah dihindari tak bisa Semakin ku tahan semakin menggetarkan
Namun sialnya mengapa aku🎶 Jatuh cinta padamu yang teman ku Ditahan susah Dihindari tak bisa Cinta tak ada yang tahu
Sulit buat ku hindari waktu cinta🎶 memang tak ada yang tahu
Setiap lirik yang ia dengar mampu membuat hatinya berdesir. Lagu yang dinyanyikan itu seperti kisah cintanya.
Ya, qila mencintai sahabat nya sendiri. Orang yang selalu ada di saat ia terpuruk rapuh, orang yang selalu bisa membuat hatinya tak karuan bila berdekatan.
Namun akankah, sahabatnya juga merasakan apa yang selama ini ia rasakan? Atau hanya menganggap qila sebatas sahabat nya saja?
Entahlah ia sendiri juga tidak tahu, namun ingin sekali rasa itu dibalas kembali oleh sahabat nya, vano.
1 jam qila menghabiskan waktunya di cafe itu, kini ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Qila segera membayar makanan dan minuman yang qila beli tadi, lalu keluar dari cafe.